Tria termenung sepanjang jam perkuliahan. Sorot matanya memang tertuju lurus ke papan tulis di depan kelas, namun fokusnya telah menguap sejak lama. Suara sang dosen terdengar timbul-tenggelam di telinganya, masuk dari telinga kanan dan menguap dari telinga kiri, seluruhnya teredam oleh satu nama yang sejak pagi terus mengusik pikirannya.
Duna.
Sudah hampir dua bulan gadis itu tidak lagi menduduki kursi belakang sedan hitamnya untuk berangkat sekolah bersama. Tepatnya, sejak insiden robeknya dahi gadis itu.
Awalnya, Tria sempat mengira Duna dan Tami sedang terlibat pertengkaran khas remaja. Bahkan, sempat terlintas satu kecurigaan ekstrem: jangan-jangan luka berdarah di dahi Duna itu akibat Tami.
Namun, asumsi buruk itu patah dengan sendirinya. Setiap sore, Tami masih sering melempar jawaban ketus, "Ke seberang!" tiap kali dia bertanya hendak ke mana.
Adiknya itu akan melenggang keluar pagar sembari mendekap bundelan buku paket dan alat tulis, jelas menunjukkan bahwa ia akan mengerjakan tugas di rumah Duna.
Karena fondasi itulah, Tria memilih percaya begitu saja ketika Tami bilang Duna tidak lagi ikut menumpang karena jadwal berangkat Tria dan Tami terlampau pagi. Alasan itu mulus-mulus saja di otaknya, sampai kejutan di trotoar kompleks pagi tadi menghancurkan narasi itu.
Pagi tadi, Tria diharuskan tiba di kampus lebih awal untuk mempersiapkan kegiatan organisasi, ia bahkan memaksa Tami untuk berangkat sendiri.
Ia mengira jalanan komplek masih sepi dari peradaban saat mobilnya bergerak membelah kabut tipis menuju gerbang utama. Namun, roda mobilnya mendadak melambat ketika matanya menangkap siluet yang sangat ia kenal.
Duna sedang berjalan sendirian di atas trotoar, kepalanya menunduk samar dengan sepotong roti yang dijepit di sela bibirnya.
Refleks, Tria menginjak pedal rem, menyamakan kecepatan sedan hitamnya dengan langkah kaki Duna, lalu menurunkan kaca jendela penumpang. “Duna!” panggilnya, disusul satu ketukan klakson singkat yang memecah keheningan pagi.
Gadis itu tersentak, bahunya mencuat hingga hampir tersedak potongan roti. Langkah kakinya terkunci seketika. Dengan gerakan kaku, ia melepas salah satu kabel headset dari telinganya, lalu menoleh lambat.
“Pagi banget berangkatnya,” ujar Tria, menyunggingkan senyum ramah andalannya dari balik kemudi. “Bareng yuk!”
Namun, umpan yang ia lempar membentur dinding dingin.
“Makasih, Kak.” Hanya dua kata itu. Tanpa ada lengkungan senyum di bibir. Tanpa basa-basi kesopanan yang biasa ia tunjukkan pada orang yang lebih tua. Benar-benar datar dan mutlak.
Begitu kalimat penolakan itu selesai diucapkan, Duna langsung memasang kembali headset-nya ke telinga, memalingkan wajah, dan melanjutkan langkah kakinya yang melebar tanpa memberikan Tria celah satu detik pun untuk sekadar menawarkan kembali.
Beberapa meter di belakang, Tria hanya bisa menonton dari balik kaca depan saat Duna mengangkat tangan, menghentikan sebuah ojek yang melintas, lalu hilang di balik tikungan jalan raya. Tria mematung, jemarinya meremas setir kemudi dengan rasa heran yang mulai mengganjal.
Semakin mobilnya melaju menuju kampus, semakin isi kepalanya berputar gila membedah kejanggalan itu.
Jika alasan Duna selama dua bulan ini adalah karena jam berangkat dia dan Tami terlalu pagi, lalu mengapa hari ini gadis itu justru berangkat sebelum matahari naik seutuhnya? Jika masalahnya adalah perselisihan dengan Tami, logika sehat harusnya membuat Duna lebih memilih duduk nyaman di dalam mobilnya daripada harus bertaruh angin di atas motor ojek. Namun, Duna tetap menepis tawarannya dengan tegas.
Dari sana, sebuah konklusi merayap dan menetap di kepala Tria. Masalahnya bukan Tami. Masalahnya juga bukan perkara jam. Masalahnya adalah dirinya. Duna sengaja tidak ingin berada di dalam ruang tertutup yang sama dengannya.
Frustasi akibat kesimpulan itu mengikutinya hingga ke meja kelas. Karena rasa penasaran yang kian merongrong ego, pertengahan jam kuliah tadi Tria nekat membuka ruang obrolan, mengetik sebuah pesan singkat kepada Duna. Ia berpura-pura meminta pendapat visual tentang tugas lukis, yang sebenarnya sudah diserahkan ke dosen tiga hari lalu. Alasan, ia hanya ingin menguji apakah Duna akan merespons dengan ketikan panjang penuh rasa sungkan seperti biasanya.
Hasilnya nihil. Pesannya masuk, statusnya berubah menjadi terbaca, lalu diabaikan begitu saja. Ini adalah kali kedua dalam dua bulan terakhir.
Apa gue bikin salah? Apa ada perkataan atau gestur gue di rumah sakit waktu itu yang bikin dia nggak nyaman? Tria memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut. Semakin keras ia menggali memorinya, semakin ia tidak menemukan satupun titik kesalahan yang masuk akal.
“Woy! Malah ngelamun!”
Sebuah sikutan keras mendarat telak di pinggang kanan Tria.
Ia tersentak, tubuhnya menegak saat menoleh ke samping.