AS NIGHT FALL BY

Arisyifa Siregar
Chapter #16

16. Matinya semangat

Bulan demi bulan bergulir, dan Duna memilih untuk menenggelamkan dirinya ke dalam tumpukan buku pelajaran. Ujian demi ujian datang dan pergi, memenuhi hari-harinya dengan jadwal belajar yang padat, latihan soal yang tiada habisnya, serta kecemasan tentang masa depan yang tak pernah benar-benar hengkang dari kepalanya.

Di tengah semua kepenatan itu, diam-diam ia tetap mengikuti ujian masuk universitas bersama Tami. Meski tahu Bahrain, ayahnya, telah menyusun rencana mutlak lain untuk masa depannya, Duna tetap ingin mencoba. Setidaknya sekali dalam hidup, ia ingin memperjuangkan sesuatu yang benar-benar ia pilih atas kehendaknya sendiri.

Namun, tepat ketika seluruh rangkaian ujian telah berakhir dan masa tenang yang penuh harapan itu seharusnya dimulai, sebelum sang ayah menyeretnya untuk mengikuti ujian masuk Akademi Militer yang menurut Duna hanyalah sebuah formalitas belaka, sebuah kejadian tak terduga mengguncang hari-hari terakhir mereka di sekolah.

Raina menghilang.

Senin pagi yang seharusnya dipenuhi obrolan ringan tentang kelulusan, universitas impian, dan rencana liburan mendadak berubah menjadi kepanikan massal. Yiran mencari ke mana-mana tanpa kenal lelah, sementara Tami dan Duna ikut membantu semampu yang mereka bisa. Namun, hari demi hari berlalu tanpa hasil. Setiap usaha yang mereka lakukan berakhir membentur dinding kosong. Tidak ada yang tahu Raina berada di mana, pun tidak ada yang tahu bagaimana keadaannya.

Yang membuat semua ini terasa semakin ganjil adalah kenyataan bahwa tidak ada tanda-tanda apapun sebelumnya. Saat terakhir kali mereka bertemu di kelas, semuanya tampak baik-baik saja. Bahkan setahu Duna dan Tami, Raina sempat menghabiskan akhir pekan bersama Yiran sebelum akhirnya lenyap tanpa jejak.

Kepergian Raina yang misterius perlahan meredupkan semangat semua orang, termasuk Duna. (cerita lengkap di ASLOVEGOESBY)

Minggu berganti minggu hingga tanpa terasa hari kelulusan sudah di ambang pintu.

Di saat yang sama, Duna juga mulai mempersiapkan diri untuk keberangkatan menuju ujian "formalitas" yang telah disiapkan ayahnya. Terlebih setelah pengumuman ujian universitas keluar dan namanya tidak tercantum dalam daftar kelulusan, Duna tidak lagi memiliki alasan atau senjata untuk menolak keinginan Bahrain.

Hari-harinya terasa suram dan menjemukan. Seolah-olah pintu masa depan yang ia impikan perlahan ditutup satu per satu tepat di depan matanya.

Lalu, beberapa hari sebelum kelulusan, Tami bertamu ke rumahnya. Begitu melihat langkah kakinya di ambang pintu, Duna langsung tahu ada sesuatu yang tidak biasa. Sahabatnya itu bahkan belum sempat duduk ketika mulai berbicara panjang lebar, menceritakan sebuah kabar yang menurutnya sangat krusial. Katanya, ia akhirnya menemukan petunjuk tentang keberadaan Raina, bahkan mungkin tahu di mana gadis itu bersembunyi sekarang.

Kabar tentang Raina seharusnya menjadi hal pertama yang menyedot seluruh perhatian Duna. Namun anehnya, bukan informasi itu yang membuat Duna terpaku. Untuk pertama kalinya sejak mereka saling mengenal, Duna menangkap sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya di wajah Tami.

Ada kilatan cahaya aneh yang terus muncul setiap kali sahabatnya itu menyebut satu nama tertentu. Ada lengkung senyum yang terbit tanpa diminta, dan ada kegelisahan kentara yang justru terlihat seperti letupan kebahagiaan. Tami sedang jatuh cinta.

Dan kenyataan itu terasa jauh lebih mengkhawatirkan bagi Duna ketimbang kabar tentang hilangnya Raina. Karena pria yang berhasil membuat Tami bertingkah seperti itu adalah Kavi, mantan kekasih Raina sendiri. (cerita lengkap di ASYEARSGOBY)

Isi perut Duna seketika bergolak. Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah persahabatan mereka, Duna menghardik Tami dengan nada tinggi.

“Lo gila, ya?!” potong Duna telak. “Itu mantan Raina, Tam!” Ia menggeleng-gelengkan kepala, benar-benar habis pikir.

Namun, Tami tampaknya sudah kelewat jatuh hati hingga logikanya tumpul.

