AS LOVE GOES BY

Arisyifa Siregar
Chapter #22

22. Akhir dari Cinta Sesaat

Di depan pintu rumah, Raina mematung. Lampu teras yang redup menyinari wajahnya yang pucat dan mata sembabnya, sementara udara malam terasa dingin setelah hujan sore tadi. Matanya menatap nanar ke arah Kavi yang berdiri beberapa langkah di depannya.

Tanpa mengatakan apa pun, Kavi langsung menghampiri lalu memeluk Raina erat.

Dan seketika itu juga, pertahanan Raina runtuh lagi. Tangisnya pecah tanpa bisa ditahan di pelukan Kavi yang sama sekali tak ia sangka akan muncul di hadapannya seperti ini.


Beberapa menit kemudian, setelah tangis Raina perlahan mereda, mereka duduk di pojok teras rumah yang sunyi. Dari dalam rumah terdengar samar suara orang-orang dewasa berbicara pelan dan sesekali isak tangis tertahan.

Kavi diam-diam menyapukan pandangannya ke pakaian yang dikenakan Raina. Baju yang sama saat gadis itu pergi ke taman bermain bersama Yiran. Pakaian yang jelas tak cocok dipakai di hari pemakaman seperti ini. Dan itu membuat Kavi sadar kalau selama dua hari terakhir Raina mungkin bahkan belum sempat mengurus dirinya sendiri.

“Ina…” panggil Kavi pelan saat Raina bersandar lemah pada tiang rumah. “Gue turut berduka cita.”

Raina hanya mengangguk kecil. Pikirannya kosong. Dadanya sakit. Ia sudah terlalu lelah menangis, tetapi air mata masih terus jatuh begitu saja tanpa bisa dihentikan.

Telapak tangan kiri Kavi mengepal pelan di atas lututnya. Ia ragu apakah sekarang waktu yang tepat, namun ia merasa harus mengatakan ini secepat mungkin.

“Ina…” panggilnya lagi.

Raina masih diam tanpa menoleh.

“Gue tahu mungkin ini bukan waktu yang tepat,” ucap Kavi hati-hati. “Tapi menurut gue… baiknya lu ngabarin Yiran. Dia bener-bener kebingungan nyariin lu.”

Begitu nama itu disebut, dada Raina terasa semakin sesak. Ia memejamkan mata rapat-rapat.

Bibir dan tangannya mulai gemetar lagi. Lalu perlahan ia menggeleng tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Melihat reaksi itu, Kavi langsung mengernyit bingung. Ia menggeser duduknya mendekat lalu sedikit menunduk untuk melihat wajah Raina lebih jelas. “Kenapa?” tanyanya pelan. “Lu harus kasih tahu dia.”

Namun Raina kembali menggeleng.

Perlahan ia membuka mata lalu berkata lirih, “Dia punya masa depan yang bagus, Kav. Dia diterima di universitas, prestasinya bagus, keluarganya sukses…”

Kavi mengerutkan dahi semakin dalam. “Terus kenapa?”

Raina menarik napas gemetar sebelum akhirnya berkata pelan, “Papa gue meninggal dengan status tersangka, Kav.”

Kavi langsung membelalak. Tubuhnya refleks kembali duduk tegak.

“Dia juga ninggalin banyak utang,” lanjut Raina dengan suara makin kecil. “Papa meninggal setelah berbulan-bulan kesakitan di penjara tanpa kasih tahu keluarganya… dan pergi tanpa kabar selamanya.”

Kalimat itu terdengar begitu pahit sampai membuat udara di sekitar mereka terasa makin berat.

Kini Raina menoleh dan menatap Kavi langsung dengan mata merah penuh luka. “Menurut lu gue masih punya waktu buat ngejar mimpi gue? Buat kuliah? Buat nepatin janji gue sama Yiran kuliah bareng?”

Napas Kavi tercekat. Ia sama sekali tak tahu harus menjawab apa. Bahkan hanya mendengarnya saja sudah terasa menyakitkan, apalagi bagi Raina yang benar-benar mengalaminya sendiri.

“Yang ada di pikiran gue sekarang cuma bersihin nama papa gue,” lanjut Raina lirih. “Ngelunasin semua utang ke rentenir sebelum mereka neror Gita dan Mama Yani lagi. Cari kerja. Dan bales budi ke Om Heru.”

Ia menundukkan kepala menatap lantai teras yang basah samar oleh air hujan. “Gue nggak bisa ceritain semua ini ke Yiran, Kav…”

Suaranya hampir pecah lagi. “Gue nggak mau ngerusak masa depan Yiran. Gue nggak mau jadi beban.” Bibirnya bergetar saat tersenyum pahit. “Biarin dia ngelupain gue… mumpung baru sehari kita pacaran.”

“Sorry, Na… sorry…” Kavi langsung merengkuh bahu Raina lalu menepuk lengannya pelan.

Mulutnya terasa kelu. Ia tak bisa memberi motivasi. Tak bisa mengucapkan kata-kata penghiburan kosong. Karena setelah mendengar semua ini, Kavi akhirnya mengerti kenapa Raina memilih menyembunyikan semuanya dari orang-orang lain. Dan kalau posisi mereka di balik, mungkin dirinya pun akan melakukan hal yang sama.

Karena itu, meskipun sebagian dirinya masih merasa kasihan pada Yiran yang terus mencari Raina tanpa tahu apa pun,  Kavi memilih mendukung keputusan Raina untuk bersikap egois kali ini.

Demi melindungi dirinya sendiri, agar lebih tenang.

***

Beberapa hari kemudian...


Lihat selengkapnya