Matahari sudah berada cukup tinggi ketika Raina dan Yiran akhirnya pamit kembali ke Jakarta. Udara mulai terasa hangat, angin bergerak pelan menggoyangkan dedaunan di halaman rumah Om Heru. Dari kejauhan terdengar suara motor warga yang berlalu-lalang di jalan kecil depan rumah dan suara ayam dari pekarangan tetangga.
Di depan rumah, Wiwid dan Heru sibuk membawakan beberapa kantong bekal makanan. Aroma ayam goreng, sambal, dan tumisan masih tercium samar dari wadah-wadah yang mereka bawa. Yiran menerima semuanya lalu memasukkannya satu per satu ke bagasi mobil dengan patuh tanpa banyak protes.
“Nggak usah pulang sering-sering!” tegur Wiwid ke Raina sambil menunjuk-nunjuk kecil. “Yang penting terus ngabarin aja. Di telepon juga nggak apa-apa!”
Lalu wanita itu terkekeh menggoda, “Nanti Yiran nyariin lagi tuh!”
Yiran langsung tersenyum malu sambil pura-pura sibuk menutup bagasi mobil.
“Iya gampang, Tante!” jawab Raina sambil tertawa kecil. Ia memeluk Wiwid erat sebelum bergantian menyalami Heru.
“Baik-baik di sana ya,” pesan Heru sambil memegang bahu Raina hangat. “Jaga kesehatan, jangan capek-capek.”
Lalu tiba-tiba pria itu mendekat sedikit dan berbisik pelan di samping telinga Raina, “Jangan sampe lepas Yiran-nya… dia anak baik.”
Raina langsung tertawa sungkan sambil mengangguk cepat, perlahan mundur dan membuka pintu mobil.
Yiran bergantian menyalami Wiwid dan Heru sebelum akhirnya ikut ke mobil dan masuk ke kursi pengemudi.
Mobil perlahan mulai menjauh dari rumah. Ban mobil bergesekan pelan dengan jalanan kecil di depan rumah sementara suara sapu dari halaman tetangga terdengar samar ketika mereka melewati gang.
Raina menurunkan kaca jendela dan melambaikan tangan ke arah Heru dan Wiwid yang masih berdiri di depan pagar sambil tersenyum. Angin dari luar menerbangkan sedikit rambutnya dan membawa aroma pepohonan serta tanah lembab masuk ke dalam mobil.
Begitu rumah mulai mengecil di kejauhan, ia kembali menutup jendela lalu menyandarkan tubuh ke kursi penumpang.
Di dalam mobil terasa tenang dan nyaman. Aroma makanan bekal bercampur dengan wangi parfum lembut milik Yiran memenuhi ruang sempit itu. Musik pelan mengalun samar dari speaker sementara suara mesin mobil berdengung stabil di tengah jalanan yang mulai ramai.
Raina lalu menoleh ke arah Yiran yang sedang menyetir sambil diam seperti biasanya.
“Mmmm…” gumamnya sambil memperhatikan wajah Yiran dari samping. “Tadi pagi ngobrolin apa sama Om Heru?”
Rasa penasaran itu akhirnya tak bisa lagi ia tahan setelah sejak tadi terus mengganggu pikirannya.
Mata Yiran berkelebat sekilas. “Yang mana?” tanyanya pura-pura tidak tahu sambil tetap fokus menatap jalanan.
Raina langsung memiringkan tubuh menghadapnya. “Yang tadi pagi sebelum sarapan!” jawabnya spesifik.
“Mmmmm…” Yiran hanya bergumam panjang tanpa niat menjawab.
Dahi Raina langsung berkerut kesal.
Namun sebelum sempat kembali mencecar, layar dashboard mobil tiba-tiba menampilkan notifikasi panggilan masuk dari Ruth.
Yiran langsung mengangkatnya dengan mode pengeras suara.
Suara sambungan telepon memenuhi kabin mobil yang tenang. Di luar, kendaraan mulai padat memenuhi jalan raya, suara klakson sesekali terdengar samar dari balik kaca mobil.
“Ran! Temen gue ada nawarin jadi model buat brand bajunya dia, lu mau gak?” tanya Ruth tanpa salam sapa.
“Nggak!” jawab Yiran singkat sambil tetap fokus menyetir.
“Kenapa?” Ruth terdengar heran.
“Dah males.”
“Lu lagi nyetir ya?” tebak Ruth.