AS LOVE GOES BY

Arisyifa Siregar
Chapter #46

46. Restu

Pandangan Yiran menyisiri kerumunan keluarga dan kerabat para wisudawan yang berkumpul di depan gedung auditorium. Suasana di luar jauh lebih ramai dibanding beberapa jam sebelumnya. Orang-orang berlalu-lalang sambil membawa buket bunga, balon wisuda, dan paper bag hadiah. Suara tawa, panggilan nama, dan bunyi kamera yang terus memotret bercampur memenuhi area depan gedung.

Yiran terlihat terburu-buru. Toga hitam yang dikenakannya bergerak tertiup angin saat ia terus mencari sosok yang sejak tadi tak kunjung menjawab teleponnya.

Sudah waktunya sesi foto wisuda. Namun Raina malah menghilang entah ke mana. Dengan gusar ia kembali menyapukan pandangan ke seluruh area halaman, memastikan tak ada sudut yang terlewat. Gadis itu juga tak kunjung mengangkat teleponnya.

Sampai akhirnya, matanya menangkap sosok Raina yang berdiri di bawah pohon bersama Tami. Gadis itu sedang berpelukan dengan sahabatnya.

Tanpa pikir panjang, Yiran langsung menuruni tangga gedung dengan cepat. Sepatu pantofelnya menghentak anak tangga terburu-buru sebelum ia membelah kerumunan orang-orang yang berdiri di halaman.

Begitu sampai, tanpa memanggil lebih dulu ia langsung meraih tangan Raina. “Ayo!” tariknya cepat.

Raina langsung melotot kaget karena tiba-tiba diseret begitu saja meninggalkan Tami.

“Nanti ngobrol lagi!” seru Raina buru-buru sambil sempat menoleh ke belakang.

Tami hanya mengangguk-angguk sambil menyunggingkan senyum kecil. Wajahnya terlihat sendu. Sementara pandangannya mengikuti punggung Raina dan Yiran yang semakin menjauh. Sedikit rasa iri muncul di hatinya melihat kemesraan mereka. Terutama di tengah hubungannya dengan Kavi yang akhir-akhir ini sedang tidak baik-baik saja.

Namun hanya sedikit.

Karena bagaimanapun juga, Tami tahu sendiri bagaimana panjang dan rumitnya perjalanan hubungan Raina dan Yiran sampai bisa kembali berdiri berdampingan seperti sekarang. Dan memikirkan itu, senyum di wajahnya berubah lebih tulus. Ia benar-benar ikut bahagia melihat mereka akhirnya sampai di titik ini.


Sesampainya di area foto Raina terbelalak.

Kedua orang tua Yiran ternyata sudah menunggu di depan backdrop, memandang ke arah mereka berdua dengan penuh antisipasi.

Raina buru-buru melepas genggaman tangan Yiran dan melangkah mundur.

Tahu kekasihnya itu hendak kabur, Yiran buru-buru menggenggam tangan Raina lagi. “Ayo!” Ia mengeratkan genggamannya.

“Nggak usah, nggak usah!” tolak Raina terus-terusan, berusaha melepas tangan Yiran lagi. Tatapan dari orang tua Yiran membuatnya gugup setengah mati. Apalagi ia baru pertama kali bertemu dengan sosok ayah Yiran yang selama ini dalam bayangannya teramat menyeramkan.

Dari tempatnya Nadia tersenyum, paham betul kegugupan gadis kalem itu.  “Gak apa-apa Raina!” serunya. “Sini, ayok!” Ia melambai-lambaikan tangannya.

Raina mengerjap, tambah bingung. Semakin merasa terdesak dan tak punya pilihan lain.

Di sampingnya Yiran menggoyangkan genggaman tangan mereka, “Ayo!” ajaknya lembut, tatapannya teduh dan terlihat jelas berusaha menenangkan Raina. Padahal tadi dia sudah terburu-buru, tapi sekarang justru kelihatan tak masalah kalau giliran fotonya terlewat.

Setelah menarik napas dalam dan menelan ludah, Raina mengangguk.

Ia mengikuti langkah Yiran dan menaiki tangga menuju lokasi foto. Hal pertama yang ia lakukan adalah menyalami kedua orang tua Yiran. Begitu melihat ekspresi Axel yang benar-benar datar, peluh dingin langsung menetes dari dahi Raina.

Mereka berjalan ke backdrop, berjajar kaku, Raina di sebelah Axel, lalu Yiran, dan diujung satunya Nadia.

Beberapa menit selanjutnya tak ada satupun dari mereka yang bicara. Suara sang fotografer terdengar nyaring di telinga Raina, seakan di sekeliling mereka tak ada keriuhan wisudawan dan keluarganya, saking dia fokus, tak ingin salah tindakan yang membuat sesi foto itu terganggu.

Entah seperti apa tampangnya di depan kamera, tak terlihat seperti mayat hidup saja sudah syukur. Ia benar-benar tegang, sampai tanpa sadar menahan setengah napasnya.

Begitu fotografer mengatakan selesai, Raina langsung menjauh selangkah. Punggungnya menekuk dalam, kepalanya menunduk, matanya hanya terus menatap ujung sepatunya sendiri. Sembari tangannya sesekali menyeka keringat dingin yang turun ke pipi.

Yiran melempar pandangannya ke Raina, dan hendak mendekat saat Axel menahan lengannya.

Lihat selengkapnya