Duna termenung di kursinya sendiri. Buku pelajaran terbuka di hadapannya, tetapi sejak beberapa menit lalu matanya hanya menatap satu titik tanpa benar-benar membaca apa pun.
Di belakangnya, suara Tami dan Raina terus mengalir tanpa henti. Sesekali terdengar tawa kecil mereka, lalu disusul bisikan antusias saat membahas universitas tujuan, jurusan impian, dan hubungan asmara Raina dengan Yiran yang belakangan berkembang begitu cepat.
Kelas siang itu terasa hangat. Sinar matahari masuk melalui jendela-jendela besar di sisi ruangan, memantul di lantai keramik yang kusam. Suara kipas angin tua berdengung di atas kepala, bercampur dengan obrolan teman-teman sekelas yang memenuhi ruangan sebelum guru datang. Suasana di sekelilingnya ramai, hidup, dan penuh rencana masa depan. Namun Duna justru merasa semakin terasing di tengah semua itu.
Beberapa kali ia mencoba ikut menyimak pembicaraan Tami dan Raina. Bahkan sempat berniat menyela atau memberi tanggapan. Namun setiap kali ingin membuka mulut, pikirannya kembali terseret pada masalah yang sejak kemarin terus berputar-putar di kepalanya.
"Gak usah ambil pusing, Papa dah atur kamu pasti masuk! Gak usah berusaha apa-apa, kamu masuk jalur khusus!"
Suara ayahnya kembali terngiang jelas di dalam benaknya. Kalimat itu terus berulang seperti kaset rusak.
"Salah sendiri sekolah bukan yang bener! Seharusnya kamu masuk IPA dari awal, bukan sekarang malah protes!"
Duna mengatupkan rahangnya pelan. Ia masih ingat bagaimana nada suara ayahnya malam itu. Tegas. Mutlak. Tidak memberi ruang sedikit pun untuk berdiskusi.
Padahal ia sudah berusaha menjelaskan bahwa jurusan IPS tidak bisa digunakan untuk mendaftar ke Akademi Militer. Benar-benar berpikir harapan kembali muncul setelah obrolan dengan Tria di mobilnya. Ia sudah mencoba menerangkan dengan hati-hati, berharap ayahnya mau mendengarkan. Namun seperti biasanya, setiap kali pendapat mereka bertentangan, yang dianggap salah selalu dirinya.
Dan seperti biasanya pula, Duna tidak mampu membantah. Saat itu ia hanya sempat menoleh kepada ibunya. Mencari bantuan. Mencari seseorang yang mungkin akan berdiri di pihaknya. Namun ibunya, Dahlia, hanya membalas dengan tatapan iba. Tatapan yang membuat dada Duna semakin sesak. Karena mereka sama-sama tahu tidak ada yang bisa dilakukan.
Dahlia sudah terlalu lama hidup di bawah bayang-bayang keputusan suaminya. Terlalu terbiasa menerima dan mengikuti. Terjebak dalam cara pandang yang selalu menempatkan suara suaminya sebagai keputusan terakhir yang tidak boleh diganggu gugat.
Duna menghembuskan napas panjang. Lalu menopang dagunya di atas meja. Kelopak matanya terasa berat. Kepalanya juga mulai berdenyut pelan akibat terlalu banyak berpikir. Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan suara-suara di kelas berubah menjadi dengung samar di kejauhan. Dalam benaknya ia terus mencari jalan keluar, mencoba memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bahkan terdengar mustahil.
Namun setiap kali menemukan satu celah harapan, seperti selalu ada tembok lain yang menghadangnya. Ia lelah. Sangat lelah. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, masa depan terasa begitu dekat sekaligus begitu tidak bisa ia jangkau.
Pikirannya kemudian melayang pada Raina.
Dulu Raina bahkan tidak pernah berani membayangkan dirinya bisa kuliah. Keadaan keluarganya, keterbatasan yang ia miliki, dan berbagai masalah yang mengikutinya membuat impian itu terasa terlalu jauh. Namun kemudian Yiran datang, membawa kesempatan yang tak pernah diduga siapa pun, dan perlahan hidup Raina berubah ke arah yang lebih baik. (cerita lengkap di ASLOVEGOESBY)
Mungkin saja keajaiban seperti itu juga bisa terjadi padanya. Mungkin ada sesuatu yang belum ia lihat. Mungkin suatu hari nanti akan muncul jalan keluar dari arah yang sama sekali tidak ia sangka. Harapan itu kecil. Sangat kecil. Namun saat ini hanya itu yang ia punya.
