AS NIGHT FALL BY

Arisyifa Siregar
Chapter #6

6. Tertangkap Basah

2014, Kelas 2 SMA


Tahun ini menjadi tahun yang berganti wajah terlalu cepat bagi Duna. Langkah kakinya di koridor sekolah kini terasa berbeda. Ia dan Tami telah resmi memakai badge jurusan IPS di lengan seragam mereka, dan hari-hari putih-abu-abu tidak lagi menjadi panggung milik mereka berdua saja.

Raina, gadis yang menjadi pusat kekaguman Tami sejak masa pendaftaran kelas sepuluh lalu, kini berada di ruang kelas yang sama. Gadis itu duduk tepat di bangku belakang mereka, bertandem dengan Malik, anak laki-laki berwajah pasrah yang terpaksa duduk di sana karena kehabisan teman sebangku sesama lelaki.

Sejujurnya, ada ruang yang terasa ganjil di dada Duna pada minggu-minggu awal pertemanan ini. Tahun demi tahun, hanya ada punggung Tami di sampingnya. Hanya ada tawa cempreng Tami yang mengisi ruang dengarnya. Kini, ada ritme lain yang terselip kaku di antara mereka.

Namun, Raina menyimpan kejutan di balik pembawaannya yang tenang.

Meski cenderung tertutup dan hemat bicara perihal urusan pribadinya, gadis berwajah lembut itu ternyata luar biasa blak-blakan jika menyangkut urusan pria. Tanpa sensor, Raina menjelaskan kepada Tami yang bermata lapar akan gosip perihal alasan utamanya putus dari Kavi, si cowok berwajah cantik yang kini terdampar di kelas IPA. Raina bisa menceritakan aliran perasaan dan logikanya dengan begitu lancar, tanpa beban, mengalir begitu saja. (Cerita lengkap di ASLOVEGOESBY)

Pemandangan itu berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan Duna. Duna bersedia menguliti cerita apa saja tentang hidupnya jika kedua sahabatnya itu bertanya, kecuali satu hal: sebaris nama bernama Satria Danie.

“Nggak bisa gini!” Tami menggebrak meja kelas dengan mata menyala-nyala, membuyarkan lamunan Duna. “Gue harus kasih tahu ke anak-anak sekelas kalau lu nggak salah apa-apa, Na! Masalahnya itu emang ada di si Kavi sama Lisa! Tega banget mereka bikin rumor kayak gitu!”

Tami berapi-api, napasnya memburu setelah mendengar kronologi utuh dari Raina yang ternyata berbanding terbalik dengan selentingan miring yang beredar di kantin dan toilet sekolah.

Duna hanya menyimak di kursinya. Sudut bibirnya terangkat tipis, terjepit di antara rasa lelah menonton Tami yang seolah punya tangki energi tanpa batas untuk mengurus hidup orang lain, sekaligus rasa syukur yang teramat besar atas kehadiran Raina. Karena dengan adanya drama Kavi-Raina ini, pembahasan tentang Tria yang sempat menggantung berbulan-bulan lalu seakan terkubur dan terlupakan.

Tami sibuk bertransformasi menjadi juru bicara tidak resmi Raina, menyebarkan klarifikasi ke pojok-pojok kelas dengan semangat membara. Dan di dalam riuhnya ruang kelas IPS itu, Duna akhirnya bisa mencuri waktu untuk menghela napas, meredakan denyut kecemasan yang sempat menyiksa batinnya sepanjang liburan semester lalu.

Sebab, seminggu sebelum hari pertama sekolah dimulai, saat aroma kebebasan liburan masih tersisa, Ibu Tami kembali dari Singapura.

Sore itu, Tami meneleponnya, menyuruh Duna datang ke rumah untuk mengambil sekantong oleh-oleh yang dititipkan ibunya. Rasa hangat dan debar familier langsung menyergap Duna. Itu berarti satu hal: kesempatan untuk melihat Tria. Mungkin ia bisa berbasa-basi lagi tentang tugas seni, warna poster, atau hal-hal berbau desain grafis lainnya.

Semenjak malam badai setahun lalu, saat Duna dengan tangan gemetar mengantarkan secangkir teh hangat ke ruang tamu, status Duna di mata Tria memang telah naik tingkat secara drastis. Dari sekadar "sahabat Tami yang aneh dan selalu ketakutan", menjadi "penasihat visual" kepercayaan pria itu.

Duna ingat betul bagaimana seluruh persendiannya lemas ketika sebuah pesan singkat dari nomor tidak dikenal masuk ke ponselnya beberapa bulan lalu. Pesan itu berisi dua buah gambar dengan gradasi warna yang nyaris serupa, disusul teks pendek: “Duna, bagusan yang kiri apa yang kanan buat background? Tami ditanya malah jawab terserah.” Tria sengaja meminta nomornya dari Tami.

Sejak saat itu hingga detik ini, pesan-pesan tiba-tiba dari Tria sering mampir di ponsel Duna. Walau isinya murni membahas perkara tugas DKV dan Duna bersumpah demi apapun tidak akan pernah berani mengirim pesan duluan, intensitas itu cukup memangkas jarak di antara mereka. Duna tidak lagi mengkeret drastis atau kabur setiap kali berpapasan dengan Tria.

Meskipun, tetap saja, jika sepasang mata indah pria itu menatapnya langsung, jantung Duna akan bekerja lembur dan bicaranya mendadak patah-patah.

Namun, ketenangan rapuh itu runtuh dalam satu sore.


Saat Duna melangkah melewati pagar halaman rumah Tami hari itu, pemandangan di ruang tamu langsung membuat langkah kakinya terkunci.

Di sebelah Ibu Tami, duduk seorang perempuan muda berwajah oriental dengan usia yang sebaya dengan Tria. Rambutnya lurus hitam sebahu, membingkai wajahnya yang bersinar di bawah lampu ruangan. Ia mengenakan blus merah jambu yang manis dan rok jeans selutut. Ketika perempuan itu tertawa mendengar ucapan Ibu Tami, sepasang lesung pipi tercetak dalam di kedua pipinya. Sangat cantik.

Dan sangat serasi, dengan Tria.

Lihat selengkapnya