7 Tahun 8 bulan kemudian..
Sengaja tak pernah pulang lama ke rumah setiap liburan, Duna menghabiskan tahun demi tahun dengan berat di perantauan. Ia hanya menginap dua hari, saat kelulusan Tami yang berbarengan dengan acara lamaran Raina dan Yiran. Itu pun ia tak mampir ke rumah. Ia terlalu membenci kedua orang tuanya apalagi ayahnya. (cerita lengkap di ASLOVEGOESBY)
Masa-masa pendidikan begitu berat, setelah lulus dan terjun ke dunia kerja malah lebih berat.
Berita tentang dirinya yang masuk dengan cara tak sehat menyebar dengan cepat dan luas, ia hampir tak punya teman, dan hampir selalu masuk rumah sakit setiap dua bulan karena terlalu stres dan mengeksploitasi dirinya sendiri dalam bekerja agar tak waktunya tak terbuang sia-sia untuk mendengar cemoohan orang tentangnya.
Ia punya lima mantan pacar tapi semuanya tak ada yang bertahan lebih dari enam bulan, semua minta putus karena sikap dinginnya.
Saat ini ada satu cowok yang dekat dengannya selama setahun terakhir, Eril, pangkatnya satu tingkat diatas Duna, ia bahkan membantu Duna latihan untuk persiapan kenaikan pangkatnya kemarin. Pria itu selalu perhatian dan hampir selalu menawarkan bantuan tanpa diminta.
Ayah Eril juga perwira tinggi, pangkatnya bahkan lebih tinggi dari pangkat ayah Duna. Tak heran kalau orang-orang segan padanya, dan mulai bersikap baik pada Duna saat tahu Duna dekat dengan pria itu. Meskipun hanya di depannya saja, di belakangnya semua masih menggunjingkannya suka-suka.
Hari ini pertama kalinya ia pulang ke rumah. Setelah empat tahun lalu mampir dan malah membuat kekacauan karena bertemu dengan Julian yang memintanya memberitahu Tami tentang keberangkatan Kavi ke Amerika, tanpa ia sadari ia menjadi salah satu alasan hancurnya hubungan Kavi dan Tami yang terjalin sudah dua tahun lamanya. Kalau saja dia tak pulang waktu itu, kalau saja dia tak memberitahu Tami tentang keberangkatan Kavi. Tami mungkin tak akan memergoki Kavi dan Lisa, mereka mungkin masih pacaran atau sudah menikah sekarang seperti Yiran dan Raina (cerita lengkap di ASYEARSGOBY)
Kali ini ia pulang bukan tanpa alasan, kondisi kesehatan ibunya semakin menurun. Diabetes dan darah tingginya semakin parah.
Duna mendengarkan kata Eril untuk menjenguk ibunya di masa liburnya dia kali ini. Eril sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri, meskipun ia tak tahu apakah cowok itu merasakan yang sama seperti dirinya, yang jelas ia merasa perlu menuruti kata-kata Eril karena tak ada salahnya. Kebetulan Eril juga pulang ke jakarta, jadi dia bisa mengantar Duna pulang di waktu yang sama.
Saat memasuki kamarnya setelah sekian lama, Duna mencium bau khas dirinya saat masih remaja dulu. Ia lalu bergeser ke arah kaca, melihat dirinya yang sekarang di cermin. Rambutnya saat ini benar-benar pendek tak melebihi telinga, kulitnya sedikit lebih coklat, tubuhnya kurus dan sedikit berotot. Ia menghela nafas, penampilannya sama sekali tak menarik.
Ia bergerak ke meja belajarnya, menyentuh permukaannya lalu membuka jendela kamarnya, kemudian tertegun. Ia memandangi rumah Tami dan kamar Tria, yang bisa jadi sudah tak di situ lagi.
Dia dan Tami selama ini terlalu sibuk bekerja dan menjalani kehidupan masing-masing, terlebih dirinya, ia benar-benar cukup jarang berkomunikasi dengan Tami dan Raina.
Terakhir video call tahun lalu, Tami bilang sedang membantu persiapkan pernikahan kakaknya. Duna bahkan tak bertanya pernikahan siapa. Karena wajar saja kalau itu pernikahan Tria, dia sudah di usia matang, sangat masuk akal kalau pria itu menikah dengan salah satu cewek dari banyak cewek yang selalu ada di dekatnya.
Pintu kamarnya diketuk. Duna menengok dan melihat ibunya masuk. Seketika hatinya terenyuh, Ibunya terlihat sangat kurus dan lesu. Ia buru-buru menghampiri dan menuntun ibunya untuk duduk di tempat tidur. Dengan senyum tipis ibunya memegang tangan Duna.
“Gimana kabar kamu, bertahun-tahun nggak pulang, benci banget sama Mama Papa ya?” tanya Dahlia lembut.
Duna terdiam tak bisa menjawab, ia hanya memandang tangannya yang dipegang ibunya. Terlalu jujur untuk mengiyakan, terlalu dusta untuk menyanggah.
Dahlia menangkap gelagat Duna, ia menggenggam tangan anaknya lebih erat. “Maafin Mama ya, yang selalu gak berguna buat kamu setiap kali di depan Papa.”
Tak peduli seberapa Duna kesal dengan Ibunya, ia tahu betul bagaimana ibunya juga tersiksa setiap kali harus menuruti perintah ayahnya yang terlalu keras.
Duna membalas menggenggam tangan ibunya sambil menggeleng. “Nggak apa-apa, Ma. Aku ngerti.”
***
Tria mengangkat tubuhnya dari kasur dengan letih, melangkah ke arah bangku kerja lalu menyambar kaos hitam yang tersampir di sana. Sambil mengenakan kaos, matanya melirik ke arah jendela. Hari rupanya sudah berganti lagi. Seminggu terakhir ia terlalu berambisi menyelesaikan tenggat proyek pekerjaan hingga kurang tidur, dan begitu semuanya rampung, ia langsung tumbang dan tidur seperti orang mati sejak kemarin.
Merasa tubuhnya masih lemas dan pegal, Tria perlahan menyibak gorden kamarnya untuk membiarkan cahaya siang menerobos masuk. Sudah lama sekali ia tidak menikmati waktu istirahat di siang hari seperti ini. Pola hidupnya belakangan selalu sama: berangkat saat langit masih gelap, dan pulang ketika malam sudah larut.