Sesampainya di kamar kos, Raina langsung membongkar koper dan membereskan barang-barangnya. Cahaya matahari pagi samar masuk dari celah tirai, menerangi kamar kecil yang masih dipenuhi kardus dan tas yang belum dibuka sepenuhnya. Meskipun masih terlalu pagi, ia memilih untuk tidak tidur lagi karena tadi sudah cukup banyak tidur di dalam mobil.
Kamar seluas dua puluh lima meter persegi itu memiliki kamar mandi dan dapur kecil di dalam. Dindingnya dicat warna krem pucat dengan jendela lebar di sisi kiri kamar yang menghadap ke bagian depan kos-kosan tingkat itu. Kamar Raina ada di pojok terluar dari kamar-kamar di lantai dua.
Kosan itu dicarikan langsung oleh Kavi dan Tami sejak beberapa bulan lalu. Raina benar-benar tinggal terima beres. Kedua pasangan itu selalu seratus persen dalam mendukung dirinya.
Asik membereskan barang yang sebenarnya tak terlalu banyak, Raina sampai tak sadar waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Dari luar kamar terdengar samar suara pintu kos dibuka tutup dan penjual sarapan yang lewat di jalan depan.
Raina duduk beristirahat di pinggir kasur lalu meraih ponselnya yang belum sempat disentuh sejak tiba. Barulah ia sadar ada pesan dari Kavi yang belum dibaca.
“Nggak jauh dari sini, bisa jalan kaki…” gumamnya pelan sambil membaca alamat kafe yang dikirim Kavi.
Senyum kecil langsung muncul di wajahnya.Memang Kavi dan Tami tak pernah mengecewakan. Kosan ini hanya sekitar dua kilometer dari kampus dan satu kilometer dari kafe milik Kavi. Mereka benar-benar mencari lokasi yang strategis agar Raina lebih mudah bolak-balik karena nantinya harus kuliah sambil bekerja di kafe itu.
Kalau dipikir-pikir, Kavi, mantan pacarnya yang sekarang justru menjadi pacar sahabatnya sendiri, memang punya peran besar dalam hidupnya selama tiga tahun terakhir.
Untung saja setahun lalu dia mulai pacaran dengan Tami. Kalau tidak, Raina yakin dirinya akan terus merasa terbebani oleh semua kebaikan pria itu.
Meskipun terbilang sulit juga bagi Tami sampai akhirnya mendapatkan hati pria itu. Sahabatnya itu sampai hampir menyerah berkali-kali, tapi Raina terus mendorongnya, karena melihat betapa Tami menyukai Kavi. Syukurlah, mereka akhirnya bersama.
Dan justru karena sekarang Kavi adalah pacar Tami, Raina malah jadi lebih bebas meminta tolong ini itu tanpa terlalu canggung. Bahkan setiap kali Raina mulai sungkan, Tami sendiri yang langsung turun tangan menyuruh Kavi buru-buru membantu.
Raina tertawa kecil mengingat itu.
Setelah memastikan kamar sudah cukup rapi, ia berjalan mendekati jendela lalu membuka tirai sepenuhnya. Cahaya matahari yang tadi mengintip malu-malu, langsung masuk memenuhi ruangan, membawa sensasi hangat dan aura pagi kota Jakarta yang sibuk.
Ia berdiri termenung beberapa saat di sana. Lusa ia akan mulai masuk kuliah. Dan hanya memikirkannya saja sudah membuat dadanya terasa penuh antusias. Walaupun terlambat tiga tahun, akhirnya mimpinya untuk kuliah benar-benar tercapai. Meski ia tak bisa mengambil jurusan Sastra seperti yang dulu diimpikannya, Raina tetap bersyukur. Karena setelah semua yang terjadi, bisa sampai di titik ini saja sudah terasa seperti keajaiban. Kini ia hanya berharap satu hal sederhana. Semoga kedepannya, hidup akhirnya berpihak padanya dan hanya membawa hal-hal baik.
Mumpung semangatnya masih membuncah, Raina bergegas mandi.
Setelah selesai memakai baju, ia duduk di depan meja rias kecil di samping tempat tidur. Parabot yang disiapkan Tami untuknya, bersama ranjang dan sofa empuk yang membuat kamar itu terasa jauh lebih hidup.
Raina memakai lip cream warna pink lembut lalu menambahkan sedikit perona pipi dengan warna senada. Jemarinya bergerak ringan sambil sesekali tersenyum sendiri menatap pantulan wajahnya di cermin.
“Oke!” gumamnya puas, meraih tas selempangnya dan menggantungnya di bahu.
Dengan mood yang sangat baik, ia berjalan keluar lalu mengunci pintu kamar kos. Menuruti tangga dan menyapa beberapa penghuni lain yang berpapasan dengannya.
Udara pagi Jakarta langsung menyambut wajahnya.
Raina menyapukan pandangan ke sekitar. Jalanan di dekat area kampus itu tampak cukup tenang untuk ukuran Jakarta, mungkin karena masih pagi dan hari Sabtu. Kendaraan memang tetap berlalu-lalang, tetapi tak terlalu padat. Pepohonan di trotoar bergerak pelan tertiup angin, sementara beberapa mahasiswa terlihat berjalan santai sambil membawa tote bag dan kopi di tangan.
Raina menarik napas panjang. Sudah lama ia tak mencium campuran udara pagi dan asap knalpot seperti ini. Ia kemudian tertawa kecil, merasa dirinya benar-benar konyol.
Tak butuh waktu lama sampai ia melihat sebuah kafe berdinding kaca di seberang jalan.
KAVFE.