Greg dan Evan langsung bergerak mendekat begitu Yiran duduk di kursinya. Kursi mereka sampai bergeser kasar di lantai karena terlalu terburu-buru. Di belakang keduanya, Ruth diam-diam ikut memasang telinga sambil pura-pura fokus pada layar tabletnya.
Yiran sendiri tampak tak terganggu. Ia menarik kursi sedikit ke belakang lalu membuka laptop di atas meja. Namun baru saja jemarinya menyentuh keyboard, ia sudah melirik malas ke arah Greg yang wajahnya nyaris menempel ke bahunya.
“Apaan?” tanyanya datar.
Greg langsung nyengir lebar. “Jadi…” Kedua alisnya naik turun penuh godaan. “Raina temen lu?”
Jemari Yiran yang sedang mengetik password langsung berhenti. Hanya sepersekian detik. Namun perubahan kecil itu cukup terlihat jelas bagi Ruth yang sejak tadi memperhatikan diam-diam. Mata Yiran bergerak samar ke sudut, seperti sudah tahu persis ke mana arah obrolan ini akan dibawa.
Sejak Raina muncul di kampus, Greg berkali-kali terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada gadis itu. Cara ngomongnya, cara matanya mengikuti Raina ke mana-mana, semuanya cukup membuat Yiran beberapa kali merasa terganggu meskipun tak pernah diakuinya.
Kini, waktunya bagi Yiran untuk balas dendam. Akhirnya bisa mengucapkan hal ini secara tegas dan jelas. Ia akhirnya memiringkan badan menghadap Greg. Menatap lurus-lurus mata temannya yang kelihatan penuh minat itu.
“Cewek gue,” jawabannya pendek dan dingin.
Sukses membuat suasana di sekitarnya mereka mendadak hening.
Setelah mengucapkannya, Yiran langsung kembali menatap layar laptop seolah barusan hanya mengucap tadi pagi dia sarapan apa.
Sementara di depannya, senyum Greg perlahan menghilang.
“Ha?” Evan spontan melongo. “Cewek lu?” ulangnya tak percaya. “Maksud lu… pacar lo?”
“Em.” Yiran cuma berdehem singkat tanpa mengangkat kepala, kembali sibuk dengan laptopnya.
Greg berkedip beberapa kali cepat sebelum menepuk-nepuk wajahnya sendiri pelan seperti berusaha sadar dari mimpi.
“Nggak, nggak, bentar…” gumamnya sambil menarik bahu Yiran paksa agar kembali menghadap dirinya. “Gimana bisa dia cewek lu? Kapan jadiannya? Dah berapa lama?”
“Tiga tahun.” Yiran berhenti sepersekian detik sebelum mengoreksi dirinya sendiri. “Tiga tahun lebih.”
Dan kali ini rahang Greg benar-benar jatuh. Mulut Evan ikut terbuka lebar.
Kedua cowok itu memandangi Yiran seperti baru mendengar kalau matahari sebenarnya memutari bumi bukan sebaliknya.
Selama tiga tahun ini mereka hampir tak pernah melihat Yiran benar-benar dekat dengan cewek manapun. Bahkan dulu, mereka pernah taruhan setengah serius tentang apakah Yiran sebenarnya normal atau tidak. Apalagi setiap kali ada cewek confess, Yiran selalu bilang dirinya sudah punya pacar, namun tak pernah sekalipun bisa menjelaskan siapa pacarnya.
“Kok bisa?” sela Ruth dari belakang, tanpa malu-malu mengaku sedang menguping. “Kok kalian nggak kelihatan ngobrol sama sekali pas ketemu?”
Ia memajukan badannya, ke antara Yiran dan Greg.
Greg dan Evan langsung mengangguk cepat seperti murid yang menunggu jawaban dosen.
Yiran membeku sepersekian detik lagi. Matanya bergerak pelan ke sudut sambil berpikir, sebelum akhirnya kembali lurus ke layar laptop. “Emangnya harus kelihatan ngobrol depan kalian?” balasnya santai.
“Shit…” Greg menjambak rambutnya sendiri frustasi. “Jadi selama ini di belakang kita lu jalan sama dia?” pekiknya pelan. “Terus kenapa lu nggak bilang pas gue bilang gue ngincer dia?!”
Yiran tak menjawab. Namun sudut bibir kanannya terangkat tipis.
Senyum kecil menyebalkan yang membuat Greg makin naik darah. “Wah lu bener-bener…” gerutunya dengan tangan terulur, seperti siap mencekik leher Yiran.
Evan buru-buru menarik badan Greg ke belakang sambil menahan tawa. “Woi sabar, sabar!”
Mereka tak sadar kalau sejak tadi bukan cuma Ruth yang memasang telinga. Hampir setengah isi kelas diam-diam mendengarkan percakapan mereka. Apa pun yang berhubungan dengan Yiran memang selalu cepat menarik perhatian.
Dan tentu saja, di setiap kelas selalu ada satu orang yang paling cepat menyebarkan gosip.
Di angkatan mereka, orang itu adalah Yuka.
Cewek keturunan Jepang itu sejak tadi mengetik cepat di ponselnya sambil sesekali melirik ke arah Yiran dengan mata berbinar penuh semangat. Bahkan sebelum Greg selesai mengomel, Yuka sudah lebih dulu membagikan berita ke berbagai grup chat kampus.
Raina, anak semester 1 itu ternyata pacar Yiran selama lebih dari tiga tahun.
Begitu pesan terkirim ke banyak grup, Yuka langsung nyengir puas sambil membayangkan kekacauan yang sebentar lagi akan meledak di kampus. Banyak cewek pasti bakal patah hati hari ini.
***
Jam kuliah pertama akhirnya selesai.
Raina melangkah keluar dari kelas dengan kesadaran penuh bahwa sejak tadi banyak pasang mata diam-diam memperhatikan gerak-geriknya. Bisik-bisik kecil bahkan masih terdengar samar di belakangnya. Namun kali ini ia berusaha untuk tidak menggubris semuanya, juga tidak membiarkan dirinya sibuk menebak-nebak apa yang sedang dipikirkan orang lain tentang dirinya setelah kabar hubungannya dengan Yiran menyebar begitu cepat di kalangan mahasiswa Manajemen Bisnis.