AS LOVE GOES BY

Arisyifa Siregar
Chapter #29

29. Sulit Terucap

Tepat pukul sebelas malam saat Raina meninggalkan kafe, jalanan di sekitar sudah sangat sepi. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di trotoar yang lengang, sementara deru kendaraan hanya sesekali terdengar dari jalan besar di kejauhan. Beberapa toko di sekitar sudah tutup total, menyisakan rolling door besi dan bayangan gelap di sepanjang jalan.

Raina memasang headset lalu melangkah sedikit lebih cepat dari biasanya.

Di lingkungan yang masih terasa asing ini, ia tak tahu bahaya apa yang mungkin ditemui saat berjalan sendirian hampir tengah malam begini.

Sambil bersenandung pelan untuk mengusir rasa takut, ia mempertahankan langkah cepatnya walaupun seluruh tubuhnya sebenarnya sudah sangat lelah setelah seharian kuliah lalu bekerja sampai malam.

Saat berbelok di ujung jalan kecil menuju area kos, tiba-tiba seseorang menarik tangannya.

“Aaaah!” Raina langsung menjerit kaget.

Tubuhnya refleks berjongkok sambil menutup kedua telinga dengan telapak tangan. Matanya terpejam rapat sementara jantungnya berdetak begitu keras sampai napasnya terasa tercekat.

Namun beberapa detik berlalu. Tak ada apapun yang terjadi. Tak ada suara ancaman. Tak ada sentuhan kasar lain.

Perlahan Raina membuka mata. Napasnya masih memburu saat ia berdiri lalu membalikkan badan. Dan seketika itu juga tubuhnya membeku.

Yiran.

Cowok itu berdiri tepat di hadapannya.

Di bawah cahaya lampu jalan yang redup, wajah Yiran terlihat jauh lebih tajam dan dingin dari yang terakhir kali ia ingat. Rambutnya sedikit berantakan tertiup angin malam, sementara matanya menatap lurus ke arah Raina tanpa berkedip sedikit pun.

Bibir Raina langsung mengatup rapat. Ia tak bisa mengucapkan apa-apa. Tak bisa menyapa. Tak bisa berpura-pura biasa saja. Semua kalimat yang seharusnya muncul di situasi seperti ini mendadak hilang begitu saja dari kepalanya.

Raina mengangkat tubuhnya kembali berdiri, namun tetap diam. Tenggelam dalam tatapan dingin Yiran yang terasa begitu asing sekaligus menyakitkan. Matanya berkedip-kedip gugup. Giginya mengatup rapat. Dadanya naik turun dengan napas berat sementara otaknya benar-benar kosong, seperti kehilangan kemampuan untuk berpikir.

“Aku nggak bisa bilang halo.”

Suara Yiran terdengar untuk pertama kalinya di telinga Raina setelah tiga tahun.

Dan hanya dengan satu kalimat itu saja, mata Raina langsung basah. Bibirnya bergetar hebat sementara tenggorokannya terasa tercekat.

“Nggak bisa bilang apa kabar…” lanjut Yiran sambil mendenguskan tawa pendek yang terdengar sinis dan lelah. Lampu jalan di belakang tubuhnya membuat bayangan wajahnya tampak semakin suram. “Aku nggak nemuin kata-kata yang tepat buat ngungkapin semua pikiran ini.”

Tatapannya lurus menembus mata Raina.

“Aku udah pikirin semuanya… tapi aku tetep nggak nemuin jawabannya.” Rahangnya mengeras. “Aku tetep nggak ngerti.”

Air mata mulai jatuh di pipi Raina.

Kesedihan dan kemarahan di mata Yiran terlihat begitu jelas sampai membuat dadanya terasa sesak. Dan Raina paham. Sangat paham. Ia tahu betapa bingungnya Yiran sekarang. Bahkan mungkin lelaki itu sudah berkali-kali memikirkan bagaimana seharusnya percakapan ini dimulai. Karena hal yang sama juga terus menghantuinya sejak beberapa hari terakhir. Sampai membuat dirinya terasa seperti orang paling jahat yang pernah Yiran kenal. Pergi begitu saja. Lalu muncul lagi begitu saja. Tanpa penjelasan apa pun.

“Maaf…” Suara Raina terdengar lemah dan pecah. Ia benar-benar tak tahu lagi kata apa yang pantas diucapkan selain itu.

