Yiran membuka mata perlahan. Cahaya matahari pagi masuk menembus celah tirai kamar tamu, membentuk garis-garis tipis keemasan di lantai. Udara pagi terasa sejuk dan tenang, hanya terdengar samar suara burung dari halaman rumah.
Ia menoleh ke arah jam dinding. Dan langsung terperanjat. Sudah pukul enam pagi.
Yiran buru-buru duduk dengan wajah penuh keheranan, rambutnya sedikit berantakan bekas tidur. Ia sendiri tak menyangka bisa tidur selama itu.
Selama lima bulan terakhir, insomnianya memang perlahan membaik. Namun biasanya ia tak pernah tidur lebih dari lima jam dalam semalam. Kalau tadi malam ia mulai tidur sekitar pukul sembilan, berarti ia baru saja tidur sembilan jam penuh. Entah kapan terakhir kali itu terjadi.
Tubuhnya terasa jauh lebih segar. Kepalanya ringan. Tak ada rasa penat atau sesak seperti biasanya saat bangun tidur.
Perlahan Yiran bangkit lalu keluar dari kamar tamu. Begitu membuka pintu, aroma makanan langsung menyambut penciumannya. Wangi bawang goreng, minyak panas, dan masakan rumahan memenuhi seluruh rumah dengan hangat.
Sayup-sayup terdengar suara Raina dan Wiwid bercampur dengan bunyi spatula dan penggorengan dari arah dapur.
Mengikuti sumber suara itu, Yiran berjalan menyusuri lorong rumah yang diterangi cahaya matahari pagi. Dari jendela samping, terlihat dedaunan di halaman bergerak pelan tertiup angin.
Tak lama kemudian ia sampai di ambang pintu dapur. Dan langsung terdiam.
Raina sedang berdiri membelakanginya di depan kompor sambil sibuk menggoreng sesuatu. Rambutnya diikat asal, sementara piyama putih yang sama seperti semalam membuatnya terlihat jauh lebih sederhana dan manis.
Yiran sempat membuka mulut ragu-ragu, ingin memanggil namanya. Namun sebelum sempat bicara, Wiwid yang sedang mengambil sayur di atas meja keburu menoleh.
“Eh, Yiran! Kenapa?” tanyanya ramah.
Raina langsung ikut menengok.
Begitu mata mereka bertemu sepersekian detik, Raina buru-buru kembali menghadap penggorengan dan pura-pura sibuk membolak-balik masakan.
“Kamar mandinya di mana, Tante?” tanya Yiran sambil diam-diam melirik Raina yang jelas-jelas mendadak salah tingkah.
“Oh itu,” jawab Wiwid sambil menunjuk keluar dapur. “Belok kanan, pintu yang kiri.”
Yiran mengangguk kecil. “Makasih, Tante.” Lalu ia berjalan pergi meninggalkan dapur.
Beberapa detik setelah langkah kaki Yiran menghilang dari lorong, Raina langsung menoleh memastikan cowok itu benar-benar sudah pergi.
Setelah yakin aman, ia buru-buru mendekat ke Wiwid sambil berbisik panik, “Tante… kayaknya aku mandi dulu deh!”
Wiwid langsung tertawa kecil penuh pengertian. “Kan tadi Tante udah bilang mandi aja, nggak usah bantuin,” godanya sambil mendorong pelan bahu Raina. “Udah sana!”
Raina nyengir dan buru-buru lari ke kamarnya untuk mengambil baju dan handuk, tapi saat melihat layar ponselnya yang ada di atas kasur berkedip, ia terpanggil untuk mengecek notifikasi yang masuk, sambil duduk di pinggir kasur.
Ia membuka pesan masuk dari Tami lebih dulu.
“Na, Yiran sampai dengan selamet, kan? Gue baru tau dia minta alamat rumah lu ke Kavi.”
Mata Raina melotot tak percaya, bisa-bisanya dia lupa menanyakan dari mana Yiran tahu rumah ini padahal dia tak pernah memberitahu sebelumnya. Buru-buru ia sampirkan handuknya di bahu, mengetik cepat dengan kedua tangan, membalas pesan Tami yang ternyata masuk sejam lalu.
“Tanya Kavi? Kok bisa?” Kirimnya.
Tami kembali daring dan mengetik balasan sama cepatnya.