AS NIGHT FALL BY

Arisyifa Siregar
Chapter #3

3. Alasan untuk tak jatuh cinta

Julian melirik Tria untuk kesekian kalinya.

Sahabatnya itu sejak tadi hanya duduk menyandar di kursi besi depan minimarket. Kaki kanannya disilangkan angkuh, sementara sebatang lolipop berputar-putar malas di antara jari dan bibirnya. Sudah hampir lima menit posisi itu nyaris tidak berubah. Mata Tria tertuju lurus pada permukaan meja di hadapan mereka, tetapi sorotnya kosong, jelas tidak sedang berpijak di sana.

Ponsel di saku celana jeans-nya bergetar lagi. Dan lagi. Lalu lagi. Namun, Tria mengabaikan.

“Dan.”

Julian memanggilnya dengan nama akrab luar rumah, Danie. Hanya keluarga besar pria itu yang memanggilnya Satria.

Sama sekali tidak ada respons. Julian berdecak, lalu menendang pelan kaki kursi Tria. “Dan!”

“Em?” sahut Tria tanpa berniat mengangkat kepala.

“Lu nggak sadar dari tadi hape lu bunyi terus kayak petasan?”

“Sadar,” jawab Tria datar. Bahkan ketika getaran berikutnya kembali merongrong sakunya, ia mengabaikannya begitu saja dengan raut jemu.

Julian menatapnya lamat-lamat, sebelum akhirnya menyipitkan mata curiga. “Lu...”

Tria mendesah pelan dalam hati. Ia sudah teramat hafal nada suara itu, nada suara khas Julian ketika otaknya mulai menyusun sebuah teori konspirasi konyol.

“Lu putus sama Shanin?”

Kali ini Tria menoleh, meski hanya sedetik. Kedua alis tebalnya terangkat bersamaan, sebelum ia kembali melempar tatap ke permukaan meja.

Julian langsung menghembuskan napas panjang, frustasi. “Lu mah... Astaga, Dan.”

Nah. Mulai. Tria memejamkan mata, kepalanya mendadak pening. “Udah lah!”

Ia mencabut paksa lolipop dari mulut lalu menjatuhkannya genggaman tangannya ke atas meja begitu saja. Hari ini isi kepalanya sudah cukup penuh ditunggangi urusan pemilihan jurusan kuliah yang makin mepet, ia sedang tidak butuh tambahan khotbah moral dari Julian.

“Ya, tapi—” Julian menahan kalimatnya sendiri. Ia mengusap wajah kasar sebelum akhirnya menyandarkan punggung ke kursi. “Sampai kapan lu mau kayak gini terus, hah?”

Tria menoleh perlahan. Satu sudut bibirnya terangkat tinggi, bukan sebuah senyuman, melainkan ekspresi tidak suka yang kentara. “Emang salah gue di mana sih?” Untuk pertama kalinya sejak tadi, ia terlihat benar-benar terprovokasi oleh percakapan mereka.

“Serius deh, Yan.” Tria mengangkat kedua telapak tangannya ke udara.

“Mereka yang dateng ke gue.” Bahunya terangkat acuh. “Mereka yang minta jadi pacar gue.” Bahunya turun lagi. “Gue terima.” Bahunya terangkat lagi. “Terus tiba-tiba mereka minta putus.” Turun. Ia menatap Julian lekat-lekat. “Gue iyain. Jadi, salah gue di mana?”

Julian malah tertawa pendek, tawa kering dari seseorang yang sudah terlampau lelah untuk memprotes. “Lu aja nggak hafal nama pacar lu sendiri, Bego! Cewek mana yang nggak ngamuk kalau pacaran sama cowok yang bahkan nggak tahu namanya?”

“Ya...” Tria kembali memutar-mutar gagang lolipop di antara jemarinya dengan santai. “Ya gimana.”

Julian mendelik tajam. “Gimana apanya?!”

“Muka sama tipenya mirip semua di mata gue.”

Julian langsung menjatuhkan kepalanya ke sandaran kursi dengan dramatis. “Ya Tuhan...” Ia menatap langit siang seolah sedang memohon pasokan kesabaran ekstra dari semesta.

Beberapa detik kemudian, ia kembali menoleh dengan sorot serius. “Lu kayak gini... gara-gara belum bisa ngelupain Bu Jessica, ya?”

Gerakan tangan Tria yang sedang memutar lolipop terhenti. Hanya sepersekian detik, teramat singkat, sebelum akhirnya ia kembali memasukkan permen itu ke dalam mulut. “Nggak,” jawabnya pendek, tegas, dan dingin.

“Gue cuma nggak ngerti kenapa lu bikin semua hubungan jadi kayak main-main,” Julian menggelengkan kepala heran. “Kebanyakan orang pacaran karena mereka beneran suka.”

Tria mengangkat bahunya tidak peduli. “Gue nggak main-main!”

“Terus?”

“Gue cuma ngasih apa yang mereka minta dari gue!” Tria mengetuk gagang lolipop ke meja dengan ritme konstan. “Mereka pengen gue jadi pacarnya.” Ketuk. “Ya gue turutin.” Ketuk. “Mereka pengen putus.” Ketuk lagi. Ia kembali bersandar ke kursi dengan wajah mutlak tenang, seolah logika bengkok itu adalah sebuah hukum alam yang paling masuk akal. “Gue kan cuma ngasih apa yang mereka butuh!”

Julian melempar tatapan mengutuk, tetapi lidahnya mendadak kelu, tak berhasil menemukan kalimat bantahan yang tepat. Ia sudah terlalu lama berteman dengan Tria untuk tahu kapan cowok ini sedang membual dan kapan ia sedang menyuarakan isi kepalanya yang sebenarnya. Dan sialnya, jika isi kepala Tria sudah berputar-putar serumit ini, biasanya itulah yang benar-benar ia yakini.

Hingga akhirnya, Julian menghela napas panjang, memilih mengalah. “Jadi, lu emang sukanya sama yang lebih tua kayak Bu Jessica gitu?”

“Apaan sih lu! Nggak jelas!” keluh Tria sambil melempar tatapan jijik. Pertanyaan Julian barusan terdengar luar biasa absurd di telinganya.

“Otak lu aja yang ngeres!” maki Julian gemas, sambil melempar kacang yang sedang dimakannya tepat ke arah kepala Tria. “Maksud gue, lu nggak tertarik buat beneran cari pacar yang seumuran, apa yang lebih muda? Lu emang seleranya yang tante-tante?”

Lihat selengkapnya