Namun Yiran justru melangkah mendekat.

“Kenapa muncul lagi?” tanyanya lirih namun penuh tekanan. “Kenapa muncul begitu aja padahal hilang tiga tahun nggak ada kabar?”

Tangannya langsung mencengkeram lengan Raina.

Raina meringis menahan sakit. Tangisnya pecah semakin keras. “Maaf…” ulangnya sambil terisak.

“Kenapa kamu minta maaf?” balas Yiran cepat. “Dari semuanya… apa yang tepatnya kamu minta aku buat maafin?”

Raina menggeleng kuat-kuat. “Jangan…” isaknya. “Jangan maafin aku.” Bibirnya gemetar hebat. “Walaupun aku minta maaf ribuan kali… jangan maafin aku.”

Alis Yiran langsung bertaut. Tatapan matanya perlahan runtuh. Kelopak matanya turun lemah sementara bibirnya ikut bergetar melihat Raina menangis seperti itu.

Dan pada akhirnya, ia kalah.

Dengan napas berat, Yiran langsung menarik tubuh Raina ke dalam pelukannya. Mendekapnya erat. Tangis Raina langsung tumpah di dada Yiran.

Sesuai dugaan Yiran, melihat Raina kesakitan ternyata jauh lebih menyakitkan daripada semua amarah yang tadi memenuhi dadanya.

Ia mulai menyesali caranya bicara. Tangannya perlahan mengusap kepala Raina. “Maaf…” kini justru dirinya yang meminta maaf. “Udah… berhenti nangisnya. Maaf aku kasar.”

Mendengar Yiran malah meminta maaf setelah semua yang telah ia lakukan, tangisan Raina semakin pecah. Perlahan, tangannya yang sejak tadi menggantung kaku di udara mulai bergerak memeluk pinggang Yiran. Memeluk lelaki yang diam-diam ia rindukan mati-matian selama tiga tahun terakhir. Air matanya tak berhenti mengalir. Mulutnya tak mampu mengucapkan semua hal yang sebenarnya ingin ia katakan. Ia hanya terus memeluk Yiran erat-erat.

Namun beberapa detik kemudian, Raina mulai merasakan ada yang aneh. Pelukan Yiran melemah. Tubuh pria itu perlahan kehilangan tenaga. Dan sebelum Raina sempat memahami apa yang terjadi, tubuh Yiran sudah merosot turun hingga berlutut lemas di atas aspal.

“Yiran?!” Raina panik mencoba menahan tubuh besar itu. Namun tenaganya tak cukup kuat.

“Yiran! Yiran!”

Sambil menahan lengannya, Raina memperhatikan wajah Yiran lekat-lekat. Barulah ia sadar wajah pria itu terlihat sangat pucat.

Dengan seluruh tenaga yang tersisa, Raina mengaitkan tangan Yiran ke pundaknya lalu tertatih-tatih membawanya masuk ke area kos.

Lorong kos malam itu sudah sepi. Hanya terdengar suara kipas angin dari kamar lain dan langkah kaki mereka yang berat menaiki tangga.

Sesampainya di kamar, Raina perlahan merebahkan tubuh Yiran ke sofa kecil di dekat jendela.

Begitu tubuhnya menyentuh sofa, mata Yiran langsung terpejam. Raina buru-buru berlutut di lantai sambil memperhatikan wajah Yiran dengan panik. Tidur? Atau pingsan? Tangannya gemetar saat menempelkan punggung tangan ke dahi Yiran. Panas. Suhu tubuh pria itu jauh lebih tinggi dari normal.

Ia langsung bangkit mengambil baskom kecil, air hangat, dan handuk. Setelah itu ia kembali lalu mengangkat kepala Yiran perlahan untuk menyelipkan bantal di bawahnya.

Ia duduk di lantai tepat di samping sofa. Tangannya bergerak pelan mengompres dahi Yiran. Dan tanpa sadar, air matanya kembali jatuh satu per satu. Dadanya terasa begitu sesak sampai sulit bernapas. Ia mulai membenci dirinya sendiri lagi. Menyesali semua keputusannya. Menyesali kenapa ia memilih masuk ke kampus yang sama dengan Yiran. Kalau mereka tak bertemu lagi,  mungkin Yiran akan baik-baik saja. Seharusnya ia pergi selamanya. Seharusnya ia tak pernah muncul lagi di hadapan pria itu.

Lihat selengkapnya