Hari-hari Yiran habis di dalam kamar, tenggelam bersama keputusasaan yang perlahan menggerogoti semangat hidupnya sedikit demi sedikit. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, tetapi ia tetap tidak menemukan jawaban apa pun. Tidak ada kabar, tidak ada jejak, tidak ada penjelasan yang bisa menjelaskan kepergian Raina secara tiba-tiba dari hidupnya.
Bahkan sosok gadis itu mulai memudar dari ingatannya kalau saja Yiran tidak terus-menerus membuka foto-fotonya di ponsel. Menatap wajah yang kini hanya tinggal gambar diam di layar.
Ia sendiri sudah tampak jauh berbeda. Wajahnya pucat, lingkaran hitam menggelap di bawah mata, tubuhnya hidup tanpa benar-benar merasa hidup. Ia bahkan tak lagi mengenal hari atau waktu. Pagi dan malam terasa sama saja di kamar gelap tempat ia membuka dan menutup matanya setiap hari.
Terakhir kali ia datang ke rumah Raina, rumah itu ternyata sudah dijual. Pemilik barunya mengatakan ia buru-buru membelinya karena harga rumah tersebut jauh dibawah pasaran. Namun saat Yiran mencoba bertanya tentang penghuni sebelumnya, pria itu hanya menggeleng, mengaku selama proses jual beli ia berhubungan langsung dengan makelar. Dan ketika Yiran mendatangi makelar itu, jawabannya jelas, data penjual bersifat rahasia dan tidak bisa diberikan kepada siapa pun.
Nomor telepon Raina dan Gita pun sudah lama tidak aktif. Kemungkinan besar mereka sudah mengganti semuanya.
Pada akhirnya keadaan memaksa Yiran menerima kenyataan yang sejak awal mati-matian ia tolak. Raina tidak akan kembali. Dan yang paling menyiksanya bukan hanya kehilangan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa ia bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia tidak tahu di mana Raina berada sekarang, tidak tahu apakah gadis itu masih hidup dengan baik, tidak tahu apakah selama ini Raina pernah memikirkannya sama seperti dirinya.
Ketidaktahuan itu perlahan berubah menjadi luka paling menyakitkan yang pernah ia rasakan.
Pintu kamarnya diketuk pelan sebelum terbuka sedikit. Nadia menyelipkan kepala di antara celah pintu, menatap putranya yang masih berbaring diam di atas kasur sejak tadi pagi.
“Ran, makan dulu yuk,” ajaknya lembut.
Namun sama seperti hari-hari sebelumnya, tak ada jawaban. Yiran bahkan tidak bergerak sedikitpun untuk menoleh ke ibunya.
Setelah menunggu beberapa saat dalam keheningan yang terasa menyesakkan, Nadia akhirnya hanya mampu menghela napas pelan. Tatapannya sempat tertahan penuh khawatir sebelum ia kembali menutup pintu kamar itu perlahan.
Suara pintu menutup membuat kamar kembali tenggelam dalam sunyi. Yiran memejamkan mata. Di dalam kamar yang suram dan pengap itu, di atas kasur yang terasa semakin dingin dan kosong dari hari ke hari, pikirannya terasa berantakan.
Ia tahu Raina tidak akan datang saat acara kelulusan nanti. Bahkan sekarang ia sudah tidak berani berharap lagi. Harapan itu terlalu sering menjatuhkannya pada kekecewaan yang sama.
Matanya perlahan memanas.
Ada rasa sesak yang memenuhi dadanya setiap kali menyadari semuanya benar-benar telah berakhir tanpa penjelasan apapun. Bibirnya bergetar samar, sementara air di pelupuk matanya mulai jatuh satu per satu.
Ia tetap tidak bisa memahami keadaan.
Tidak bisa memahami bagaimana seseorang yang begitu memenuhi hidupnya dapat menghilang begitu saja, seolah semua yang pernah mereka lalui hanya mimpi yang selesai dalam semalam.
Yiran tahu hidupnya seharusnya terus berjalan. Ia tahu sebentar lagi ia harus bangkit dan memulai kehidupan perkuliahannya seperti orang-orang lain. Namun yang tidak ia tahu adalah bagaimana caranya memulai ketika sebagian besar dirinya terasa tertinggal di masa lalu.
Waktunya seakan berhenti sejak hari kepergian Raina.
Yang tersisa hanya kenangan-kenangan yang terus berputar di kepalanya tanpa henti, sementara cahaya dalam hidupnya perlahan meredup sedikit demi sedikit. Rasa bahagia yang dulu terasa begitu mudah kini seperti hilang, tenggelam bersama kerinduan yang tak pernah berhasil ia redam.
***
Tami menghentikan langkahnya di tengah lorong, ia menyipitkan matanya dan terus memperhatikan Kavi yang keluar dari ruang guru sambil membawa dua lembar kertas di tangannya.
Selama ini ia memang sudah memperhatikan, gelagat Kavi yang tampak mencurigakan, meskipun sulit untuk menjelaskannya dengan kata-kata ke Duna yang tak begitu paham isi pikirannya.
Ia mempercepat langkahnya, berlari mengejar Kavi yang terlihat berjalan ke arah lobi sekolah. Tanpa memanggil, tanpa peringatan, ia langsung merebut dua kertas yang ada di tangan Kavi dan membaca dengan cepat nama yang ada di masing-masing lembaran surat keterangan kelulusan itu.
“Voila!” gumamnya.
Dugaannya benar, satu punya Kavi, satu punya Raina.
Ia mengangkat wajahnya dengan mata berkilat, “Lu ceritain semuanya sekarang, atau gue kasih tau Yiran!” ancamnya tanpa basa-basi.
Kavi terkejut, tak tahu bahwa Tami gadis yang secerdik ini. Ternyata dia bisa membaca situasi dengan cepat dan menembak tepat sasaran.
Sadar tak ada cara untuk menghindar, ketimbang memperkeruh keadaan Kavi akhirnya mengangguk sambil menadahkan tangan minta berkasnya kembalikan. “Besok ikut gue ke Bandung.”
Kedua alis Tami terhentak bersamaan, “Bandung?”
“Minta nomor telepon lu!” Kavi menyodorkan ponselnya ke Tami. “Kirim alamat lu ke gue, besok pagi gue jemput,” tambahnya.
Sikap Kavi yang jantan, membuat Tami terpana. Sambil mengembalikan ponsel Kavi setelah memasukkan nomor teleponnya ia terus memandangi wajah Kavi yang langsung melakukan panggilan ke nomornya.
“Itu nomer gue,” ucap Kavi dingin.
“Besok, jam tujuh gue jemput,” imbuhnya tanpa ekspresi. Lalu berjalan meninggalkan Tami yang mematung di tempat.
“Sial!” Tami memegang dadanya yang deg-degan tak karuan.
“Kenapa? Kenapa tadi dia keren banget?” gumamnya terpesona.