Meski sudah dilengkapi pelindung siku dan helm pinjaman yang tampak sedikit kebesaran, nyatanya proteksi itu tak sepenuhnya menghindarkan Duna dari luka. Proses menjinakkan roda dua itu tetap meminta bayaran. Tubuhnya kini bercucur keringat, membasahi kaos katunnya hingga mencetak jiplakan samar di punggung. Kulit lengan dan betisnya dihiasi goresan merah akibat gesekan aspal dan pedal besi. Namun, alih-alih meringis, Duna justru menenggak air mineralnya sembari tertawa lepas. Beban di dadanya seolah menguap bersama angin AC yang berhembus di dalam minimarket.
Di hadapannya, Malik ikut terkikik gembira. Cowok itu masih geli membayangkan bagaimana Duna tadi kehilangan keseimbangan, limbung, lalu jatuh terpental ke tengah lapangan rumput dengan posisi yang sangat canggung, padahal ia hanya mengayuh sepeda dengan kecepatan sangat pelan, nyaris seperti siput berjalan.
“Kalau lu tadi ngayuhnya kenceng, bisa mental sampai kompleks sebelah lu, Dun!” ledek Malik, memegangi perutnya yang mulai kaku karena terlalu banyak tertawa.
Duna mendaratkan pukulan pelan di bahu Malik, tidak benar-benar marah, lalu ikut terbahak bersama. Mereka kemudian bergerak keluar minimarket, berjalan beriringan menuju sepeda masing-masing.
“Eh! Duna!”
Suara bariton yang familier memecah kebisingan jalanan perumahan yang sesekali dilewati kendaraan. Suara itu bersumber dari area teras depan minimarket. Duna refleks menoleh.
Di atas bangku besi panjang yang ternaungi kanopi, Julian sedang melambaikan tangan dengan senyum lebar yang ramah. Di atas meja bundar kecil di hadapannya, tergeletak beberapa bungkus camilan yang sudah terbuka dan dua gelas minuman dingin yang mulai mengembun. Sinar matahari siang yang condong ke tengah langit menyusup di sela-sela rindangnya pepohonan pinggir jalan, memantulkan bias keemasan yang hangat pada permukaan kaca minimarket.
Namun, lengkungan senyum yang sedari tadi menghiasi wajah Duna mendadak luntur seketika. Kurva bibirnya mendatar kaku.
Julian tidak sendirian di sana. Di sebelah ketua karang taruna itu, duduk seorang pria lain.
Tria.
Pria itu duduk dengan posisi bersandar santai, sebelah kakinya yang panjang terjulur ke depan sementara tangan kirinya menggenggam sebuah kaleng minuman. Wajah Tria tampak datar. Sepasang alis tebalnya bertaut rapat di tengah, menciptakan lipatan kecil. Ekspresinya sama sekali tidak menunjukkan keramahan yang biasa ia pamerkan.
Seketika dada Duna mengencang, seolah pasokan oksigen di sekitarnya mendadak menipis.
Sudah hampir dua bulan penuh Duna menyusun strategi matang untuk menghindari konfrontasi langsung dengan Tria.
Dua bulan rela menyeberang jalan lebih awal jika lamat-lamat melihat siluet tubuh pria itu dari kejauhan. Dan dua bulan tergesa-gesa masuk kembali ke dalam rumah begitu mendengar deru mesin yang sangat ia hafal di luar pagar.
Namun sekarang, di hari Sabtu yang harusnya menyenangkan ini, barikade yang ia bangun dengan susah payah runtuh begitu saja. Orang yang paling ingin ia hindari justru duduk manis hanya beberapa meter di hadapannya.
“Iya, Kak,” sahut Duna, memaksakan sebuah anggukan kecil sekilas ke arah Julian. Ia mencoba tersenyum seadanya, murni demi menjaga sopan santun, sebelum buru-buru membuang muka. Ia tak berani membiarkan sepasang matanya berlama-lama menatap sosok dingin di sebelah Julian.
“Lu kenal?” bisik Malik pelan, jemarinya sudah mencengkeram stang sepeda dengan ragu.
“Em,” jawab Duna sesingkat mungkin, nyaris tak terdengar.
Di bangku teras, Julian menangkap perubahan drastis pada raut wajah Duna. Ia melirik tajam ke arah Tria yang berada di sampingnya. Ingatannya mendadak melayang pada percakapan mereka dulu, ketika Tria dengan wajah frustasi bertanya mengapa adik temannya itu terlihat takut padanya. Rasa penasaran yang belum sempat terjawab itu kini mendadak bangkit kembali.
“Eh Duna! Sini deh!” panggil Julian lagi, kali ini melambaikan tangannya lebih tinggi di udara.
Kaki Julian yang berada di bawah meja mendadak mendapat hantaman tendangan keras dari arah samping. Buk!! Julian tersentak, menoleh dengan dahi berkerut ke arah Tria. Temannya itu melirik sadis seolah sedang berkata, Jangan macam-macam, lu! dengan matanya. Namun respons tak biasa itu, Julian justru merasa tertantang. Rasa ingin tahunya semakin tersulut.
Duna dan Malik saling melempar pandangan penuh keraguan. Namun, karena tidak enak hati untuk menolak mentah-mentah ajakan senior kompleks, mereka akhirnya melangkah mendekat.
Ban sepeda milik Malik berderit pelan saat didorong di atas paving block. Sementara Duna memilih membiarkan sepeda Bi Marni tetap terparkir di posisinya. Semakin tipis jarak yang membentang antara dirinya dan bangku besi itu, semakin erat pula jemari Duna meremas botol air mineral di genggamannya hingga plastik itu berbunyi gemeretak halus.
Duna mengunci fokusnya hanya pada Julian, menolak melirik ke arah kanan sama sekali.
“Lagi belajar sepeda ya?” tanya Julian mencairkan suasana begitu kedua remaja itu berdiri di depan meja.
“Iya, Kak.”
“Bagus dong, biar sehat.” Julian mengangguk-angguk puas dengan senyum kebapakan, sebelum matanya bergulir meneliti Malik yang berdiri kaku di samping Duna. “Nah, kalau ini siapa? Pacarnya?”
Mendengar kata itu, Malik langsung meledakkan tawa keras hingga kedua bahunya yang ringkih berguncang hebat. “Enggak, Kak!” Tangannya bergerak panik, mengibas-ngibas di udara sebagai tanda penolakan mutlak. “Cuma teman sebangku di kelas.”
Duna ikut mengangguk dengan ritme cepat, menyunggingkan senyum kaku yang dipaksakan agar tidak terlihat canggung. “Iya.”
Di sebelah Julian, Tria yang sejak awal memilih bertindak sebagai patung mendadak menggeser fokus matanya. Ia memperhatikan Malik dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan durasi yang sedikit lebih lama dari biasanya. Seingat Tria, dari cerita-cerita yang sering ia dengar di ruang tengah rumahnya, Duna selalu duduk sebangku dengan adiknya. Sejak kapan formasi itu berubah? Dan mengapa sekarang posisinya digantikan oleh seorang cowok?