AS LOVE GOES BY

Arisyifa Siregar
Chapter #45

45. Selangkah demi selangkah

5 Bulan kemudian...


“Lu ngapain malah jongkok di luar begitu?” tanya Duna heran dari layar ponsel.

Di sisi lain panggilan video, Raina memang sedang jongkok di pinggir taman depan Gedung Auditorium. Rok panjang krem yang dipakainya menyapu rumput tipis di bawahnya.

Di belakang Raina, suasana wisuda masih ramai. Banyak keluarga dan mahasiswa berlalu-lalang memakai toga sambil membawa buket bunga dan boneka wisuda. Suara MC acara terdengar samar dari dalam gedung, bercampur dengan suara orang-orang yang mengobrol dan tertawa.

Sahabatnya itu sudah tampil rapi dan cantik sejak tadi pagi, tapi anehnya malah masih bertahan di luar gedung.

“Gue nunggu di luar aja,” jawab Raina sambil memain-mainkan ujung rumput di depan sepatunya. “Pas Yiran sama Tami selesai baru gue sambut di luar.”

Duna yang sedang berada di dalam bus, langsung mengernyit bingung.

Busnya berhenti tepat saat lampu merah menyala. Pantulan lampu kendaraan memenuhi kaca bus sementara suara klakson samar terdengar dari belakang. “Emang lu gak dapet undangannya?”

“Dapet,” sahut Raina santai sambil masih menunduk memandangi rumput.

“Tapi kan cuma dua undangannya.”

“Lah terus?” Duna makin bingung, busnya kembali bergerak saat lampu berubah hijau. “Yang satunya mamanya Yiran, satunya lagi siapa?”

Raina akhirnya tersenyum kecil.

Ia berdiri perlahan lalu berpindah duduk ke bangku kayu di bawah pohon yang ada di dekatnya sejak tadi. Angin bergerak pelan menggoyangkan ujung rambutnya sementara beberapa daun kering berjatuhan di sekitar bangku.

“Jadi minggu lalu…” katanya pelan. “Gue ke rumah Yiran.”

Alis Duna langsung naik tinggi.

Raina mulai menjelaskan bagaimana minggu lalu, tanpa sepengetahuan Yiran, ia memberanikan diri datang menemui Nadia sendirian di rumah.

Ia sengaja memilih waktu saat Yiran sedang pulang ke Bandung membantu Gita menyelesaikan rekonsiliasi laporan di pabrik.

Ia pun mulai menceritakan detailnya ke Duna.

Saat dia mengetuk pintu rumah Yiran, dan menunggu sekitar semenit sampai benda itu terbuka.

“Raina?” seru Nadia kaget begitu membuka pintu rumah. Wanita itu langsung melihat ke kanan kiri seolah mencari sosok Yiran di belakang Raina.

“Tapi Yirannya gak ada…” katanya buru-buru, takut Raina datang mencari anaknya.

“Halo, Tante!” sapa Raina sambil tersenyum gugup. “Nggak kok, Tante. Aku memang mau ketemu Tante.”

Ia lalu menyerahkan tas belanja berisi beberapa kotak kue ke tangan Nadia dengan kedua tangan.

“Oh!” seru Nadia heboh. “Ayok ayok masuk!” Wanita itu langsung merangkul lengan Raina hangat dan menuntunnya masuk ke dalam rumah.

Begitu pintu tertutup, aroma lembut pengharum ruangan bercampur wangi masakan langsung menyambut hidung Raina, selalu begitu, tiap kali ia mendatangi rumah itu.

Rumah itu terasa tenang dan rapi, dengan lampu-lampu warm white yang membuat suasana ruang tamu terasa hangat dan nyaman.

“Silahkan duduk, Tante buat minum dulu ya!” ujar Nadia penuh semangat sebelum buru-buru menghilang ke arah dapur.

Raina mengangguk kecil lalu duduk di sofa. Namun beberapa menit menunggu membuat rasa penasarannya muncul. Karena biasanya setiap datang ke rumah ini, ia tidak pernah sempat memperhatikan banyak hal. Yiran selalu langsung mengajaknya pergi lagi sebelum mereka benar-benar berdiam lama di rumah.

Kali ini karena datang sendirian, Raina memberanikan diri bangkit dari sofa. Langkahnya pelan menyusuri ruang tamu. Matanya menyapu rak buku, pigura-pigura kecil, sampai bufet kayu panjang di sudut ruangan yang dipenuhi foto keluarga. Udara dari AC berhembus sejuk, menghapus rasa gerahnya selama perjalanan tadi.

Raina mendekat perlahan ke deretan foto itu. Dan bibirnya langsung melengkung membentuk senyum kecil saat melihat foto Yiran waktu kecil.

Cowok kecil itu sudah tampak jauh lebih tinggi dibanding anak-anak seusianya. Dalam foto, Yiran memakai topi Mickey Mouse dan cardigan biru laut sambil merengut ke arah kamera dengan tatapan dingin khasnya.

Lucunya, bahkan saat masih kecil pun wajah jutek itu sudah terlihat jelas.

“Lucu ya?” Suara Nadia membuat Raina buru-buru menoleh.

Wanita itu datang sambil membawa nampan berisi segelas teh hangat dan sepiring potongan kue bolu yang tadi dibawa Raina. Aroma teh melati langsung menyebar samar memenuhi ruangan.

Raina segera berjalan kembali ke sofa dan membantu Nadia meletakkan isi nampan di atas meja kaca.

“Dari kecil emang susah bergaul anaknya,” cerita Nadia sambil duduk santai di sofa seberang. “Susah punya temen soalnya ketus.” Ia menyesap tehnya lebih dulu.

Lihat selengkapnya