Tiga tahun kemudian.
8 September 2018.
Yiran bergerak sedikit demi sedikit di tengah kilatan lampu kamera yang membidiknya tanpa henti. Studio pemotretan itu dipenuhi cahaya putih terang dari lampu-lampu besar yang membuat udara terasa panas meski AC menyala maksimal. Musik elektronik berdentum pelan dari speaker sudut ruangan sementara beberapa kru berlalu-lalang membawa properti dan mengganti set.
Di sebelahnya, seorang cewek berkulit coklat memeluk lengannya sambil tersenyum manis ke arah kamera. Yiran kemudian memiringkan kepala dan meletakkannya di atas kepala gadis itu dengan ekspresi lembut yang nyaris terlihat tulus. Beberapa kali mereka saling menatap dan tersenyum, tampak begitu mesra dan serasi sampai fotografer akhirnya berteriak keras, “Oke!”
Dan seketika itu juga ekspresi wajah Yiran berubah seratus delapan puluh derajat.
Tatapan penuh cinta yang tadi menghiasi matanya langsung lenyap tanpa sisa, berganti dingin dan tajam seperti biasa. Tanpa mengatakan apa pun, ia melepaskan diri lalu berjalan menjauh begitu saja. Cewek di sebelahnya langsung menggerutu sambil menatap punggung Yiran.
“Dasar psikopat!” umpatnya cukup keras hingga terdengar jelas.
Namun Yiran bahkan tak peduli.
“Yiran!”
Salah satu pengarah gaya buru-buru berlari mengejarnya. Cowok berambut gondrong itu tampak masih setengah panik sambil membawa clipboard di tangan. “Lu yakin nggak mau kontrak sama agensi itu?”
“Gak,” jawab Yiran singkat tanpa menghentikan langkah.
“Tapi bakat lu terlalu sia-sia kalau cuma jadi model part-time begini!” bujuknya lagi.
Namun Yiran tetap tak menanggapi.
Ia terus berjalan menuju ruang ganti, mengganti pakaiannya secepat mungkin lalu meninggalkan lokasi pemotretan tanpa pamit lagi pada siapa pun.
Sambil menghapus sisa make up di wajahnya menggunakan tisu basah, Yiran menyeberangi area parkir basement yang remang-remang lalu masuk ke SUV hitam miliknya yang terparkir dekat pintu keluar.
Begitu pintu mobil tertutup, suasana langsung sunyi.
Yiran menyandarkan kepala ke kursi sebentar sebelum akhirnya mengambil ponsel dari dalam tas lalu mulai mengecek pesan-pesan yang masuk.
Namun baru beberapa detik membaca, dahinya langsung berkerut kesal.
“Ck.”
Namanya dimasukkan ke daftar panitia penerimaan mahasiswa baru kampus.
Tanpa pikir panjang, ia langsung mencari satu kontak lalu menelepon. “Kenapa lu masukin gue ke panitia?” cecarnya begitu panggilan tersambung.
“Lu kan senat juga!” teriak Greg dari seberang saluran. Suara di sekitarnya berisik, sepertinya sedang berada di tengah kumpulan orang.
“Ah!” keluh Yiran frustrasi.
Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, ia langsung memutus panggilan.
Padahal dulu Greg juga yang memaksanya masuk senat mahasiswa. Sekarang orang itu lagi yang seenaknya menyeret dirinya jadi panitia penerimaan mahasiswa baru.