Duna keluar dari kamarnya sambil setengah berlari menuruni tangga kayu. Ponselnya masih menempel erat di telinga, meredam suara Tami yang terus berceloteh tanpa jeda dari seberang sambungan, padahal jarum jam dinding sudah hampir menyentuh pukul sebelas malam.
“Makanya cepetan buka pintu, Duna! Keburu beku gue di luar!” gerutu Tami.
“Iya, iya, bentar.” Duna mengucek matanya yang masih terasa berat. Kesadarannya belum pulih seutuhnya. Rambut panjangnya berantakan ke segala arah, dan piyama satin tipis berwarna pastel yang dikenakannya tampak kusut karena baru saja dipakai tidur.
Dengan langkah tergesa, ia menarik grendel dan membuka pintu utama. “Sorry, gue tadi udah tid—”
Kalimat Duna terputus di udara. Jantungnya seperti melewatkan satu detak darurat.
Di hadapannya, berdiri di bawah temaram lampu teras, bukan cuma ada Tami.
Tetapi juga Tria.
Satu tangan pria itu memegang tas laptop hitam, sementara tangan lainnya tenggelam di dalam saku hoodie gelapnya. Sepasang mata indah Tria menatap lurus ke arahnya, sebuah sorot teduh yang memancarkan campuran rasa sungkan dan memohon.
Duna seketika berharap bumi mendadak membelah diri dan menelannya hidup-hidup malam ini juga. Kenapa Tami tidak bilang kalau ia datang bersama kakaknya? Masalahnya, saat ini rambut Duna benar-benar menyerupai sarang burung, dan piyama satin ini terasa terlampau tipis di bawah tatapan pria itu. Refleks, kedua tangan Duna menarik ujung lengan piyamanya ke bawah, seolah kain itu bisa tiba-tiba menebal secara ajaib.
“Ortu lu masih di Malang?” Suara Tami memecah keheningan yang sempat membeku.
Duna berkedip beberapa kali, memutus kontak mata dengan Tria secara paksa. “Oh.” Ia buru-buru mengangguk kaku. “Ah, iya, masih.” Kalimat itu keluar berantakan. Ia langsung mundur tiga langkah memberi jalan, sembari menundukkan kepalanya dalam-dalam. Pipinya terasa panas menyengat.
Sementara itu, Tria sempat berdiri diam beberapa detik lebih lama di depan pintu.
Jujur saja, isi kepalanya juga mendadak kikuk. Biasanya ia hanya melihat Duna mengenakan seragam sekolah yang kaku, kaus longgar, atau jaket kebesaran yang menyembunyikan siluet tubuhnya. Melihat anak itu dengan piyama satin tipis dan rambut acak-acakan yang jatuh di bahunya terasa... sangat berbeda.
Tria buru-buru mengalihkan pandangan. Ke dinding, ke kusen pintu, ke rak sepatu, ke mana saja asal bukan ke arah Duna. Namun karena harus bicara, ia akhirnya memilih menatap area dahi Duna, tempat yang menurutnya paling aman untuk menjaga jarak aman.
“Aku... boleh numpang bentar?” Nada suara Tria terdengar jauh lebih hati-hati dan rendah dari biasanya. “Bentar aja.”
Duna mengangguk terlalu cepat, mirip mesin otomatis. “Iya.” Setelah jeda satu detik yang canggung, ia menambahkan, “Iya, boleh.”
Tami yang berdiri di antara mereka berdua mendadak menyipitkan mata. Tatapan selidiknya berpindah dari Duna ke Tria, lalu kembali mengunci Duna. Ada sesuatu yang aneh. Sangat aneh di atmosfer malam ini. Namun karena otaknya sudah terlampau lelah dan mengantuk, ia memilih menundanya. “Yaudah, gue numpang tidur!” Tami mendorong bahu Duna pelan lalu melenggang masuk.
Duna bergeser mundur, jemarinya mencengkram pinggiran pintu erat-erat. Angin malam yang masih menyisakan hawa dingin sisa hujan berhembus pelan dari halaman, menerbangkan beberapa helai rambutnya.
Di hadapannya, Tria mengangguk sungkan sebelum melangkah masuk ke ruang tamu. Begitu sampai di depan sofa, pria itu langsung meletakkan laptop di atas meja dan membuka layarnya. Setelah menekan tombol power, pandangannya sempat beralih ke arah tangga, memperhatikan adiknya yang langsung naik ke lantai atas tanpa mempedulikannya.
Setelah menutup pintu rumah dan memutar kunci, Duna berdiri mematung. Jemari telunjuknya kembali bergerak gelisah, menggosok bibirnya yang mendadak terasa kering.
Haruskah ia langsung naik ke kamar menemani Tami, atau membuatkan minuman hangat untuk Tria? Tria adalah tamu, tetapi ia tidak ingin berisik dan membangunkan Bi Marni, asisten rumah tangganya yang baru tidur.
Merasakan kegelisahan yang memancar jelas dari gerak-gerik Duna, Tria mengangkat kepala dari layar laptopnya, lalu melempar senyum ringan yang menenangkan.
“Tidur aja lagi, Duna. Aku cuma bentar, kok. Cuma perlu nge-charge laptop ini buat ngirim tugas,” ujarnya sembari mengeluarkan kabel charger dari dalam tas.
Lagi-lagi, Duna hanya mampu mengangguk patuh.
Tubuhnya berbalik kaku dan mulai menaiki tangga dengan langkah ragu-ragu. Di tengah anak tangga, ia tidak tahan untuk tidak menoleh sekilas. Tria sudah kembali fokus, jemarinya bergerak cepat di atas keyboard. Melihat pemandangan itu, seulas senyum kecil tanpa izin terbit di bibir Duna sebelum ia melanjutkan langkah ke lantai dua.
Dari sekian banyak skenario gila di buku sketsanya, tak pernah sekalipun ia membayangkan Satria Danie akan berada di dalam rumahnya di tengah malam seperti ini.
Saat memasuki kamar, Duna mendapati Tami sudah telentang di atas tempat tidur sembari memainkan ponsel. Cahaya layar memantul samar di wajahnya yang setengah terkubur bantal.
“Dia paling bentar, nanti juga pulang sendiri,” ucap Tami tanpa mengalihkan pandangan.
“Ha?” Duna menoleh bingung.
“Tria,” sahut Tami, akhirnya menurunkan ponsel. “Dia ada tugas kuliah yang harus disetor sebelum jam dua belas malam ini. Tadinya mau ke rumah Julian, tapi listrik di rumah kita kan mati gara-gara hujan tadi, makanya gue paksa dia buat anterin gue menginap ke sini aja. Gila kali gue ditinggal sendirian di rumah gelap-gelap gitu.”