AS NIGHT FALL BY

Arisyifa Siregar
Chapter #21

21. Titik Balik

((((((Bagian ini mengandung cerita percobaan bunuh diri. Mohon kebijakan untuk pembaca.)))


Sambil berjalan keluar dari lift kantor, Tami menempelkan ponsel ke telinga, mencoba menghubungi nomor Duna.

Benaknya didera kebingungan seketika. Tadi di perjalanan, Julian sempat berujar bahwa Duna pulang ke Jakarta sebulan yang lalu. Sebagian diri Tami menolak percaya; mana mungkin sahabat karibnya itu pulang tanpa memberi kabar sedikitpun padanya? Namun, rasa penasaran yang teramat besar telanjur tumbuh, menuntut sebuah kepastian.

Meski tahu jam kerja militer sangat ketat dan kemungkinan besar Duna akan kesulitan menjawab panggilannya, Tami tidak mampu lagi membendung keingintahuannya.

“Halo?” Suara Duna akhirnya terdengar dari seberang saluran.

“Dun, lu beneran balik ke Jakarta bulan kemarin?” sosor Tami tanpa basa-basi, mengabaikan kalimat sapaan standar.

Di seberang sana, keheningan sempat menjeda selama beberapa detik sebelum Duna menjawab pelan, “Em. Cuma sebentar, jenguk Mama.”

Sambil menaruh tas kerjanya di atas meja dan mendudukkan diri di kursi, Tami mengernyitkan dahi dalam-dalam. “Kenapa nggak bilang sama gue?”

Di koridor yang sepi, Duna menyandarkan punggungnya ke dinding. Jemari tangan kirinya bergerak gelisah, menggosok-gosok sudut bibirnya yang kini telah sembuh dari robekan, namun masih menyisakan memori perih yang pekat. “Lupa,” sahut Duna, teramat singkat.

Wajah Tami seketika menekuk. Ada keganjilan yang tertangkap oleh radarnya; nada suara Duna terdengar begitu datar, asing, dan dingin. Entah Tami yang sedang terlalu sensitif karena mereka sudah jarang bertukar kabar, atau memang ada sesuatu yang telah berubah drastis dari diri sahabatnya itu. “Lu... lagi ada masalah, Dun?” selidik Tami dengan nada menyipit.

Mata Duna mendadak berkelebat waspada. Di ujung lorong, ia menangkap sekelebat bayangan seseorang yang buru-buru menyembunyikan tubuh di balik pilar setelah menyadari keberadaannya.

“Nggak. Udah dulu ya, Tam. Nanti gue telepon lagi,” potong Duna cepat.

Ia langsung memutus sambungan sepihak, bahkan sebelum Tami sempat membuka mulut untuk menyahut. Duna menurunkan ponselnya, menjejalkannya ke dalam saku seragam lorengnya, lalu melangkah lebar-lebar menuju pintu besi tangga darurat.

Seketika, seluruh tubuh Duna gemetar hebat menahan pasokan adrenalin yang melonjak drastis. Urat-urat di tangannya mengepal sekuat tenaga saat matanya menangkap sosok Eril yang sedang berdiri di antara anak tangga, menyunggingkan sebuah senyuman kaku yang menjijikkan.

“Boleh ngomong sebentar? Aku mau minta maaf,” ucap Eril, melangkah maju.

Sebelum pria itu sempat mengikis jarak, Duna bergerak secepat kilat. Dengan kekuatan yang dipompa amarah, ia mencengkeram kuat-kuat kerah seragam Eril, menyentaknya keras, lalu menghempaskan tubuh besar pria itu ke sudut hingga punggungnya membentur dinding beton dengan suara debuman yang pekat.

“Diem!” tekan Duna. Matanya bergetar, memerah menatap tajam dengan kilat kebencian yang mendalam.

“Eh!” Eril tersentak kaget. Ia mencoba melepaskan cengkraman tangan Duna dari lehernya, namun jemari Duna justru mengunci kerah seragamnya jauh lebih erat, mencekik jalur pernapasannya hingga pria itu mulai kepayahan meraup udara. “Du—Duna... maaf... aku keterlaluan,” ucap Eril terbata-bata dengan wajah yang mulai memerah. “Tapi... itu... aku beneran suka sama kamu. Kita... kita juga bakal dijodohin, kan? Kita bakal nikah...”

Bugh!

Satu tinju mentah berkekuatan penuh melayang akurat, menghantam telak di tengah ulu hati Eril. Sentakan itu seketika membuat tubuh Eril merosot lumpuh ke lantai tangga darurat. Pria itu meringis kesakitan, memegangi perutnya yang kram hebat.

“GUE BILANG DIEM!” bentak Duna. Suaranya adalah teriakan yang diredam paksa di tenggorokan, sementara seluruh badannya berguncang hebat oleh trauma yang bertransformasi menjadi murka.

Duna membungkuk, mencengkram rahang Eril agar pria itu menatapnya. “Kalau lu berani bahas hal ini ke siapa pun, gue yang bakal laporin lu! Lu kira gue bakal hancur sendirian, hah?! Gue bakal seret lu sampai ke neraka kalau perlu! Jadi mending lu tutup mulut kotor lu itu!” ancam Duna dengan tatapan sedingin es.

Lihat selengkapnya