Tami memasuki ruangan.
Restoran itu dipenuhi lampu gantung temaram dengan nuansa hangat kecoklatan. Aroma steak dan makanan panggang bercampur dengan wangi kopi memenuhi udara. Terdengar musik jazz pelan mengalun samar di tengah suara alat makan dan obrolan pengunjung lain.
Ia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya memaksakan diri membawa langkah beratnya masuk ke ruangan private yang sudah dipesan sebelumnya oleh Gita.
“Hai, Tam!” sapa Gita cepat begitu melihatnya datang.
“Hai…” balas Tami sambil berusaha tersenyum kecil.
Ia berjalan mendekat lalu duduk di samping Gita.
“Hai, Kav…” sapanya canggung ke arah Kavi.
Cowok itu hanya melirik singkat lalu mengangguk sekali kecil sebelum kembali diam.
Suasana langsung terasa aneh. Bola mata Gita bergerak ke kanan dan kiri, memperhatikan pasangan yang sedang renggang itu dengan gugup.
Sebelum suasana makin canggung, Gita buru-buru berubah heboh.
“Tami!” serunya sambil memeluk Tami mendadak. “Congraduation ya!”
Tami tertawa kecil.
Sementara Kavi duduk kaku di tempatnya. Ia tahu seharusnya ia juga mengucapkan hal yang sama. Namun tubuhnya terasa membeku.
“Hai guys!” Suara Duna tiba-tiba terdengar dari pintu masuk.
Semua kepala langsung menoleh.
Kulit Duna yang sekarang lebih coklat dengan rambut bondol super pendek sukses membuat seluruh isi ruangan pangling.
“Akkkkk! Miss you!” pekik Tami spontan. Ia langsung bangkit lalu memeluk Duna erat-erat.
Duna tertawa sambil membalas pelukannya tanpa sadar sedikitpun tentang suasana canggung yang sedang terjadi sebelumnya. Ia langsung duduk santai di samping kiri Gita. Akibatnya, kursi kosong yang tersisa tinggal di kanan dan kiri Kavi.
Tami yang menyadari itu langsung menegang beberapa detik. Namun akhirnya ia tetap duduk di kursi antara Gita dan Kavi dengan gerakan kaku. Tangannya sibuk memainkan ujung tas sambil pura-pura fokus mengobrol dengan Duna di seberang meja tanpa melirik Kavi sedetik pun.
“Dunaaaaaa!” Pekikan Raina tiba-tiba memenuhi ruangan.
Pintu private room kembali terbuka. Raina masuk sambil tertawa lebar lalu langsung menabrak dan memeluk Duna erat-erat sampai hampir membuat kursinya bergeser.
Di belakangnya, Yiran berdiri di ambang pintu sambil memasukkan sebelah tangan ke saku celana, mengamati keributan teman-temannya dengan tatapan datar khasnya. Namun sudut bibirnya samar terangkat melihat Raina yang sudah heboh sendiri begitu bertemu Duna.
***
Tak ada yang lebih canggung daripada duduk bersama pasangan sendiri di depan sepasang kekasih lain yang sedang bertengkar.
Raina dan Yiran menahan diri untuk tak terlihat mesra, karena di hadapan mereka Kavi dan Tami sama-sama memasang wajah murung.
Gita dan Duna justru lebih canggung lagi. Sebagai dua orang single di tengah dua pasangan dengan mood bertolak belakang, mereka otomatis harus menjadi pencair suasana.
“Oke!” seru Gita tiba-tiba sambil menepuk tangan sekali keras. “Pertama-tama, sekali lagi, selamat atas kelulusannya buat Tami dan Kak Yiran!” Suaranya terdengar terlalu semangat dibanding suasana ruangan. Tak ada yang langsung merespon. Namun Gita pura-pura tidak peduli.
“Sambil nunggu makanan dateng…” lanjutnya sambil tersenyum lebar. “Gimana kalau kita main game?”
Kavi dan Tami sama-sama tidak memberi tanggapan.
Raina justru mengerling bingung ke arah adiknya sendiri. Sejak tadi ia memang heran. Kenapa cuma makan malam harus sampai menyewa restoran dengan ruangan terpisah seperti ini? Dan kenapa Gita mendadak berubah seperti pembawa acara gathering kantor?
Sementara itu, Yiran yang sedari tadi diam memperhatikan tingkah Gita malah menyunggingkan senyum tipis. Ia tahu persis betapa keras Gita sedang berusaha malam ini.
Meski audiensnya gagal antusias, Gita yang sudah terlanjur berkomitmen menjalankan tugas tetap berdiri penuh semangat. Ia berjalan ke ujung ruangan yang memang menyediakan permainan kartu dan board game untuk pengunjung.
Beberapa menit kemudian ia kembali sambil membawa setumpuk kartu pertanyaan warna-warni. “Oke!” ujarnya sambil duduk lagi. “Kita bagi dua tim ya!”
Matanya bergerak memperhatikan posisi duduk mereka yang melingkar di meja panjang. Lalu perlahan, senyum licik muncul di wajahnya.