AS LOVE GOES BY

Arisyifa Siregar
Chapter #40

40. Hello, Sunset

Mata Raina mengerjap pelan. Kesadarannya perlahan kembali bersama suara samar kendaraan dari luar mobil dan hembusan AC yang dingin di dalam kabin. Baru setelah beberapa detik ia sadar, mobil ternyata sedang berhenti di sebuah parkiran.

Lampu-lampu kendaraan dan papan toko di sekitar memantul samar di kaca mobil yang sedikit gelap. Di luar, suasana sore mulai ramai oleh orang-orang yang berlalu-lalang menuju restoran dan kafe.

Raina menoleh ke samping. Dan mendapati Yiran ternyata juga sedang tertidur.

Kursi cowok itu sedikit direbahkan, kedua tangannya terlipat di depan dada sementara matanya terpejam lekat. Rambut hitamnya jatuh sedikit menutupi dahi, membuat wajahnya terlihat lebih tenang dari biasanya.

Diam-diam, Raina mendekat sedikit. Matanya mengamati wajah Yiran satu per satu. Lekukan rahangnya. Bulu matanya. Bibirnya. Dan tanpa sadar senyum kecil muncul di wajahnya. Bahkan dalam keadaan tidur begini saja Yiran tetap tampan sekali.

Mendadak pikiran Raina melantur ke mana-mana. Apa tadi waktu dia ketiduran di mobil, kelihatannya cantik juga di mata Yiran? Atau malah ngiler? Jangan-jangan dia ngorok? Otaknya langsung sibuk memikirkan kemungkinan memalukan itu sampai tak sadar kalau dirinya sudah terlalu lama menatap.

Dan tiba-tiba, mulut Yiran bergerak. “Udah belum? Liatnya?”

Raina langsung membelalak. Tubuhnya refleks mundur sampai punggungnya mentok ke pintu mobil.

Yiran perlahan membuka mata sambil tersenyum tipis penuh kemenangan. Tangannya bergerak menarik tuas kursi hingga posisi duduknya kembali tegak. Lalu ia melirik Raina yang wajahnya sudah merah padam karena malu.

“Mau makan dulu?” tanyanya santai.

Mata Raina berkedip cepat. “M-makan?”

Baru sekarang ia sadar mereka belum sampai di kos. Kepalanya langsung menoleh ke kanan kiri memperhatikan ulang suasana di luar. “Ini kita lagi di mana?”

“Kita makan dulu,” jawab Yiran singkat sebelum langsung membuka pintu mobil dan turun.

Raina buru-buru ikut turun sambil merapikan poni dengan jari-jari gugupnya. Ia menyapukan pandangan ke sekeliling sebelum akhirnya mengikuti langkah Yiran masuk ke salah satu restoran.

Begitu masuk, suasana hangat langsung terasa. Lampu-lampu gantung temaram menerangi interior restoran yang ramai namun nyaman. Suara alat makan, obrolan pelanggan, dan musik jazz pelan bercampur memenuhi ruangan.

Yiran berjalan tanpa ragu melewati area indoor lalu menaiki tangga menuju rooftop. Semakin naik, angin sore terasa semakin kuat. Dan begitu sampai di atas, mata Raina langsung membesar kagum.

Langit sore terbentang luas dengan warna oranye dan merah muda yang menyatu indah di atas deretan gedung tinggi kota Jakarta. Lampu-lampu gedung mulai menyala satu per satu sementara langit perlahan berubah lebih gelap di bagian ujungnya. Angin rooftop menggerakkan rambut Raina pelan saat ia berdiri terpana menikmati pemandangan itu.

Yiran berjalan menuju salah satu meja dengan tanda reserved lalu duduk santai di sana. Raina ikut duduk di hadapannya, namun pandangannya masih sibuk menikmati langit senja di depan mata.

Yiran diam-diam memperhatikan ekspresi kagum di wajah Raina. Dan seketika rasa lelah setelah berkendara jauh terasa hilang begitu saja. Tak sia-sia dia memesan tempat ini sejak seminggu lalu. “Aku dah mesen makanannya,” ujar Yiran.

Raina mengangguk kecil tanpa bisa menyembunyikan senyumnya. Ia buru-buru mengambil ponsel lalu memotret deretan gedung dan langit senja berkali-kali. Setelah itu ia menunduk memandangi hasil fotonya sendiri dengan mata berbinar puas.

Melihat reaksinya, sudut bibir Yiran ikut terangkat tipis.

“Kamu tau nggak…” katanya pelan sambil menyandarkan tubuh ke kursi. “Kenapa kamu aku ajak kesini buat lihat sunset?”

Raina langsung mengangkat wajah dari layar ponselnya. Matanya membulat penuh rasa penasaran.

“Kamu inget kapan kita jadian?” tanya Yiran lagi.

Raina memiringkan kepala sedikit. “Pas ke taman bermain?” jawabnya ragu. Meski di dalam kepalanya ia yakin tak ada jawaban lain selain itu.

“Lebih tepatnya kapan?” Yiran melipat kedua tangan di atas meja.

Raina tak langsung menjawab. Kepalanya bergerak kecil ke kanan dan kiri, berusaha mencari jawaban yang ternyata sama sekali tak ia temukan. Perlahan rasa bodoh dan bersalah mulai merayapi hatinya. Padahal kalau dipikir-pikir, hari itu hanya berjarak beberapa hari sebelum papanya meninggal. Namun ia benar-benar tak mengingat tanggalnya.

Melihat wajah Raina yang masih kosong tanpa petunjuk apa pun, Yiran akhirnya mengedikkan kepala ke arah langit yang tadi sempat di foto Raina.

Raina pun refleks menoleh ke arah yang sama. Dan seketika ia paham. “Ahhhh…” gumamnya pelan.

Baru sadar kalau yang dimaksud Yiran adalah waktu mereka jadian terjadi saat matahari sedang tenggelam, tepat di jam-jam seperti sekarang.

Lihat selengkapnya