Restoran, mall, bioskop, semua tempat yang sempat terlintas di kepala Raina ternyata salah, saat mobil Yiran justru berhenti di depan sebuah rumah besar bercat putih gading dengan halaman yang dipenuhi tanaman hijau.
Lampu teras menyala hangat di tengah langit malam yang mulai gelap. Angin sepoi-sepoi menggerakkan daun-daun pohon kecil di halaman, sementara suara jangkrik samar terdengar dari taman depan rumah.
Yiran turun lebih dulu lalu berjalan memutar untuk membukakan pintu mobil untuknya.
Masih kebingungan sambil berpikir keras mereka sebenarnya sedang ada di mana, Raina turun perlahan sambil menggenggam tangan Yiran.
Namun begitu Yiran menggandengnya menuju pintu rumah dan langsung mendorong pintu tanpa menekan bel, Raina langsung tersadar.
Matanya membelalak panik. Ia buru-buru menghentak tangan Yiran dan bergeming di tempat. Tapi terlambat. Pintu sudah terbuka. Dan dari tempat mereka berdiri, terlihat seorang wanita paruh baya sedang duduk santai di sofa ruang tamu sambil memegang tablet.
Napas Raina langsung tertahan di tenggorokan. Wajahnya menegang seketika. Ia bahkan belum tahu siapa wanita itu, tapi jantungnya sudah berdetak tak karuan.
Di sisi lain, Nadia mendelik kaget dari tempat duduknya. Mulutnya sedikit terbuka. Matanya berkedip cepat tak percaya melihat Yiran berdiri di ambang pintu sambil menggenggam tangan seorang gadis.
Pelan-pelan ia bangkit dari sofa. Langkahnya mendekat sambil terus memperhatikan Raina yang tampak pucat dan gugup setengah mati.
“H-halo…” sapa Nadia canggung.
“Halo, Tante…” jawab Raina jauh lebih canggung.
Ia diam-diam mencoba menarik tangannya dari genggaman Yiran, tapi cowok itu malah menggenggam lebih erat.
“Kenalin, Ma,” ujar Yiran santai seolah tak terjadi apa-apa. “Pacar aku, Raina.”
Nadia langsung mematung sepersekian detik. Rasa kaget di wajahnya benar-benar tak bisa disembunyikan. Namun begitu melihat Raina terlihat jauh lebih panik daripada dirinya, Nadia buru-buru memasang senyum hangat.
“Hai, Raina! Saya Nadia, mama Yiran.” Ia mengulurkan tangan ramah.
Tanpa menunggu lagi, Raina langsung menyalami tangannya sopan. Telapak tangannya dingin. Dan Nadia langsung tahu anak ini benar-benar gugup.
“Ayo duduk dulu,” ucap Nadia lembut. “Tante bikinin minum.”
Lalu ia buru-buru berjalan menuju dapur meninggalkan ruang tamu.
Raina mengangguk kecil lalu masuk perlahan ke ruang tamu.
Ruangan itu terasa hangat dan nyaman. Aroma diffuser samar bercampur dengan wangi masakan dari dapur. Lampu gantung kuning keemasan menerangi sofa abu-abu besar dan rak buku di sudut ruangan.
Begitu Nadia menghilang dari pandangan, Raina langsung duduk di ujung sofa sambil buru-buru meremas tangan Yiran yang berdiri di hadapannya.
Ia mendongak. “Kenapa nggak dulu bilang sih!” protesnya panik dengan suara tertahan.
Yiran malah tersenyum tipis. Bukannya ikut duduk, ia justru melepaskan genggaman tangan Raina lalu berbalik badan.
Sadar akan ditinggal sendiri, Raina buru-buru menarik tangannya lagi. “Mau ke mana ih!” rengeknya pelan.
“Mau ganti baju,” jawab Yiran santai sambil melirik ke arah dapur.
Raina refleks ikut menoleh. Dan ternyata Nadia sudah kembali, sambil membawa nampan berisi teh hangat dan beberapa toples camilan.
Raina langsung buru-buru melepaskan tangan Yiran lalu duduk tegak seperti murid di ruang guru BK.
Yiran menahan senyum kecil sebelum akhirnya berjalan pergi melewati ibunya.
“Silakan dimakan,” ujar Nadia sambil menaruh nampan di meja. “Raina, kan ya?”
“Iya, Tante… Raina,” jawabnya kikuk.
Ia buru-buru mengambil cangkir teh lalu menyesap sedikit hanya demi mengurangi rasa gugup sebelum kembali menaruhnya di meja dengan gemetar halus. Tangannya kembali bertumpu kaku di atas lutut.
Nadia diam-diam melongok ke arah dalam rumah. Begitu yakin Yiran belum kembali, ia langsung bangkit lalu pindah duduk di samping Raina.
Raina langsung mengkeret panik. Wajahnya tegang total.
Sementara Nadia memiringkan tubuh menghadapnya lalu berbisik pelan, “Kamu bener pacar Yiran?”
“I-iya, Tante…” jawab Raina sambil nyengir kaku.
“Kok bisa?” tanya Nadia polos sebelum buru-buru mengoreksi diri. “Eh maaf, maksud Tante… sejak kapan? Gimana bisa pacaran?”
Raina makin bingung menjawab. Mana mungkin ia menjelaskan semuanya apa adanya? Kalau ia pernah pacaran dengan Yiran tiga tahun lalu, lalu menghilang begitu saja tanpa kabar. Ibu mana yang nggak kesal kalau tahu anaknya pernah ditinggal cewek seperti itu?
“Dulu satu SMA, Tante,” jawab Raina akhirnya. “Kebetulan saya baru mulai kuliah di kampus Yiran… jadi ketemu lagi.”
“Aaaah…” Nadia mengangguk-angguk paham.
Lalu tanpa diduga, wanita itu menggenggam tangan Raina hangat. “Makasih ya… udah nemenin Yiran.”
Raina langsung tertegun. Ia sama sekali tak menyangka akan mendengar ucapan seperti itu dari ibu kandung Yiran. “Nggak kok, Tante…” balasnya pelan. “Yiran banyak yang suka dan nemenin.”
“Tapi nggak ada yang mau dia deketin!” Nadia langsung curhat sambil menggenggam kedua tangan Raina makin erat. “Tante hampir takut dia nggak punya temen apalagi pacar loh!”
Raina menahan napas mendengarnya, bingung harus bangga atau minder.
“Pokoknya Tante seneng banget!” lanjut Nadia dengan mata berbinar. “Kamu harus sering-sering ke sini ya!”