Di belakangnya, Tami yang sedang berbicara dengan Raina tiba-tiba terdiam. Matanya memperhatikan punggung Duna yang sedikit membungkuk di atas meja. Dari luar, sahabatnya itu memang selalu terlihat pendiam. Namun Tami mengenal Duna terlalu lama untuk tidak menyadari perbedaannya.
Akhir-akhir ini Duna bukan hanya pendiam. Ia seperti memikul sesuatu yang terlalu berat sendirian. Ada kesedihan yang terus mengikuti sorot matanya. Ada kelelahan yang tidak pernah benar-benar hilang dari wajahnya. Dan ada jarak yang perlahan terbentuk di antara mereka tanpa Tami tahu bagaimana cara menjangkaunya.
Tami menggigit bagian dalam pipinya pelan. Ia ingin bertanya. Ingin menarik kursi Duna lalu memaksa gadis itu menceritakan semua yang mengganggu pikirannya.
Namun setiap kali niat itu muncul, ia selalu teringat pada satu hal: bagaimana jika semua itu masih berhubungan dengan Tria? Bagaimana jika percakapan yang selama ini mereka hindari kembali muncul ke permukaan?
Tami belum siap menghadapinya. Karena sampai sekarang pun, ia masih belum tahu mana yang benar. Dan akhirnya, seperti beberapa minggu terakhir, ia kembali memalingkan pandangan sambil berpura-pura melanjutkan obrolannya dengan Raina, sementara Duna tetap duduk di depan mereka, tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Sampai bel pulang berbunyi nyaring.
“Dun!” Tami menepuk bahunya. “Lu jadi daftar di tempat les gue?”
Tangan Duna yang menopang dagunya mendadak kehilangan tenaga. Dadanya seketika mengencang. Ia lupa. Benar-benar lupa. Beberapa minggu lalu mereka berjanji akan mendaftar di tempat les yang sama.
Sementara sekarang, jangankan minta bayar biaya les, membuka pembicaraan tentang kuliah dengan ayahnya saja sudah terasa seperti berjalan di atas ranjau.
Ia memilih tersenyum tipis. “Enggak.”
“Lah?” Tami terkejut.
“Gue les di tempat lain,” tambahnya buru-buru. “Yang didaftarin Papa.” Kalimat itu keluar begitu lancar sampai telinganya sendiri hampir mempercayainya.
“Oh.” Tami langsung mengangguk. Tidak terlihat curiga sedikitpun. “Masuk akal sih.” Ia menutup retsleting tasnya. “Mungkin buat jurusan Seni atau Desain, ya?”
Duna hanya ikut mengangguk. Membiarkan asumsi itu hidup.
“Kapan mulai lesnya?” Tami tersenyum antusias, sambil bangun dari kursi. “Gue hari ini.”
Duna menelan ludah. “Sama.” Jawabannya keluar sebelum sempat dipikirkan. “Nih, pulang langsung kesana.”
Tangannya langsung bergerak menyesakkan buku ke dalam tas agar Tami tidak melihat jemarinya yang mulai gelisah.
Perasaan bersalah mengendap pelan di dadanya. Seharusnya ia jujur. Tapi setiap kali membayangkan harus menjelaskan semuanya, tenggorokannya terasa berat. Tentang ayahnya, tentang jalur khusus, tentang kenyataan bahwa ia bahkan tidak diberi kesempatan menentukan masa depannya sendiri.
“Oh yaudah!” Tami memakai tasnya. “Yok bareng ke gerbang!” Ia menoleh ke arah Raina. “Na, lu bareng Yiran kan?”
Raina mengangguk sambil membereskan buku. “Kalian duluan aja!”
Duna ikut bangkit. Tasnya disampirkan ke bahu. Ia berpamitan pada Raina lalu mengikuti Tami keluar kelas.
Lorong sekolah mulai ramai oleh siswa yang bersiap pulang. Suara langkah kaki bercampur dengan tawa dan obrolan dari berbagai arah. Cahaya sore yang masuk dari jendela-jendela panjang memantulkan warna keemasan di lantai keramik kelas yang mulai sepi dari guru.