Yiran kembali menoleh ke arah barisan kelas Raina. Pagi itu matahari sudah mulai terasa menyengat meski jam masih belum terlalu siang. Lapangan sekolah dipenuhi suara langkah sepatu yang bergeser merapikan barisan, bunyi peluit guru, dan obrolan kecil murid-murid yang perlahan mereda menjelang upacara dimulai. Matanya menyisir satu per satu wajah yang berdiri di sana, mencari sosok yang sejak tadi tak kunjung ia temukan. Semakin lama pandangannya bergerak, semakin terasa berat napas yang tertahan di dadanya.
Upacara hampir dimulai. Barisan murid mulai dirapikan, suara pembina terdengar samar dari depan lapangan, namun Raina tetap belum terlihat juga.
Entah kenapa, hal itu terus mengusik pikirannya sejak tadi pagi.
Tatapannya kembali menyapu kerumunan siswa untuk terakhir kali, seolah berharap gadis itu tiba-tiba muncul dari sela-sela barisan sambil tersenyum seperti biasa.
Di sisi lain, Tami dan Duna kini ikut saling berbisik pelan. Beberapa waktu lalu, saat Yiran mendatangi kelas mereka dan menanyakan keberadaan Raina, keduanya masih menjawab dengan yakin kalau kemungkinan Raina hanya terlambat. Mereka berpikir begitu karena biasanya kalau tidak masuk sekolah, Raina pasti memberi kabar lebih dulu.
Namun sekarang mereka mulai ragu.
Tak mungkin Raina terlambat sampai jam segini.
Sementara itu, Yiran terus bolak-balik membuka ruang obrolannya dengan Raina. Jemarinya bergerak gelisah di layar ponsel yang sejak tadi tak memberinya jawaban apa pun. Tak ada satupun pesan yang ia kirim sejak semalam dibaca, apalagi dibalas. Perasaannya semakin tidak enak.
Tak mau terus menahan gelisah, Yiran langsung menekan nomor Raina dan meneleponnya.
Namun sesaat kemudian matanya membelalak lebar.
Bukan suara Raina yang terdengar, melainkan suara operator yang mengatakan bahwa nomor yang ia tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.
Rahang Yiran langsung menegang. Tangannya mengepal gusar sementara pikirannya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan buruk yang tak bisa ia hentikan.
Kavi yang berdiri di sebelahnya sejak tadi diam-diam memperhatikan. Awalnya ia memang tak berniat mencari tahu, tetapi gelagat Yiran terlalu kentara hingga tanpa sadar membuatnya terus mengawasi.
Sepanjang upacara berlangsung, Yiran tak berhenti mencoba menghubungi nomor Raina. Ia juga mengirim beberapa pesan lagi, tetapi semuanya tetap tak terkirim.
Dan begitu upacara selesai, ia langsung bergegas menghampiri Tami dan Duna. Kembali menanyakan apakah mereka sudah mendapat kabar dari Raina.
Namun kedua gadis itu justru tampak sama bingung dan khawatirnya.
“Gita juga nggak bisa dihubungin,” geleng Tami sambil memeluk topi di dadanya.
“Padahal Gita selalu bisa dihubungin tiap kali kita susah ngehubungin Raina,” timpal Duna dengan wajah cemas.
Mendengar ucapan kedua sahabat Raina itu, kecemasan Yiran semakin menjadi-jadi. Ia langsung bergegas keluar lapangan lalu kembali ke kelasnya untuk mengambil tas. Langkahnya cepat dan tergesa, sampai beberapa kali hampir menabrak orang di koridor yang masih ramai oleh murid-murid selesai upacara.
Bolak-balik melewati Kavi yang sedang berdiri di depan pintu kelas sambil berbicara dengan Mia, ketua kelas Raina.
“Kav? Kav?” panggil Mia beberapa kali saat Kavi tak juga merespons pertanyaannya.
“Eh, iya, sorry!” Kavi tersadar lalu buru-buru merapikan kertas hasil ujian di tangannya. “Oke nanti gue coba tanya ke Bu Findy.”
“Eh! Mia!”
Kavi kembali memanggil saat Mia terlihat hendak masuk ke kelasnya.
“Apaan?” Mia berbalik lalu berjalan mendekat lagi.
“Raina nggak masuk hari ini?” bisik Kavi pelan, memastikan tak ada orang lain yang mendengar.