Hari sudah gelap saat Duna turun dari motor Niko di depan komplek rumahnya.
Ia melepas helm dan menyerahkannya ke Niko yang senyam-senyum sumringah. Merasa bangga bisa pamer ke teman-temannya akhirnya dia bisa bawa cewek ke tempat tongkrongan mereka. Meskipun disana Duna hanya diam saja memainkan ponselnya, tidak menjawab pertanyaan apalagi ngobrol dengan teman-temannya, dia sudah teramat senang.
“Thanks ya,” ucap Duna sambil merapikan rambutnya. “Cuma sorry mungkin ini pertama dan terakhir kalinya, gue harap lu gak dateng ke sekolah gue tanpa izin lagi.”
Alis Niko sontak bertaut. Ia tak menyangka akan mendengar ucapan ini dari Duna setelah kebersamaan mereka sepanjang sore. Tangannya langsung terulur, menarik pergelangan tangan Duna, menahan gadis itu untuk pergi dari hadapannya.
Matanya menyala. “Terus kenapa hari ini lu minta pergi sama gue? Bukannya lu suka sama gue?”
“Ha?” Duna terperangah. Dia bahkan tidak berpikir kalau Niko mendekatinya karena benar-benar suka dengannya. “Gue nggak su—” ucapannya terhenti karena Niko menghentak lengannya kencang.
Cowok ini turun dari motor dan menatapnya tajam.
Duna berusaha melepas genggaman tangan Niko dengan memelintir tangannya ke kanan dan kiri tapi genggamannya terlalu kuat sampai tangannya merah dan terasa sakit. “Lepasin, Nik!” Ia mengerang sakit.
“Nggak!” tolak Niko, “Lu harus jelasin dulu kenapa lu mau nge-date sama gue hari ini kalau lu gak suka sama gue!”
“Ha? Nge-date?” Duna semakin tak paham dengan jalan pikiran cowok ini. Ia terus berusaha melepas tangannya namun Niko malah menggenggam lebih erat. “Nik, lepas, Nik!” Duna memohon, tangannya benar-benar kesakitan.
Niko menarik tangan Duna dalam satu hentakan keras, membuat tubuh gadis itu melesat maju dan menabrak dadanya. Tanpa memberi celah untuk lepas, Niko mengangkat tangannya yang lain, mencengkram bahu Duna dengan kuat sembari menundukkan wajahnya secara paksa.
Secara refleks, Duna menarik kepalanya ke belakang. Tubuhnya mengkeret, didera ketakutan yang hebat. Ia ingin berteriak sekuat tenaga meminta pertolongan, namun benteng di kepalanya menahan suara itu, ia terlanjur ngeri memikirkan bagaimana jadinya jika keributan ini sampai ke telinga orang tuanya.
Niko terus mempererat cengkramannya, mengabaikan penolakan Duna dan terus memaksakan wajahnya mendekat.
“Lepasin!” pekik Duna, mulai panik.
Dari kejauhan, Tria yang baru saja menyeberangi jalan kompleks menuju halaman rumahnya langsung mempertajam pandangan. Menyaksikan pemandangan itu, rahangnya seketika mengeras. Langkah kakinya langsung mengambil ancang-ancang lari, melesat kencang bahkan sebelum otaknya selesai memproses apa yang sedang terjadi.
Tria bergerak secepat kilat. Langkahnya berdentum di aspal. Hanya dalam hitungan detik, ia sudah berada di samping Duna yang mulai merintih kesakitan. Tangan kirinya terulur, menarik bahu Duna untuk mengamankannya, sementara tangan kanannya menghantam dada Niko dengan dorongan yang begitu kuat. Cowok itu terpental ke samping, limbung dan hampir saja tersungkur di atas aspal.
“Bocah sialan!” umpat Tria murka.
Ia melepaskan pelindung pada bahu Duna, lalu langsung menyerbu Niko yang masih sempoyongan menyeimbangkan pijakan. Tanpa ragu sedikitpun, dia melayangkan satu tinju mentah yang mendarat telak di wajah cowok itu.
“Akh!” Duna menjerit kaget, spontan membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan.
Tria merangsek maju, mencengkram kerah seragam Niko dengan guratan amarah yang kental di seluruh wajahnya. “Mending lu pergi sekarang. Jangan pernah berani nemuin dia lagi, atau gue abisin lu!” ancamnya, lalu menghentak cengkramannya hingga Niko terhuyung ke belakang.
“I-iya, Bang!” sahut Niko gemetaran. Nyalinya ciut seketika. Ia bergerak mundur dengan tergesa-gesa, menaiki motornya, lalu langsung menancap gas sedalam mungkin, meninggalkan kepulan asap knalpot yang pekat di udara.
Tria berbalik, menatap Duna yang masih berdiri gemetar di tempatnya. Kedua mata gadis itu tampak merah dan berkaca-kaca, pelipisnya berkeringat dingin, dan bibirnya pucat pasi.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, Tria mendekat dan langsung menggenggam erat tangan Duna. “Ayo,” ucapnya dingin, langsung menarik Duna mengikutinya.
Di balik punggung Tria yang tampak kaku dan tegang, Duna hanya bisa diam seribu bahasa. Seluruh persendiannya terasa lemas, membuat tubuhnya bergerak nyaris otomatis mengikuti langkah-langkah panjang Tria yang menyeretnya masuk ke dalam rumah cowok itu.
Tria menghempaskan pintu depan dengan keras hingga menimbulkan dentuman nyaring. Suara itu sukses membuat Tami, yang baru saja keluar dari kamar mandi, membelalak kaget. Adiknya itu membeku di tempat, menyaksikan dengan pandangan bingung saat Tria membawa Duna ke ruang tamu dan mendudukkannya di sofa.
“Kenapa?” Tami bergegas mendekat dengan raut wajah penuh tanya. Tatapannya berubah panik begitu menyadari kondisi Duna yang masih kentara gemetaran. Ia mengalihkan pandangan pada kakaknya yang berdiri membelakangi mereka. “Ada apaan, Kak?”
Tria menoleh, tatapannya tampak bengis. “Lu tuh punya otak gak sih, Tam!” bentaknya kasar.
Tami tersentak, napasnya seolah tertahan di tenggorokan. “Kenapa... gue kenapa?” tanyanya terbata-bata, kebingungan sekaligus takut.
“Lu tuh harusnya ngelindungin temen lu!” Tria menunjuk Tami dengan penuh penekanan. “Bukan malah ngenalin dia sama cowok brengsek kayak gitu!”