Yiran mulai menyesali keputusannya masuk ke dewan senat mahasiswa. Seharusnya dulu ia tidak mengiyakan ajakan Greg dan Evan begitu saja. Sekarang waktunya habis untuk membantu kegiatan orientasi kampus, padahal ia bisa menggunakan semua itu untuk fokus mempersiapkan magang.
Namun yang paling melelahkan bukan kesibukannya, melainkan kenyataan bahwa setiap hari ia harus melihat Raina selama berjam-jam.
Tubuhnya terasa remuk karena beberapa hari terakhir ia hampir tidak bisa tidur. Tetapi batinnya jauh lebih lelah, terutama karena ia harus terus berpura-pura tak peduli pada keberadaan Raina. Ia belum terbiasa menghadapi perasaan seperti ini, emosi yang tidak stabil, kemarahan yang datang dan pergi tanpa peringatan setiap kali melihat wajah gadis itu. Semua terasa semakin rumit karena di matanya, Raina terlihat baik-baik saja setelah menghilang dari hidupnya begitu saja dan meninggalkannya hancur sendirian seperti orang gila.
Wajah Yiran bahkan tampak makin pucat setelah tadi tanpa sengaja berpapasan dengan Raina di tangga kampus. Gadis itu sedang berjalan berdampingan dengan mahasiswa baru lain bernama Anton, berbicara pelan sambil sesekali tersenyum kecil. Pemandangan sederhana yang seharusnya tidak berarti apa-apa itu justru memunculkan rasa kesal yang begitu familiar dalam dirinya, perasaan yang sempat menghilang selama bertahun-tahun, tetapi kini kembali mengotori pikirannya dan membuat dadanya terasa semakin berat.
Sejak kemunculan Raina kembali, kenangan tentang masa lalu mereka terus bermunculan tanpa henti di kepalanya. Semua hal yang selama tiga tahun ini susah payah ia tekan, ia abaikan, dan ia paksa terlihat sepele, kini menyebar kembali dalam dirinya seperti luka lama yang terbuka paksa.
Kenangan-kenangan itu menyeretnya kembali pada rasa sakit yang dulu nyaris menghancurkannya, membuat Yiran kembali mengingat betapa perih hari-hari yang pernah ia lalui setelah kepergian Raina. Dan tanpa bisa dicegah, pikirannya kembali terbayang pada salah satu hari terberat dalam hidupnya, hari ketika akhirnya ia memutuskan untuk melepaskan perasaannya pada Raina dan berhenti mencarinya.
“Ran…”
Suara Greg mendadak terdengar di sampingnya, memecah lamunan yang sejak tadi membuat Yiran beberapa kali berhenti mengetik tanpa sadar.
“Kita butuh bantuan anak baru buat rapihin aula nanti,” lanjut Greg sambil memutar-mutar pulpen di jarinya. “Enaknya nyuruh siapa ya?”
Yiran tak langsung menjawab.
Tatapannya masih tertuju ke layar laptop beberapa detik sebelum akhirnya bergerak samar ke arah seberang aula. Di sana, Raina duduk bersama beberapa mahasiswa baru lain dan asyik mengobrol. Meski jaraknya cukup jauh, Yiran bisa melihat jelas bagaimana gadis itu terus menarik ujung lengan bajunya sendiri, terlihat menyembunyikan gelisah. Tanpa sadar, dagunya bergerak sedikit ke arah sana.
Greg mengikuti arah isyarat itu lalu langsung menemukan kelompok Raina. Kedua alisnya terangkat. “Cewek juga?” tanyanya sambil terkekeh kecil.
Yiran langsung menutup laptopnya lalu berdiri dari kursi. “Cewek kan juga punya tenaga,” sahutnya datar.
Nada suaranya dingin seperti biasa, tapi cukup membuat Greg melongo beberapa detik karena tak menyangka Yiran benar-benar menanggapi pertanyaannya tadi.
Belum sempat Greg menggoda lebih lanjut, Yiran sudah melangkah pergi meninggalkan meja panitia. “Eh, lu mau ke mana?” pekik Greg dari belakang.
“Toilet.” Jawabannya terdengar singkat tanpa sedikit pun memperlambat langkah.
Raina yang sejak tadi mendengar suara Greg samar-samar dari kejauhan refleks menoleh ke arah meja panitia. Begitu melihat Yiran berdiri lalu berjalan keluar aula, bahunya langsung turun pelan. Napas yang sedari tadi terasa menggantung di dada akhirnya bisa keluar lebih lega. Untuk pertama kalinya sejak satu jam terakhir, ia benar-benar menyandarkan tubuh ke kursi dan membiarkan dirinya sedikit rileks.
Sejak tadi ia mati-matian memaksa diri ikut mengobrol dengan teman-teman barunya. Sesekali tertawa, sesekali mengangguk pura-pura fokus mendengar cerita mereka, meski sebenarnya isi kepalanya sama sekali tak masuk ke percakapan. Semua itu hanya pengalihan. Cara paling aman agar matanya tidak terus-menerus mencari Yiran di ruangan sebesar ini.
Anton, Dina, Moran, dan Angel sebenarnya cukup menyenangkan. Mereka ramah, mudah akrab, dan beberapa kali mencoba melibatkan Raina dalam obrolan. Namun perbedaan usia tiga tahun di antara mereka terasa cukup jelas di kepala Raina yang hari ini pikirannya sudah terlalu penuh. Ia terlalu sibuk menahan gugup, menahan rasa bersalah, dan menahan keinginan untuk terus memperhatikan Yiran diam-diam.
“Guys!”
Suara Greg mendadak muncul di dekat meja mereka dan langsung membuat semuanya menoleh. “Boleh minta tolong abis ini buat rapihin kursi sama perlengkapan aula?”
“Oke, Kak!” jawab Anton cepat penuh semangat.
Dina, Moran, dan Angel ikut mengangguk setuju tanpa banyak pikir. Sementara Raina langsung teringat sesuatu dan refleks mengerutkan dahi kecil.
Ia seharusnya pulang tepat waktu hari ini karena sudah janji membantu isi shift kosong di kafe. May mendadak cuti, dan kalau dirinya telat, kemungkinan besar Riyan cuma berdua dengan Vino menghadapi jam ramai sore nanti.
Begitu Greg pergi kembali ke meja panitia, Raina langsung meraih ponselnya lalu berdiri.
“Aku keluar bentar ya,” gumamnya singkat sebelum berjalan meninggalkan kelompok mereka.
Suara di dalam aula terlalu berisik untuk menelepon dengan tenang, jadi Raina memilih berdiri di dekat pintu keluar sambil menekan nama kontak Riyan. Sambil menunggu panggilannya tersambung, ia tanpa sadar melirik lagi ke dalam aula. Pandangannya menyapu kursi-kursi dan meja sebelum dahinya kembali berkerut. Kenapa harus kelompok mereka yang diminta bantuan? Padahal mahasiswa baru di aula ini banyak sekali.
“Halo?” Suara di seberang telepon langsung membuyarkan pikirannya.