“Dan!”
Tria, yang baru saja memutar anak kunci dan membuka pintu pengemudi, menghentikan gerakannya.
Dari arah koridor gedung fakultas, Kamila berlari kecil menghampirinya. Belum sempat Tria membuka mulut untuk merespons, jemari Kamila sudah lebih dulu mencengkeram erat kain lengan jaket hitam yang dikenakan pria itu. Sepasang matanya menatap penuh harap. “Boleh numpang sampai rumah nggak, Dan?”
Tria melirik sekilas ke arah cengkeraman tangan itu, lalu beralih ke wajah Kamila. Garis rumah gadis itu memang berada di jalur yang sama dengan rute pulangnya.
“Yaudah, naik,” jawab Tria pendek.
Senyum Kamila langsung merekah lebar, menampakkan lesung pipinya yang manis. “Serius? Makasih ya, Dan!”
Tanpa membuang waktu, Kamila bergegas memutari moncong mobil dan menyelinap masuk ke kursi penumpang. Pintu tertutup dengan dentuman halus. Mesin berderu, dan sedan hitam itu perlahan bergerak membelah area parkir kampus yang mulai lengang.
Sepanjang perjalanan, atmosfer di dalam kabin mobil terasa gersang. Tria lebih banyak bungkam. Satu tangannya mencengkeram kemudi, sementara sikut tangan kanannya bertumpu di dekat bingkai jendela, dengan jemari yang sesekali mengetuk dagu. Tatapannya lurus mengunci jalanan di depan, namun sorot matanya kosong, mengisyaratkan pikirannya sedang melanglang buana ke tempat lain.
Kamila diam-diam mencuri pandang dari samping. “Lagi ada masalah, Dan?” Kamila memberanikan diri memecah kesunyian.
Tria bahkan tidak menoleh satu senti pun. “Nggak ada,” jawabnya dingin.
Kamila mengangguk kecil, menelan kembali sisa kata-katanya. Ia menunduk, mulai memainkan jemarinya sendiri di atas pangkuan.
“Besok lu ada acara nggak, Dan? Kalau—”
Kalimat Kamila terputus oleh suara getar nyaring ponsel di dalam saku jaket Tria.
Tanpa mengalihkan fokus dari aspal, Tria merogoh sakunya dan menggeser layar ke ikon hijau. Ia mendekatkan ponsel itu ke telinga.
“Lu di mana sekarang?!” Suara Tami langsung menyergap dari seberang sambungan.
Tria mengernyitkan dahi. “Arah pulang. Kenapa emang?”
“Bisa ke sekolah gue sekarang nggak?!” Suara Tami terdengar aneh. temponya terlalu cepat, berantakan, dan dibungkus kepanikan yang pekat.
Cengkeraman Tria pada setir otomatis mengeras. “Kenapa, Tam?”
“Tolong jemput sekarang!” desak Tami. “Duna... Duna luka! Kepalanya berdarah!”
Deg.
Jantung Tria rasanya seperti dihantam godam lalu terjun bebas ke dasar lambung. Seluruh pasokan darahnya mendadak berdesir dingin. “Apaan?” suaranya meninggi, ada nada serak yang mendadak lolos. “Gimana maksudnya?! Duna kenapa?!”
“Cepetan aja langsung ke sini! Dia jatuh!” desak Tami, suaranya naik satu oktaf.
Mata Tria membelalak sempurna, rahangnya mengetat kaku. “Jatuh gimana?!”
“Nanti aja! Buruan kesini!” Tami memutus sepihak. Sambungan langsung mati.
Seketika, kabin mobil itu dilingkupi kesunyian yang mencekam. Napas Tria mendadak berubah menjadi berat dan memburu. Tanpa aba-aba, ia langsung menyalakan lampu sein kiri, memutar kemudi dengan gerakan kasar dan terburu-buru, lalu menghentikan mobilnya secara paksa di bahu jalan.
Kamila terperangah. Ia menoleh cepat, mengamati sepasang mata Tria yang bergerak liar penuh kegusaran. Wajah pria itu pias, seolah-olah ia baru saja mendengar kabar tentang sebuah kecelakaan hebat.
“Mila,” panggil Tria. Suaranya bergetar halus, napasnya tertahan di dada. Ia menoleh, menatap Kamila lurus-lurus dengan sorot mata yang luar biasa serius dan dingin, sebuah tatapan yang belum pernah Kamila lihat sebelumnya.
“Sorry, Mil.” Kalimat itu meluncur cepat, tanpa basa-basi. “Lu bisa turun di sini? Temen adik gue luka, gue harus ke sekolahnya sekarang juga.”
Kamila mengerjap. “Oh,” ucapnya pelan, tenggorokannya mendadak kering. “Oke.”
Ia menarik tuas pintu dan melangkah turun ke trotoar. “Hati-hati, Dan!”
Namun Tria sama sekali tidak mendengarnya. Begitu pintu penumpang tertutup rapat, sedan hitam itu langsung melesat, meninggalkan kepulan asap tipis dan debu yang terhempas di tepi jalan. Kamila berdiri mematung di pinggir jalanan yang bising, kedua alisnya bertaut rapat. Selama berbulan-bulan mengejar Tria, ia belum pernah sekalipun melihat pria itu kehilangan kendali atas dirinya sendiri seperti itu.
Sementara itu, di sekolah Duna terus memohon dengan suara parau.
“Tam, please... nggak usah sama Kak Tria. Gue nggak apa-apa, beneran. Kita bisa naik taksi aja ke kliniknya,” bisik Duna lirih, mencoba menahan lengan Tami yang baru saja menurunkan ponsel dari telinga.
Namun, Tami justru berbalik, memelototinya dengan sepasang mata bulat yang menyala galak. Tami membungkuk, berbisik tepat di depan wajah Duna dengan intonasi yang menekan.
“Sekarang gue lagi nggak peduli sama urusan perasaan lu ke Tria, Duna! Yang penting kepala lu harus diperiksa ke dokter dulu! Darah lu banyak yang keluar!” desis Tami, mutlak tak terbantahkan.
Di sisi lain ranjang UKS, Raina ikut membantu memegangi lengan Duna yang lemas. Wajah gadis lembut itu tampak pias, dipenuhi rasa bersalah yang teramat dalam. “Maaf ya, Duna... Tami... Gara-gara gue, kalian jadi kena imbasnya,” ucap Raina dengan suara yang bergetar menahan tangis.
Kejadian sial ini memang berakar dari riuh drama kehidupan Raina. Selepas keputusannya memutuskan hubungan dengan Kavi dan memicu perseteruan dingin tak langsung dengan Lisa, si gadis paling populer sekaligus penguasa pergaulan sekolah, fans dan kaki tangan Lisa kerap mencari celah untuk mengisengi bahkan mencelakai Raina. Dan sialnya kali ini, Duna yang kena.