Beberapa minggu kemudian…
“Sial!” umpat Tami.
Duna yang duduk beberapa baris di belakangnya refleks mengangkat kepala, mengikuti arah tatapan sahabatnya menuju panggung utama aula. Di sana berdiri Kavi bersama barisan lulusan terbaik. Melihat ekspresi Tami yang seketika mematung, Duna mendengus pasrah.
Ia tahu, ia baru saja memenangkan taruhan konyol mereka beberapa minggu lalu.
Saat itu, mereka sempat bertengkar hebat karena dirinya menekan Tami untuk berhenti mengejar Kavi. Tami yang keras kepala bersumpah perasaannya sudah hilang jika bertemu Kavi lagi di acara kelulusan ini, dan berjanji akan mengecat rambutnya menjadi pirang jika ia terbukti kalah.
Namun, belum sampai satu menit melihat Kavi hari ini, seluruh pertahanan sahabatnya itu jelas runtuh tak berbekas.
Duna menggeleng kecil dengan senyum getir. Besok, saat ia melangkah ke stasiun untuk memulai hidup baru di militer, ia tahu Tami akan benar-benar memperjuangkan perasaannya dengan rambut pirang.
Acara kelulusan berakhir menjelang sore. Di tengah riuh aula yang mulai bubar, Duna yang bersiap keluar mendadak bertemu mata dengan Kavi. Sial, ia tidak bisa menghindar karena cowok itu langsung berjalan lurus membelah kerumunan menuju ke arahnya.
Ia sudah mengira kalau Kavi mendekatinya untuk menanyakan keberadaan Tami, atau membahas rencana mereka mengantar ijazah Raina ke Bandung. Namun, cowok itu justru berdiri diam dan memperhatikannya cukup lama sebelum melontarkan pertanyaan tak terduga.
“Gue ada salah sama lu, atau lu ada masalah sama gue?”
Duna mengerjap. Pertanyaan itu menghantamnya begitu mendadak hingga ia gagal menyembunyikan keterkejutannya. Tertohok kenyataan bahwa selama ini Kavi menyadari sikap dingin dan tatapan sinis yang kerap ia tunjukkan.
Ia buru-buru menggeleng. “Nggak, emang gue kenapa?” jawabnya cepat, meski tahu suaranya terdengar sangat tidak meyakinkan.
Kavi menghembuskan napas pendek, seolah tahu tidak akan mendapat kejujuran dari Duna, lalu memilih mengalihkan topik. “Tami di mana?”
Duna diam-diam bernapas lega. Demi menjaga sikap agar tidak terlihat kekanak-kanakan, ia menjawab dengan ekspresi dipaksa ramah, “Udah pulang duluan tadi, chat aja.”
Tapi tetap saja tanpa menunggu balasan, dia langsung berbalik dan berjalan cepat meninggalkan aula. Di mata Kavi pasti dirinya jelas masih ketus. Tapi masa bodoh, dia sudah tak akan ikut campur dengan urusan cinta Tami lagi.
Begitu tiba di dekat pintu utama, ia merogoh ponsel dan mencoba menghubungi Tami.
Setelah dua kali tak terjawab, panggilan ketiganya baru tersambung di seberang sana. Sambil menatap lalu-lalang orang di halaman, Duna menghela napas panjang dan berucap langsung tanpa salam, “Lu nggak usah warnain rambut! Gue juga nggak bakal ngehalangin lu lagi.”
“Sorry.”
Suara dari seberang telepon membuat jantung Duna langsung menghentak.
“Tami tadi pergi buru-buru bilang mau ke salon. HP-nya ketinggalan di mobil.” Ada jeda singkat. “Dia mau warnain rambut?” tanya Tria terdengar heran.
Duna langsung memejamkan mata rapat-rapat. “Oh... oke kalau gitu,” ucapnya gugup. “Nanti aku telepon Tami lagi.”
“Eh, tunggu!”
Duna yang sudah hampir menurunkan ponselnya kembali menempelkan telepon ke telinga.
“Kamu masih di aula, kan?”
Duna tidak langsung menjawab.
“Pulang bareng aja!”
Ajakan itu membuatnya terdiam. Besok ia berangkat. Besok semuanya berubah. Dan kemungkinan besar ia tak akan melihat Tria lagi untuk waktu yang sangat lama.
Pikiran itu perlahan memunculkan keberanian yang selama ini selalu ia tekan. Untuk terakhir kalinya, ia ingin membiarkan dirinya berada di dekat Tria.
“Oke,” sahutnya pelan. Kemudian menutup telepon, dan menenteng tasnya menuju lapangan parkir.
***
Mobil Tria terparkir di barisan paling depan.
Begitu Duna membuka pintu belakang untuk meletakkan tas sekolahnya, pandangannya langsung tertumbuk pada tas milik Tami yang sudah lebih dulu tergeletak di sana. Ternyata Tria tidak berbohong, dan Tami pasti benar-benar sedang berada di salon sekarang. Duna menggeleng pelan, masih tidak habis pikir dengan kenekatan sahabatnya itu. Ia lantas menutup kembali pintu belakang, lalu beralih membuka pintu depan untuk mendudukkan diri di kursi penumpang.
Sembari menarik sabuk pengaman, pikiran Duna mendadak melayang jauh. Fokusnya yang mendadak pecah membuat ujung besi sabuk pengaman itu beberapa kali meleset, gagal masuk ke dalam slot penguncinya.
Melihat kesulitan itu, Tria mengulurkan tangan untuk membantu.
Gerakannya semula sederhana, nyaris refleks. Namun, tepat saat punggung tangan mereka tidak sengaja bersentuhan, atmosfer di dalam kabin mobil mendadak bergeser drastis.
Tubuh Duna langsung menegang kaku. Sentuhan singkat yang tidak direncanakan itu mengirimkan sengatan instan yang membuat wajahnya seketika memanas. Dilanda kepanikan, ia buru-buru memalingkan wajahnya lurus ke arah jendela, berpura-pura sangat tertarik memperhatikan detail mobil yang terparkir di sebelah mereka demi menyembunyikan rona merah yang telanjur menjalar hingga ke pipi.
Yang tidak Duna ketahui, Tria pun tidak jauh lebih tenang.
Cowok itu segera menarik tangannya kembali dengan cepat, seolah baru saja menyentuh bara api yang menyengat kulitnya. Dengan gerakan yang dipaksakan sesantai mungkin, ia mulai menyalakan mesin mobil. Ia menelan ludah dengan berat sembari mengeratkan rahangnya, berusaha keras meredam detak jantungnya yang mendadak berpacu di luar kendali.
Suasana di dalam kabin merayap menjadi begitu hening, seperti memotong pasokan udara di antara mereka berdua. Dan dalam keheningan yang mencekik itu, Tria tersadar bahwa ia tidak akan pernah bisa mengabaikan keberadaan Duna yang duduk tepat di sampingnya. Wangi parfum manis yang samar dari tubuh gadis itu, serta deru napasnya yang halus, semuanya terasa begitu pekat memenuhi rongga dadanya.
Untuk pertama kalinya sejak ia menawarkan tumpangan pulang tadi, Tria mulai merutuki impulsivitas tindakannya sendiri. Ia menyesal, karena pada akhirnya justru dirinyalah yang terjebak di sini, kebingungan setengah mati untuk mengendalikan luapan perasaan yang mendadak tumpah ruah tak terkendali.