2012, kelas tiga SMP.
"Kau tanya mengapa aku jatuh cinta padamu, jawabanku hanya satu: bagaimana bisa aku tak jatuh cinta."
Duna menggoreskan kalimat itu tepat di bawah sketsanya.
Begitu ujung pensil berhenti bergerak, ia menatap wajah Tria yang terlukis di atas kertas, lalu tersenyum kecil sembari meniup serpihan grafit yang mengotori permukaan buku.
Halaman-halaman sketsa itu sudah tampak menggelembung karena terlampau sering dibuka-tutup. Di sana, wajah Tria terekam dari berbagai sudut, potongan senyum yang tak sengaja ia tangkap, siluet punggung yang berjalan menjauh, hingga cuplikan pertemuan singkat yang efeknya sanggup bertahan berbulan-bulan di kepala Duna.
Duna menelusuri garis rahang dalam gambar itu dengan ujung jari, sebelum akhirnya menutup buku sketsanya perlahan. Ia menyimpannya ke dalam laci meja, memastikannya rapi, lalu memutar kunci hingga terdengar bunyi klik yang memuaskan. Kunci kecil itu segera disusupkan ke saku celana jeans-nya.
Ada kehangatan yang tertinggal di dadanya. Seperti biasa, setiap kali selesai menuangkan Tria ke atas kertas, sesak di kepalanya mendadak menguap. Sore itu, rumahnya terasa jauh lebih tenang. Tak ada suara berat sang ayah yang mendominasi, pun tak ada langkah kaki yang biasa membuat bahunya refleks menegang kaku.
Dengan perasaan ringan, Duna melangkah keluar rumah. Ia menyusuri trotoar, lalu menyeberangi jalan menuju rumah Tami demi menuntaskan janji menonton film romantis bersama.
Namun, tepat saat jemarinya hampir meraih gagang pintu rumah Tami, ponsel di sakunya bergetar. Nama Tami berkedip di layar.
“Gue lagi di minimarket!” seru Tami begitu panggilan tersambung. “Lu masuk aja langsung ke kamar, tolong charge laptop gue dulu!”
“Oh, oke,” sahut Duna, lalu memasukkan kembali ponselnya.
Bukannya langsung melangkah, ia justru berdiri mematung di teras. Jari telunjuknya bergerak gelisah, menggosok-gosok bibirnya yang mendadak kering. Sabtu sore. Rumah Tami biasanya sepi di jam seperti ini. Dan fakta itu justru membuat perut Duna mendadak berkontraksi.
Bagaimana kalau Tria ada di dalam? Bagaimana kalau ia harus berpapasan dengan cowok itu sendirian tanpa ada Tami sebagai tameng? Duna langsung membayangkan dirinya berdiri kaku, lupa cara bernapas, lalu mati karena serangan jantung di ruang tamu.
Tanpa sadar mengelupas kulit kering di bibirnya, Duna mendesis pelan. Tangannya turun dari bibir, mencoba meredakan panik. Lebih baik menunggu Tami di luar.
Namun, belum sempat ia berbalik, ponselnya kembali bergetar brutal. Tami yang seolah memiliki radar mistis yang bisa mendeteksi setiap ketelatan Duna, menelepon lagi.
“Nyala nggak?” todong Tami langsung.
Duna memejamkan mata pasrah. “Bentar. Gue baru masuk,” dustanya sembari buru-buru memutar kenop pintu.
Begitu melangkah masuk, Duna langsung mengedarkan pandangan waspada ke segala penjuru. Ruang tamu kosong. Ruang makan senyap. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Dada Duna mengendur lega. Oke, aman.
Ia mempercepat langkah menyusuri koridor rumah menuju kamar Tami, sementara di seberang telepon sahabatnya itu masih sibuk mengoceh tentang baterai laptopnya yang hancur.
“Iya, iya,” sahut Duna santai sembari mendorong pintu kamar Tami yang tak terkunci.
Namun, pada detik berikutnya—
“HA?”
Suara yang lolos dari tenggorokan Duna lebih mirip decitan tikus yang terinjak. Seluruh pasokan oksigen di paru-parunya mendadak tersedot habis. Tubuhnya membeku di ambang pintu.
“Bisa?” tanya Tami lagi di telepon, namun suaranya kini terdengar jauh sekali, seolah meredam di ujung galaksi.
Dua meter di hadapan Duna, Tria sedang duduk santai di kursi meja belajar Tami dengan laptop yang menyala. Mergoki kedatangan Duna, cowok itu menoleh lalu menyeringai lebar, sebuah senyum bersalah yang teramat tampan dari seseorang yang baru saja tertangkap basah membajak barang adiknya.
Otak Duna langsung berhenti berfungsi. Bukan karena fakta bahwa Tria ada di sana, melainkan karena cowok itu hanya mengenakan kaos singlet putih dan celana pendek hitam. Rambutnya yang setengah gondrong masih basah, menyisakan beberapa helai yang menempel di pelipis. Angin dari kipas angin di sudut meja membuat ujung rambut itu bergerak halus, menerbangkan aroma sabun dan sampo yang begitu segar ke indra penciuman Duna.