Detik itu juga, Duna akhirnya mengerti bagaimana rasanya berada di posisi Tami selama ini. Rasanya sangat menyebalkan. Mengkhawatirkan. Menimbulkan hasrat ingin menjewer kepala orang keras kepala yang nekat jatuh cinta pada orang yang salah.

Jadi, begini rasanya saat melihat sahabat sendiri berjalan sukarela menuju jurang sambil tersenyum lebar. Pantas saja dulu Tami mati-matian memasang benteng untuk menjauhkannya dari Tria. Kini, Duna merasakan urgensi yang sama: ia ingin melakukan hal yang sama untuk menyelamatkan Tami.

***

Keesokan harinya, untuk pertama kalinya sejak insiden mengerikan bersama Niko, Duna kembali menginjakkan kaki di rumah Tami.

Pagi itu, atmosfer di dalam kamar terasa kontras. Mereka sedang menunggu Kavi datang menjemput untuk bertolak ke Bandung demi menemui Raina. Sementara Tami sibuk mondar-mandir di depan cermin besar, merapikan helaian rambut dan berkali-kali mengubah posisi poninya dengan cemas, Duna hanya duduk diam di tepi ranjang, memangku tasnya.

“Terlalu lebay nggak?” tanya Tami untuk kesekian kalinya, meminta penilaian.

Duna mendengus pelan, menatap jengah. “Lu mau ketemu Raina atau Kavi?”

Sebuah bantal langsung melayang dan mendarat telak di tubuh Duna.

Jika itu terjadi beberapa bulan lalu, Duna pasti akan terbahak-bahak membalas keusilan Tami. Namun hari ini, tidak ada tawa yang lolos dari bibirnya.

Sudah berbulan-bulan ia memahat komitmen untuk berhenti mengawasi rumah ini dari balik jendela kamarnya. Sudah berbulan-bulan pula ia memaksa otaknya hanya memikirkan ujian, kegagalan masuk universitas, dan bayang-bayang masa depan yang perlahan direnggut paksa dari tangannya. Selama itu, Duna benar-benar mengira dirinya telah berhasil membunuh perasaannya pada Tria.

Ia berpikir ia sudah sembuh. Sampai akhirnya suara klakson mobil terdengar nyaring dari depan pagar rumah. Dan sampai mereka berdua melangkah keluar dari kamar Tami secara bersamaan.

Tepat di saat yang sama, pintu kamar mandi di seberang koridor terbuka. Tria muncul dari sana tanpa pakaian menutupi tubuh bagian atasnya. Cowok itu hanya mengenakan celana pendek santai, dengan selembar handuk putih yang tersampir longgar di bahu kokohnya.

Detik itu juga, seluruh pondasi keyakinan yang susah payah Duna bangun selama berbulan-bulan runtuh tanpa sisa.

Secara refleks, Duna langsung membuang muka, melempar pandangannya pada lantai. Jantungnya berdentang begitu hebat hingga rasanya nyaris melompat keluar dari rongga dada. Sialan, umpatnya dalam hati. Hanya dalam hitungan persekian detik, bayangan visual tubuh Tria langsung menjajah seluruh isi kepalanya. Rona merah menjalar cepat di wajah Duna, memanaskan hingga ke ujung telinganya.

Di sampingnya, Tami langsung bertolak pinggang dengan gusar. “Tria!” bentaknya kesal. “Berapa kali, sih, gue bilang jangan keliling rumah telanjang dada begitu!”

Tria hanya mendecih pelan, mengabaikan protes adiknya. Namun perlahan, matanya bergerak, beralih menatap lurus pada Duna. Tatapannya tertahan selama beberapa saat pada wajah Duna yang tertunduk dalam-dalam. Tangannya secara refleks bergerak menarik ujung handuk di bahunya, menutupi dadanya sendiri yang terekspos.

“Kalian mau ke mana?” tanya Tria, suaranya terdengar agak berat.

“Ke Bandung. Ketemu Raina,” sahut Tami ketus, masih jengkel.

Tanpa memberi celah sedikitpun bagi Tria untuk melayangkan pertanyaan lanjutan, Tami langsung menyambar pergelangan tangan Duna. “Berangkat dulu.”

Duna bahkan tidak memiliki sisa keberanian untuk sekadar menoleh atau mengucapkan pamit. Ia membiarkan tubuhnya ditarik pasrah keluar dari rumah, lalu berjalan cepat membelah halaman menuju mobil yang sudah terparkir di depan gerbang.

Duna terus berjalan dengan dada yang masih bergemuruh hebat, sementara di sebelahnya, Tami sudah kembali tenggelam dalam dunianya sendiri, tersenyum riang membayangkan perjalanan panjang yang akan ia lalui bersama Kavi.

Dalam diam, sebuah kesadaran pahit menghantam Duna: ia tidak pernah benar-benar melupakan Tria.

Lihat selengkapnya