AS LOVE GOES BY

Arisyifa Siregar
Chapter #21

21. Tersiksa Kerinduan

Suasana begitu suram seakan awan hitam pekat memenuhi seisi ruangan. Bunyi mesin monitor yang sebelumnya terus berdetak kini berubah menjadi nada panjang yang menusuk telinga, bercampur dengan udara dingin ruang ICU yang terasa menyesakkan.

Duka menggelegar dan menyambar tanpa ampun hingga semua yang ada tak kuasa menahan rasa sakit yang muncul tiba-tiba di hati dan tubuh mereka.

Yani meraung-raung. Tangisnya tumpah ruah, pecah tanpa bisa ditahan lagi. Tubuh wanita itu sampai membungkuk lemas di samping ranjang pasien. Gita memeluknya erat-erat sambil ikut menangis, air mata deras membanjiri wajahnya.

Di sisi lain tempat tidur, Raina berdiri mematung. Matanya kosong menatap tubuh ayahnya yang baru saja dinyatakan meninggal dunia oleh dokter.

Dunia di sekitarnya terasa sunyi.

Samar-samar ia hanya mendengar suara isak tangis dan langkah kaki suster yang bergerak mondar-mandir di dalam ruangan.

Heru merangkul keponakan satu-satunya itu dari samping. Dan di dalam pelukan pamannya, pertahanan Raina akhirnya runtuh.

“Papa, Om… Papaaaaa…!” jeritnya lirih parau.

Heru mengelus punggung Raina berkali-kali sambil ikut menangis. Dadanya terasa sesak melihat nasib gadis itu. Keponakannya yang sejak kecil sudah kehilangan ibu kini kembali dipaksa kehilangan satu-satunya orang tua yang tersisa di usia yang bahkan masih terlalu muda untuk memahami semua rasa sakit ini.

“Sabar… sabar…” ucap Heru dengan suara bergetar. “Ikhlasin… seenggaknya papamu udah nggak sakit lagi…”

Namun bahkan Heru sendiri tahu kalimat itu tak mungkin cukup untuk menenangkan siapapun saat ini.

Tangis Raina berubah menjadi rintihan kecil yang memilukan.

Tubuhnya gemetar hebat ketika suster perlahan menutup tubuh ayahnya dengan kain putih. Kain itu menutupi wajah yang beberapa jam lalu masih terus mereka harapkan bisa membuka mata lagi.

Dan di detik itu, sesuatu dalam diri Raina seperti ikut runtuh. Pandangan matanya mulai kabur. Kakinya kehilangan tenaga. Tubuhnya lunglai sebelum akhirnya jatuh pingsan di pelukan Heru.

“Raina!”

Gita dan Yani langsung berlari menghampiri. Dengan panik mereka membantu Heru menopang tubuh Raina lalu membawanya keluar ruangan, membaringkannya di sofa tunggu.

Keadaan mereka semua sama menyedihkannya.

Semalaman tak ada satupun dari mereka yang tidur. Mereka terus bergantian berdoa, berharap pria itu membuka mata dan kembali sadar.

Namun tepat pukul dua belas siang tadi, napas terakhir ayah Raina akhirnya berhenti.

Ia pergi tanpa sempat mengatakan apapun pada keluarganya yang telah ia tinggalkan berbulan-bulan.

***

Beberapa menit lalu Kavi yang melewati jalan di depan gang rumah Raina terdorong untuk turun dari mobilnya dan mampir untuk mengecek keadaan. Langit sore tampak mendung pucat, udara terasa lembab setelah hujan kecil yang turun sebelumnya, sementara gang sempit di depan rumah Raina terlihat jauh lebih sepi dari biasanya. Kini ia bergerak ragu-ragu, bolak-balik di depan rumah Raina sambil menimbang apakah hal ini pantas untuk dia lakukan mengingat dia sudah bukan siapa-siapa lagi bagi Raina.

Tapi Raina sudah dua hari tak datang ke sekolah.

Ia juga mendapati Yiran, Tami, dan Duna masih belum tahu kabar tentang Raina. Bahkan saat ia diam-diam menanyakan ke Mia, gadis itu juga bilang tidak ada kabar lagi dari Raina. Mia malah ikut mengawasi obrolan Tami dan Duna diam-diam karena merasa ada sesuatu yang tak beres.

Hal itu membuat Kavi ikut resah.

Seberapa pun ia berusaha bersikap tak peduli, hatinya tetap khawatir tentang keadaan Raina.

Sekitar lima menit Kavi berdiri di depan pagar rumah itu. Dan tepat saat dirinya hendak kembali ke mobil, ia melihat seseorang muncul dari ujung gang dengan langkah tergesa.

Seorang bapak berpeci dengan kumis tipis. Dari jauh pria itu tampak sudah memperhatikan keberadaan Kavi.

Dengan penuh antisipasi, Kavi langsung menghampiri lebih dulu. “Temennya Raina, apa temen Gita?” tebak bapak itu.

Lihat selengkapnya