AS NIGHT FALL BY

Arisyifa Siregar
Chapter #10

10. Sikap ganjil yang tiba-tiba

“Lu inget Niko nggak?” tanya Tami tiba-tiba, memecah keheningan di meja mereka. “Temen SMP kita yang pernah naksir lu? Gue kemarin ketemu dia di mal!”

Dia mulai lagi. Duna menahan diri agar tidak menghela napas pasrah.

Beberapa bulan terakhir, Tami memang berubah. Sahabatnya itu menjadi terlalu sering membicarakan cowok, menyinggung soal pacar, bahkan terus mengulang perjanjian konyol mereka dengan Raina untuk harus punya pacar sebelum naik ke kelas dua belas. Duna tidak bodoh. Ia tahu persis ke mana arah semua taktik ini.

Sejak insiden di minimarket beberapa bulan lalu, Duna berhasil memutus interaksi dan tidak pernah lagi bertemu Tria. Awalnya terasa menyiksa, namun lama-kelamaan ia memilih menerima keadaan. Bukankah semakin jarang mereka bertemu, semakin besar peluang perasaannya akan terkikis?

Meski kenyatannya, sampai hari ini tidak ada yang berubah.

Bagaimana perasaannya bisa berkurang jika hampir setiap malam dia masih berdiri di balik tirai jendela kamarnya, diam-diam memperhatikan Tria keluar-masuk rumah di seberang jalan? Namun, setidaknya ia sudah berusaha menjauh. Karena itu, setiap kali Tami mencoba mendorongnya ke arah cowok lain, Duna selalu merasa lelah.

“Dia minta nomor lu,” sambung Tami, jemarinya sudah sibuk mengetik di layar ponsel. “Gue kasih, ya?”

Di telinga Duna, kalimat itu terdengar lebih seperti keputusan sepihak daripada sebuah pertanyaan.

“Em.” Duna mengangguk singkat. Menolak hanya akan membuat suasana canggung, sementara menerima pun terasa salah. Namun Duna sadar, situasi asing ini tercipta karena ulahnya sendiri yang memilih menjauh tanpa pernah memberikan penjelasan apa pun pada Tami.

“Liburan nanti pada mau ke mana?” sela Raina tiba-tiba.

Duna hampir bernapas lega mendengar pengalihan itu. Meski lebih banyak diam, Raina rupanya cukup peka menangkap ketidaknyamanan yang mulai mengendap di meja mereka.

“Gue keluar kota,” jawab Duna sambil merapikan buku-buku di mejanya. “Ortu ada acara.”

Tami yang tengah sibuk mengirim nomor ponsel Duna seketika menoleh. “Kok tumben?”

Bertahun-tahun mengenal Duna, Tami tahu betul sahabatnya tidak pernah antusias bepergian bersama keluarga, terutama karena hubungan Duna dengan ayahnya yang dingin. Duna selalu lebih nyaman berada di mana pun asal bukan di rumahnya. Kenyataan bahwa Duna sudah menyusun rencana liburan bahkan sebelum diajak jalan-jalan bersama keluarga Tami, seperti tradisi tahun-tahun lalu, membuat dada Tami mendadak sesak.

“Duna!” Malik berdiri di ambang pintu sambil melambaikan tangan. “Yuk, pulang!”

“Oh, iya.” Duna buru-buru menyampirkan tasnya. “Gue duluan, ya.”

Tanpa menunggu lama, Duna berpamitan pada Tami dan Raina, lalu berjalan keluar kelas sembari merogoh kunci sepeda dari saku seragamnya. Kemudian berjalan beriringan dengan Malik.

Raina memperhatikan punggung keduanya hingga menghilang di balik pintu, sebelum akhirnya mengalihkan pandangan pada Tami. Ekspresi sahabatnya itu berubah begitu sayu setelah kepergian Duna. Raina memang tidak tahu konflik apa yang sedang terjadi, dan ia tidak berniat mencampuri persahabatan yang sudah terjalin jauh sebelum dirinya hadir. Namun ia tahu satu hal: Tami sedang terluka.

Tanpa mengucap sepatah kata pun, Raina mengulurkan tangan lalu mengusap bahu Tami dengan lembut, menyalurkan ketenangan.

Tami menoleh, mendapati sorot mata hangat yang tulus dari Raina. Ia tersenyum kecil. Raina memang terlalu peka. Hubungannya yang merenggang dengan Duna pasti terlihat jelas dari luar. Namun, rahasia ini terlalu rumit dan sensitif untuk dibagikan kepada orang lain.

Tami membalas usapan itu dengan senyum tipis, merasa bersyukur karena Raina tidak pernah memaksa atau mendesaknya untuk bercerita.

***

Malik yang mengayuh beberapa meter lebih dulu akhirnya menoleh ke belakang. Keningnya langsung berkerut. Duna tidak sedang mengendarai sepedanya. Gadis itu hanya menuntun sepeda di samping tubuhnya, melangkah pelan dengan pandangan kosong mengarah ke depan. Ia akhirnya menekan rem dan turun, menuntun sepeda dengan langkah yang sengaja diperlambat.

Duna yang akhirnya berada di sampingnya, tidak langsung menyadari perubahan itu. Tatapannya masih menerawang entah ke mana.

Mereka berjalan perlahan di sepanjang jalan kompleks yang masih basah setelah hujan sore tadi. Ban sepeda sesekali melewati genangan tipis dan menimbulkan suara gemErilik air.

Malik mencuri pandang beberapa kali. Belakangan ini Duna memang sering seperti itu. Sering melamun. Sering tiba-tiba diam di tengah obrolan. “Lu kenapa sih?” Pertanyaan itu akhirnya keluar juga. “Kayak ada yang dipikirin terus. Masalah Tami?”

“Hm?” Duna mengangkat pandangannya dan langsung menggeleng. “Nggak kok.”

“Masa? Gue ngeliatnya kalian makin jauh.”

Langkah Duna melambat. Matanya kembali memandang aspal di bawah kakinya.

“Kalau lu nggak mau cerita nggak apa-apa.” Malik tersenyum kecil. “Cuma kalau suatu hari lu mau cerita, gue bisa dengerin.” Ia memandang lurus ke depan, terus melangkah sampai tak sadar kalau di belakangnya Duna berhenti berjalan.

Dalam diam Duna menatap punggung Malik yang menjauh. Selama ini ia selalu menganggap cowok itu agak cerewet, usil, dan terlalu santai menghadapi segala hal. Tapi ternyata, dia cukup peka dan perhatian. Bisa menunjukkan kalau dirinya ada tanpa memaksa untuk membuka mulut lawan bicaranya.

Lihat selengkapnya