AS NIGHT FALL BY

Arisyifa Siregar
Chapter #13

13. Terjebak situasi menyebalkan

Dua bulan kemudian..


“Oi!” panggil Tria dari depan rumahnya.

Duna terkejut lalu langsung menoleh ke sekeliling. Dalam radius puluhan meter, tak ada orang lain selain mereka berdua.

Tak ingin terlalu percaya diri, ia memilih diam di tempat. Mana mungkin Tria memanggilnya. Selama dua bulan terakhir, sejak mempermalukan dirinya sendiri dengan membantah ucapan Tria dan tertangkap basah melongok dari jendela kamarnya, Duna mati-matian menghindari pria itu. Bahkan tanpa bantuan Tami sekalipun, ia sudah berhasil menjaga jarak sejauh mungkin.

“Oi! Duna!” seru Tria lagi.

Mata Duna langsung membelalak lebar. Kali ini namanya disebut dengan jelas. Rasanya mustahil ia salah dengar, apalagi tak ada orang lain di kompleks itu yang memiliki nama mirip dengannya. Ia pun menoleh takut-takut, lalu menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuk.

“Aku?” tanyanya memastikan.

Tria mengangguk-angguk sambil mengulurkan tangan dan menggoyang-goyangkan jarinya ke atas dan ke bawah. “Sini!”

Duna menggigit bibirnya gugup sebelum akhirnya melangkah menyeberangi jalan menuju rumah Tria. Seperti biasa, ia menghindari tatapan mata pria itu, lalu mengaitkan kedua tangannya di belakang badan saat berhenti di hadapannya.

“Ada apa, Kak?”

Tria terdiam.

Namun matanya tanpa sadar menyapu sosok Duna dari ujung kepala hingga ujung kaki. Gadis ini hari ini mengenakan tanktop putih dengan kemeja kotak-kotak biru-hitam yang tak dikancing, juga celana jeans gombrong selutut. Dilihat dari sisi manapun, sudah tak berbekas lagi jejak anak kecil dalam dirinya. Memang jelas sudah beranjak dewasa.

Tria berdehem pelan, memalingkan wajahnya sejenak. Seolah mengais ketenangannya yang tiba-tiba menguap dibawa angin. Sejujurnya, ia sendiri tidak tahu kenapa tadi spontan memanggil Duna. Ia juga tak berniat mengakui bahwa dirinya merasa senang melihat gadis itu setelah dua bulan nyaris tak pernah berpapasan dengannya.

Ia kembali berdehem, berusaha menemukan alasan yang masuk akal atas tindakan bodohnya barusan. Matanya lalu beralih ke beberapa gadis SMA sepantaran Duna dan Tami yang kelihatan berjalan ke arah minimarket.

“Tami akhir-akhir ini kalau pulang sekolah selalu sore,” ucapnya, memilih kalimat pertama yang muncul di kepala. “Bukan pacaran, kan?”

Dahi Duna langsung berkerut. Matanya melirik sinis ke sembarang arah.

Tria bisa menangkap dengan jelas ekspresi tidak senang yang muncul di wajah Duna. Dalam hati ia langsung merutuki dirinya sendiri karena cara bicaranya terdengar seperti orang tua yang terlalu ikut campur.

“Kita cuma belajar bareng, Kak,” jawab Duna jujur.

Memang belakangan ini dirinya, Tami, dan Bagus sering belajar bersama Raina dan Yiran. Mereka menyaksikan hubungan sahabatnya yang perlahan tumbuh semakin dekat sambil ikut menyerap materi pelajaran yang didiskusikan, karena Raina sangat unggul di bidang bahasa sementara Yiran nyaris tak terkalahkan dalam matematika. (cerita lebih lengkap di ASLOVEGOESBY)

“Oh!”

Tria menanggapi terlalu cepat Rasa malu langsung menjalar di dalam dirinya. Ia merasa picik. Merasa seperti pecundang yang kembali mengeluhkan hal yang sama seperti pertemuan terakhir mereka. Lebih parah lagi, ia terdengar seperti kakak bawel yang tidak memahami adiknya sendiri. Untung Tami sedang tidur siang. Kalau adiknya mendengar percakapan ini, Tria yakin ia tidak akan ragu memukulnya sekeras mungkin.

Setelah itu, keheningan kembali merayap di antara mereka. Duna yang mulai salah tingkah segera melempar pandangannya ke sembarang arah, berusaha keras menghindari kontak mata. Untuk mengusir rasa kikuk yang semakin menyiksa, perlahan ia melepaskan kaitan kedua tangan di belakang punggungnya, lalu bergerak pelan menggosok-gosok bibirnya menggunakan ujung jari telunjuk.

Gerakan kecil itu rupanya menarik perhatian Tria. Cowok itu menoleh, dan entah bagaimana, matanya justru terpaku pada bibir Duna yang sedang diusap. Tanpa sadar, jakun Tria naik-turun saat ia menelan ludahnya sendiri dengan berat.

“Danie!”

Suara seseorang tiba-tiba memecah keheningan.

Tria dan Duna menoleh bersamaan, mendapati Kamila berjalan mendekati mereka sambil tersenyum lebar. Namun begitu berdiri di dekat Tria, tatapan cewek itu langsung melesat tajam ke Duna.

“Mau ke acara ultahnya Soraya, kan?” ucapnya dengan nada manja. “Bareng dong!”

Pipi Duna berkedut seraya bibirnya mengerucut. Menyesal kenapa pernah merasa terpana dan kagum pada sosok Kamila saat pertama kali melihatnya. Makin dilihat cewek ini makin kelihatan ekor silumannya. Kepribadiannya sangat buruk, berbanding terbalik dengan wajahnya yang cantik. Mengingatkannya pada sosok Lisa di sekolah yang kemarin hampir membuat celaka Raina lagi karena rasa sukanya pada Yiran. Beruntung Yiran buru-buru menyatakan perasaannya pada Raina, sekarang Raina sedang berada di posisi paling aman sejak ia putus dengan Kavi. (cerita lebih lengkap di ASLOVEGOESBY)

Mendadak Duna berkaca pada nasibnya sendiri. Posisinya berbeda jauh dari Raina. Raina setidaknya masih memiliki harapan karena Yiran jelas menyukainya, sedangkan dirinya bahkan tak bisa membayangkan kemungkinan seperti itu ada. Tria tak akan pernah menyukainya, apalagi menyatakan cinta padanya. Karena itu, Duna tak tahu sampai kapan dirinya harus terus berada dalam situasi menyebalkan yang selalu menempatkannya di antara Tria dan Kamila seperti ini.

Tanpa sengaja pandangannya beralih ke Tria.

Cowok itu tampak tidak senang. Entah karena kedatangan Kamila, karena ajakan ke acara ulang tahun yang tadi disebutkan, atau karena harus pergi bersama Kamila. Apa pun alasannya, ekspresi Tria sama sekali tidak menunjukkan antusiasme.

Lihat selengkapnya