AS NIGHT FALL BY

Arisyifa Siregar
Chapter #20

20. Luka yang ditahan sendiri

(((Bagian ini mengandung cerita traumatis. Mohon kebijakan untuk pembaca.)))


“Lo tuh gue yang bantu selama ini!” bentak Eril dengan urat-urat leher yang menegang tegang. “Jangan sok kecakepan bertingkah sama cowok sana cowok sini!”

Tanpa belas kasihan, Eril menyentak kasar pergelangan tangan Duna, mengunci pergerakan tubuh gadis itu di bawah kungkungan posturnya yang besar. “Minum nih, minum!” paksanya lagi. Telapak tangan besar Eril meremas kuat kedua sudut mulut Duna hingga rahang gadis itu terbuka paksa. Ia menjejalkan beberapa butir pil misterius, lalu menumpahkan sebotol minuman beralkohol tinggi langsung ke dalam kerongkongan Duna yang tersedak.

Padahal, pertemuan mereka hanya diawali dengan sebuah obrolan santai antar teman kerja. Padahal, Duna mengira segelas minuman yang disuguhkan Eril di awal tidak mengandung zat berbahaya apa pun yang bisa meloloskan kesadarannya.

Namun, entah racun apa yang diam-diam dicampurkan Eril ke dalam sirup jeruk miliknya, Duna mendadak kehilangan kendali atas sistem saraf tubuhnya sendiri. Seluruh ototnya mendadak lemas layaknya jeli. Di tengah kepungan kabut kantuk teramat sangat yang berusaha menenggelamkannya, Duna bertaruh nyawa untuk memastikan sepasang matanya tetap terbuka. Namun, fisik Duna yang lumpuh tak mampu berbuat banyak saat Eril menyeretnya melewati lorong-lorong hotel yang remang-remang, hingga akhirnya mereka terperangkap di dalam kamar terkutuk itu.

Duna dihempaskan paksa ke atas ranjang. Di bawah tatapan sepasang mata Eril yang tampak telah kehilangan seluruh warasnya, Duna terus dicekoki berbagai cairan memabukkan dan butiran-butiran obat. Pria itu tampak seperti monster yang mengerikan, ia bisa tertawa terbahak-bahak di satu detik, lalu tiba-tiba meledak murka dan melayangkan pukulan mentah ke tubuh Duna di detik berikutnya.

Makin lama, kesadaran Duna makin berada di ambang batas kematian. Namun, ingatan akan penderitaan itu tercetak dengan sangat jelas dan pekat di kepalanya.

Duna ingat betul bagaimana jiwanya terus meronta melawan, bagaimana ia mencoba mengumpulkan sisa udara di paru-parunya untuk berteriak meminta pertolongan, yang justru dihadiahi hantaman demi hantaman yang makin keras di wajah dan sekujur tubuhnya.

Ia ingat dengan teramat jelas bagaimana tubuhnya diangkat lalu dihempaskan secara brutal ke sudut tempat tidur, hingga bagian belakang kepalanya membentur dinding kamar dengan suara debuman yang memekakkan telinga.

Sepasang tangan kasar Eril mulai merobek dan menanggalkan pakaian yang melekat di tubuhnya. Cengkeraman kuat yang membekas keunguan mampir di bahunya, disusul satu pukulan telak lagi yang mendarat di pipinya saat dia mencoba memberikan perlawanan terakhir. Pria itu mendekatkan wajahnya yang beraroma alkohol dengan seliar binatang, memaksakan kehendaknya tanpa mempedulikan tangis dan rintihan kesakitan Duna yang diredam bantal.

Hingga akhirnya, di dalam kamar yang pengap dan berbau busuk itu, Eril merenggut paksa kesucian Duna dengan cara yang amat keji.


Duna tersentak bangun dengan napas terengah-engah. Tubuhnya gemetar hebat oleh sisa kepanikan, dan secara refleks ia langsung menegakkan tubuh untuk duduk. Matanya yang membelalak menangkap selang infus yang tertancap di punggung tangan, lalu bergerak liar menyapu ke sekeliling ruangan yang asing. Rumah sakit. Namun, ingatan akan malam jahanam itu masih melekat terlampau pekat dan mengerikan di benaknya. Tanpa bisa ditahan, Duna menarik kedua lututnya ke dada, memeluknya erat, dan mulai terisak hebat.

Mendengar tangisan itu, Tria terjaga dari tidur semunya. Ia langsung beranjak dari sofa di sudut ruangan dan bergegas menghampiri. “Duna, Duna, tenang... ini aku, Tria.”

Tria mengulurkan tangan untuk menyentuh bahu Duna, namun gadis itu justru menyentak mundur, menghindar dengan sorot mata yang dipenuhi trauma.

“Duna,” panggil Tria lagi, menurunkan oktaf suaranya menjadi jauh lebih lembut, “Duna, liat aku. Ini aku, Tria.” Ia perlahan mendudukkan diri di tepi ranjang, memangkas jarak, menghadap langsung ke arah Duna.

Perlahan, Duna mengangkat wajahnya yang sembab. Manik matanya yang berair menatap lurus pada pria di hadapannya. “Kak... Tria?” bisiknya teramat lemah.

Tria mengangguk samar, memaksakan seulas senyum hangat terukir di bibirnya. “Iya, nggak apa-apa. Ini aku.”

Bibir Duna seketika gemetar. Air matanya kembali luruh menumpahi pipi saat ia menatap Tria dengan ekspresi yang begitu tersiksa. “Kak Tria...”

Tak sanggup lagi melihat kerapuhan itu, Tria langsung condong ke depan dan membawa Duna ke dalam pelukannya. Ia mendekap tubuh Duna erat-erat, sekuat tenaga mengunci rahang untuk menahan dirinya sendiri agar tidak ikut menangis. Telapak tangannya bergerak ritmis, mengusap punggung Duna dengan kelembutan yang menenangkan.

“Nggak apa-apa,” bisik Tria di dekat telinga Duna, mencoba mengusir badai. “Nggak apa-apa... aku di sini. Aku nggak akan ke mana-mana.”

Lihat selengkapnya