AS NIGHT FALL BY

Arisyifa Siregar
Chapter #19

19. Panasnya malam di musim kemarau

(((Bagian ini mengandung cerita traumatis. Mohon kebijakan untuk pembaca.)))


Kedua kakinya terasa lunglai, seolah seluruh pasokan tulang di tubuhnya mendadak meloloskan diri. Bobot badannya seperti berlipat ganda, memaksa Duna bergerak turun dari tepi ranjang dengan merangkak, menggunakan sisa-sisa tenaga yang nyaris menyentuh titik nadir. Dalam remang kamar, jemarinya yang bergetar hebat meraba-raba lantai dingin, memunguti sepotong demi sepotong pakaiannya yang terserak tak keruan.

Setiap jengkal gerakannya memicu denyut perih yang luar biasa, terutama rasa linu yang menyengat di bagian kewanitaannya, mengkonfirmasi paksa kilasan mimpi buruk yang baru saja terjadi. Dengan kesadaran yang kian menipis dan pandangan yang terus berputar akibat sisa-sisa obat yang dipaksakan masuk ke tenggorokannya, Duna memaksakan kaki-kakinya masuk ke dalam celana jeans dan jaket merah mudanya. Bau tembakau pekat, alkohol, dan aroma busuk tirani di kamar itu terasa mencekik lehernya. Ia harus pergi. Dadanya bergemuruh hebat oleh rasa takut yang membakar habis sisa warasnya.

Sebelum melangkah ke arah pintu, ia menoleh untuk terakhir kali. Melalui tatapannya yang berkunang-kunang, ia menatap nanar ke arah ranjang berantakan itu. Di sana, Eril masih tertidur pulas dengan posisi telentang, teler berat, sepenuhnya tak berdaya di bawah pengaruh alkohol dan zat adiktif yang ia tenggak berkali-kali seperti orang gila.

Enggan menyia-nyiakan satu detik pun, Duna menyeret langkahnya keluar. Koridor hotel terasa begitu panjang dan asing, bergoyang-goyang seiring kepalanya yang kian dipalu rasa pening. Ia berjalan merambat, telapak tangannya menempel ketat pada dinding pembatas sebagai satu-satunya penopang agar tubuhnya tidak ambruk ke lantai. Seluruh sisa eksistensinya dikerahkan hanya untuk satu tujuan: keluar dari neraka jahanam itu.

Begitu berhasil menembus pintu luar, tamparan udara dingin malam langsung menyergap kulitnya. Langit di atas sana begitu pekat tanpa bintang. Kegelapan itu mengacaukan orientasi waktunya; Duna tidak lagi mampu membedakan apakah jam masih berdenting di tengah malam atau fajar sudah akan mengintip di ufuk timur. Dengan sisa-sisa insting bertahan hidup, ia membelokkan langkah kakinya menuju gang sempit yang pengap di samping bangunan hotel.

Namun, pertahanan fisiknya habis di sana. Kedua lutut Duna menyerah, menekuk paksa hingga tubuhnya jatuh terduduk lemas di atas aspal yang basah oleh embun, bersandar pada deretan tempat sampah yang berbau menyengat. Napasnya tersedot pendek-pendek dan patah, sementara dadanya terasa begitu sesak, menyisakan rasa mual yang terus naik ke hulu kerongkongan.

Tidak boleh. Tidak boleh berhenti di sini, batinnya menjerit, didera kepanikan massal yang mencengkeram urat nadinya. Duna tahu, jika ia membiarkan matanya terpejam sekarang, Eril akan menemukannya begitu pria itu terbangun, dan kali ini pria itu tidak akan membiarkannya lolos hidup-hidup, setelah apa yang dia lakukan.

Sambil terus menggelengkan kepala demi mengusir kabut kelam yang berusaha menidurkan kesadarannya, Duna merogoh saku jaket dengan tangan yang gemetar tak terkendali. Ponselnya terasa begitu licin saat ia mencoba membuka daftar kontak.

Dan entah mengapa, di titik paling nadir saat nyawanya berada di ujung tanduk, benaknya justru memutar ulang sebaris kalimat yang diucapkan Tria siang tadi. Sebuah kalimat sederhana yang menggantung di bawah rintik hujan.

“Kabarin aja kalau kamu butuh bantuan apapun, ya?”

Mungkin karena racun di dalam tubuhnya telah merusak nalar logisnya, atau mungkin karena pada kenyataannya, hanya nama pria itulah yang selama sewindu ini bertindak sebagai jangkar di dasar hatinya. Tanpa sempat memikirkan konsekuensi, malu atau sisa gengsi yang selama ini ia pelihara, ujung jemari Duna menekan tombol panggil pada nama Tria.

Di tengah kesunyian gang yang mencekam dan dingin, suara nada sambung dari ponselnya terdengar begitu nyaring, memotong desis angin malam yang terasa panas oleh napasnya.

Satu kali... dua kali... dan tepat pada nada sambung yang ketiga, suara klik pendek terdengar. Panggilan itu terhubung, menyisakan keheningan yang sarat akan antisipasi di seberang sana.

“Halo, Duna?” Suara Tria di seberang sana terdengar sentak, sarat keterkejutan nyata.

“Kaaak...” Duna merintih lirih. Suaranya nyaris habis, pecah oleh getaran hebat yang menuntut pertolongan. “Tolong, Kak... aku... tolong... aku...” Kalimat itu keluar terbata-bata, tersendat di tenggorokan yang mengering.

“Halo?! Duna?!” Kepanikan instan langsung merayap Tria. “Duna, kamu kenapa?! Sekarang kamu di mana?!”

Sambil menyandarkan kepalanya yang terasa berat pada permukaan tempat sampah, Duna memaksakan kelopak matanya yang bengkak untuk terbuka sedikit. Ia melempar pandangan nanar ke arah bangunan di seberang jalan. “Optik...” ujarnya lemah, begitu tipis mirip desau angin. “Optik... Lencana... merah...”

Lihat selengkapnya