Berusaha menyembunyikan rasa jemu dari Kamila, Tria melangkah pergi, meninggalkan perempuan itu di halaman belakang bersama Tami, Tian, dan ibunya.
Kamila tidak memprotes, dia memang selalu begitu. Terlalu ramah, terlalu pandai membaur, dan terlampau gigih mengambil hati semua orang. Justru kepalsuan yang tersusun rapi itulah yang menguras energi Tria setiap kali mereka berdekatan. Jelas sekali Kamila sedang berupaya menyusup ke dalam keluarganya, bahkan terkadang tanpa repot-repot menyembunyikan intensi tersebut.
Satu tahun terakhir, Tria mati-matian menjaga jarak. Semua berawal dari desas-desus ganjil di kampus. Beberapa teman perempuan mengaku diintimidasi, diperingatkan, atau dibuat tidak nyaman saat kedapatan terlalu akrab dengannya. Dan nama Kamila selalu terselip di balik cerita-cerita itu. Meski tanpa bukti konkret, kabar miring yang terus berdatangan membuat Tria tidak bisa lagi bersikap abai. Ia pernah hampir memperingati Kamila. Hampir. Namun, logika menahannya untuk tidak menuduh sembarangan. Jika bukan karena sang ibu yang terlanjur menyukai Kamila, Tria enggan menyertakan namanya dalam undangan hari ini.
Karena enggan berhadapan dengan tingkah Kamila yang kian menguras kesabaran, Tria memilih menyepi di dapur. Di hadapannya, meja konter dipenuhi beberapa bungkus sosis dan daging ayam marinasi. Jemarinya bergerak membuka kemasan satu per satu, sementara benaknya mengais sisa ketenangan yang sempat terenggut di halaman belakang.
Ketika pintu depan berderit terbuka, ia hanya melirik sekilas tanpa minat. Namun, sebuah desiran aneh mendadak memaku perhatiannya, memicu perasaan intens seolah sepasang mata tengah menguliti punggungnya. Sembari menahan sebungkus sosis, ia mengangkat pandangan.
Lalu, gerakan tangannya membeku.
Duna, gadis yang mengenakan jumpsuit celana pendek itu berdiri kaku di ambang pintu dapur, tampak terkejut sekaligus bimbang antara melangkah masuk atau berbalik melarikan diri. Tria pun canggung. Sudah berbulan-bulan Duna tidak menginjakkan kaki di rumahnya, padahal kediaman mereka hanya tersekat oleh bentangan aspal jalan kompleks.
Ditempatnya berdiri, Duna meremas ujung lengan bajunya yang mendadak terasa dingin. Ia butuh waktu setengah jam, bolak-balik mengitari kamar, sebelum akhirnya mengumpulkan keberanian memenuhi undangan pesta barbekyu ini. Undangan yang sebenarnya bukan datang dari Tami, melainkan dari ibunya yang kembali untuk liburan.
Tanpa perlu saling bicara, Duna dan Tami sama-sama paham bahwa mendatangi rumah ini, terutama saat seluruh keluarga berkumpul, bukanlah ide yang bijak. Karena pria di hadapannya lah yang selama ini mati-matian Duna hindari. Namun, ibu Tami tahu Duna belum berangkat keluar kota bersama orang tuanya. Menolak hadir di acara tahunan yang biasa ia ikuti hanya akan memicu kecurigaan. Ibu Tami pasti mengira mereka tengah bertengkar, dan Duna tidak ingin berakhir didudukkan berdua untuk diceramahi.
Maka disinilah Duna sekarang, menyeret langkah masuk tanpa menduga bahwa orang pertama yang harus ia hadapi justru Tria. Mengingat insiden di pertemuan terakhir mereka, sikap impulsif dan konfrontasi emosionalnya saat Tria menyebutnya sebagai seorang adik, membuat Duna didera rasa bersalah dan malu yang hebat.
Awalnya, begitu melihat punggung Tria yang mengenakan kaos hitam tanpa lengan membelakanginya, Duna berniat menyelinap langsung menuju halaman belakang. Namun, helaan napas berat yang lolos dari bibir pria itu mendadak memantik kembali niat yang terlanjur dipendam: meminta maaf atas keributan di dalam mobil waktu itu.
Sayangnya, menyusun kalimat maaf di kepala jauh lebih mudah daripada melafalkannya. Saat kesempatan itu terhampar nyata, kakinya justru terasa seberat timah. Kegugupannya kian membuncah melihat reaksi Tria. Pria itu sempat tertegun, tetapi hanya sekilas, sebelum kembali menyibukkan diri pada bahan-bahan barbekyunya seolah kehadiran Duna tak lebih dari angin lalu.
Pengabaian itu menorehkan sesak di dada Duna. Tria bahkan tidak menyapa, tidak bertanya, ataupun menoleh lagi. Sikap yang begitu kasual seolah Duna adalah bagian dari ornamen rumah yang tak perlu dipertanyakan keberadaannya. Kenyataan bahwa Tria tetap tampak biasa saja setelah berbulan-bulan ia hindari, menyalakan letik kekesalan dalam diri Duna. Ia pun memutuskan mengubur dalam-dalam niatnya. Mungkin lain kali.
Baru saja Duna hendak berbalik menuju halaman, sepasang matanya menangkap kekeliruan kecil pada meja di hadapan Tria.
“Jangan begitu!” Ucapan itu lolos begitu saja.
Tria menoleh. “Kenapa?”
Duna merutuki kelancangannya sendiri sembari menggigit bibir bawah. Dengan langkah canggung, ia mengikis jarak menuju meja. “Diolesin...” Diraihnya kuas plastik di dekat wadah bumbu, lalu mengambil alih mangkuk saus dari tangan Tria. “Gini. Bukan diguyur.”
Tria tidak menyahut, memilih membiarkan matanya terpaku pada jemari Duna yang bergerak telaten. Ia mengamati bagaimana gadis itu bersikeras menghindari kontak mata sembari terus bergumam memberi penjelasan. Jarak di antara mereka, entah sejak detik keberapa, telah terkikis terlalu rapat.
Atmosfer dapur mendadak canggung. Sesuatu yang asing menyergap benak Tria. Selama ini Duna hanyalah Duna, sahabat adiknya, tetangga sebelah rumah, anak kecil yang selalu ia posisikan sebagai adik sendiri. Namun sore ini, entah karena bias cahaya remang dapur yang jatuh di atas rambut hitam panjang gadis itu, atau aroma parfumnya yang lembut menguar, atau mungkin sisa memori tentang sepasang mata penuh luka di dalam mobil waktu itu, mengganggu ketenangannya.
"Aku juga bukan Tami. Aku bukan adik Kak Tria." Kalimat penolakan Duna tempo hari mendadak bergaung kembali, memukul gendang telinganya.
Detak jantung Tria berdentang lebih cepat. Secara refleks, ia mengambil satu langkah mundur, memperlebar jarak demi mengusir gejolak asing yang mulai merayap liar. Dengan gerakan tersendat, ia meletakkan sisa kemasan sosis ke meja, lalu bergegas menuju wastafel untuk membasuh tangan.
“Tolong bawa ke belakang.” Nada suaranya terdengar jauh lebih dingin dan berjarak dari yang ia niatkan.
Tanpa menunggu respons, ia melangkah lebar meninggalkan dapur, membiarkan Duna termangu sendirian memegang kuas plastik dengan kebingungan yang kian menebal akibat perubahan sikapnya.