AS NIGHT FALL BY

Arisyifa Siregar
Chapter #1

1. Dejavu

Jika ditanya kapan awal mula hubungan yang dipenuhi luka sekaligus keajaiban itu, Duna Zelmira mungkin akan menjawab: saat dirinya bahkan belum mengerti apa itu arti cinta.

Semua berawal ketika Duna terpaksa pindah ke lingkungan baru untuk kesekian kalinya di usia dua belas tahun. Ia sama sekali tidak menduga bahwa tempat asing tersebut kelak akan menjungkirbalikkan arah hidupnya selamanya.

Di sanalah ia bertemu Tami, tetangga depan rumah sekaligus teman sekelas yang memiliki kepribadian bertolak belakang bak bumi dan langit.

Hubungan mereka terjalin dari sebuah sapaan yang teramat ringkas.

“Lu tahu nggak? Rumah kita itu cuma seberangan jalan.” Tami duduk di bangku hadapannya, menatap Duna dengan binar mata ramah yang entah bagaimana tetap terasa mendominasi.

“Panggil Tami, ya. Jangan Cinta!” perintahnya lagi sambil melotot dengan sepasang mata bulatnya, tepat sebelum Duna sempat menyahut.

Duna langsung mengatupkan bibir rapat-rapat. Ia sudah tahu. Siapa pun yang nekat memanggil gadis bernama Cintami itu dengan sebutan "Cinta" pasti akan mendapat bentakan tanpa ampun.

Sejak hari itu, Tami seolah menerobos masuk begitu saja ke dalam hidup Duna tanpa permisi.

Duna sendiri tumbuh dalam dekapan keluarga yang kaku, yang tak pernah memberinya ruang untuk menjadi diri sendiri. Ayahnya, Bahrain, adalah seorang perwira militer yang keras dan tak suka dibantah, gambaran nyata dari pria yang menganggap setiap titahnya adalah hukum mutlak. Sementara ibunya, Dahlia, adalah sosok yang lembut tetapi terlampau lemah, hingga nyaris tak pernah memiliki keberanian untuk melawan apa pun. Bersama mereka, keseharian Duna menjelma menjadi lingkaran monoton tentang menaati aturan dan ketakutan konstan akan melakukan kesalahan.

Karena itulah kehadiran Tami terasa seperti sebuah anomali yang melegakan.

Tami adalah matahari. Ia berisik, penuh energi, tidak kenal takut, bahkan sering membantah wali kelasnya tanpa ragu. Secara logika, mereka seharusnya tidak akan pernah berjalan beriringan. Sebab Duna adalah ketenangan malam; ia lebih suka diam, tak menonjol, dan memilih menyimpan banyak harapan serta mimpi-mimpi yang hanya hidup di dalam kepalanya sendiri, tanpa pernah cukup berani untuk diceritakan kepada siapapun.

Namun anehnya, justru karena perbedaan itulah mereka merekat erat. Keriangan Tami perlahan mengisi ruang-ruang kosong dan hampa di dalam diri Duna. Tami pun tak pernah membiarkannya merasa sendirian. Bahkan menurut hukum tidak tertulis yang dibuat Tami sendiri, satu-satunya orang yang boleh mengganggu Duna hanyalah dirinya. Tami melindungi Duna yang kuper dan pendiam itu dari gangguan siapa pun.

Meski begitu, aturan ketat dari sang ayah tetap membuat Duna tidak bisa bebas melangkah. Ia tak boleh terlalu lama berada di luar rumah, dan harus selalu menyiapkan alasan yang logis setiap kali ingin pergi ke rumah Tami. Karena itu, saat kedua orang tuanya sedang pergi ke luar kota hari itu, Duna tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emasnya.

Sepulang sekolah, ia langsung melesat menuju rumah Tami.

Sore itu dihabiskan di dalam kamar Tami yang penuh dengan poster film dan deretan CD lagu pop. Duna duduk santai di lantai, masih mengenakan seragam SMP yang sedikit kusut. Di tangannya, sebuah rubik berputar tanpa arah. Ia memutar-mutar sisi demi sisi dengan asal, sebab sampai detik itu ia tak pernah benar-benar memahami cara menyusun warna-warna itu kembali semula. Sambil bersenandung pelan mengikuti lagu yang mengalun dari pemutar musik, sepasang matanya fokus memperhatikan kombinasi warna di permukaan rubik.

Lalu tiba-tiba—

Brak!

Pintu kamar terbuka dalam satu hentakan cepat.

Napas Duna seolah tersangkut di tenggorokan. Matanya membelalak sempurna, sementara kedua tangannya yang memegang rubik membeku seketika di udara.

Di ambang pintu yang terbuka setengah, berdiri seorang cowok.

Rambut bagian belakangnya sedikit gondrong hingga menyentuh leher, sementara poni depannya jatuh berantakan, menyapu alis tebal yang hitam pekat. Matanya tajam, hidungnya tegas, dan garis rahangnya berakhir pada dagu lancip yang sedikit terbelah.

Dalam sekejap, memori yang selama dua tahun tersimpan samar di sudut tergelap pikiran Duna mendadak terurai jernih.

Hari ketika ia dan keluarganya pertama kali menginjakkan kaki di lingkungan itu.

Saat itu hujan turun begitu deras. Aspal tergenang air, tetapi keluarga Duna dan para pekerja jasa pindahan tetap mondar-mandir mengangkut barang dari mobil ke dalam rumah di bawah komando ayahnya yang penuh tekanan. Semua bergerak cepat dalam keheningan yang mencekik.

Lihat selengkapnya