AS NIGHT FALL BY

Arisyifa Siregar
Chapter #22

22. Kesempatan Kedua

((((((Bagian ini mengandung cerita percobaan bunuh diri dan kekerasan fisik. Mohon kebijakan untuk pembaca.)))


Duna menyeret kopernya dengan sisa-sisa tenaga yang meloloskan diri dari tubuhnya. Semula, ia berpikir setidaknya fisik ringkihnya itu akan bertahan hingga ia menginjakkan kaki di rumah Jakarta. Hari ini adalah hari yang paling dinantinya; hari di mana ia akhirnya bisa melarikan diri dari lingkungan kantor lamanya dan berangkat mutasi ke ibu kota. Sebelum melapor kepindahan ke markas baru, Duna berniat mampir ke rumah untuk menjenguk Ibunya. Namun kini, realitas menamparnya. Ia hanya mampu memaksa tubuh lunglainya untuk berbelok, merangkak masuk ke dalam toilet bandara yang sunyi.

Ia tersadar, dirinya telah keliru.

Ternyata, badai cobaan dalam hidupnya belum mencapai puncak tertinggi.

Ia tidak pernah menduga bahwa eksistensinya sebagai manusia bisa dihancurkan hingga ke titik serendah ini. Ia tidak pernah mengira akan merasakan rasa sakit yang begitu hebat, yang menjalar di sekujur tubuhnya bagai sengatan listrik.

Duna ingin melarikan diri, bersembunyi di lubang terdalam mana pun di mana mata manusia tidak bisa menjangkaunya. Namun saat ini, bahkan sepasang kelopak matanya pun menolak untuk terbuka. Seketika, seluruh pandangannya berubah pekat, gelap gulita, dan hanya bunyi berdengung nyaring yang tertinggal di indra pendengarannya.

Tubuh Duna ambruk, jatuh pasrah di atas lantai dingin toilet bandara.

Begitu kelopak matanya kembali terbuka, ia mendapati dirinya sudah berada di tempat berbeda.

“Permisi, Dok! Pasiennya sudah siuman!” Teriak sebuah suara asing memecah keheningan.

Penglihatannya masih buram dan berbayang, namun bau alkohol medis yang menyengat segera menyadarkan Duna bahwa ia berada di rumah sakit, tempat yang terasa begitu familiar sekaligus mengerikan baginya selama hampir satu dekade ini. Kepalanya terasa seberat timah, sementara bagian perutnya meletupkan rasa perih luar biasa, seolah sedang dihantam oleh ribuan jarum tak kasat mata.

Saat seorang dokter mendekat dan mulai melakukan pemeriksaan intensif, seketika firasat buruk mencuat di dada Duna.

Sebenarnya, bukan karena ia tidak menyadarinya sejak awal. Ia hanya berusaha keras untuk membunuh prasangka itu di dalam kepalanya, teramat takut jika ketakutan terbesarnya menjadi nyata. Namun, sudah dua bulan siklus menstruasinya berhenti total. Beberapa hari terakhir, setiap pagi ia selalu disambut rasa mual yang menguras isi lambung, dan sepanjang hari sisa nafsu makannya menguap entah ke mana. Tubuhnya kian melemah, menyusut bagai digerogoti penyakit tipes parah.

Semula ia menghibur diri, mengira segala anomali itu hanyalah efek samping dari konsumsi obat penenang dosis tinggi. Ia bahkan sempat nekat menghentikan konsumsinya selama beberapa hari, yang justru berujung pada insomnia akut dan sindrom waspada yang menyiksa sarafnya.

Pagi tadi, sebelum menaiki pesawat menuju Jakarta, ia terpaksa menenggak pil itu lagi. Namun sial, perutnya justru mulai bergejolak hebat dan sepanjang penerbangan tubuhnya terus diperas oleh keringat dingin.

Kini, setelah serangkaian pemeriksaan medis selesai dilakukan, kalimat yang keluar dari bibir dokter paruh baya di hadapannya meruntuhkan sisa waras yang Duna miliki.

Dokter itu menyatakan dengan hati-hati bahwa Duna sedang mengandung, dan kondisi janin di dalam rahimnya sedang tidak baik-baik saja.

Dokter menyarankannya untuk segera melakukan pemeriksaan menyeluruh yang biasa dilakukan oleh calon ibu. Melihat tingginya kadar zat kimia dari obat penenang di dalam sampel darah Duna, dokter itu memperingatkan bahwa janin tersebut berpotensi besar mengalami kecacatan atau bahaya. Namun, Duna jelas tidak peduli. Jangankan gumpalan darah yang tidak diinginkan di dalam perutnya, ia bahkan tidak keberatan jika detik ini juga nyawanya yang dicabut dari dunia.

Melawan semua protokol dan arahan tim medis, Duna bersikeras meminta dipulangkan detik itu juga. Dengan jemari gemetar, ia menandatangani surat pernyataan mutlak bahwa semua risiko medis akan ditanggungnya sendiri tanpa menuntut apapun kepada pihak rumah sakit. Ia membayar seluruh tagihan administrasi dengan langkah kaki yang terhuyung-huyung, lalu membuang kertas resep obat dari dokter ke tong sampah terdekat.

Ia segera melangkah meninggalkan rumah sakit dengan kondisi fisik dan batin yang hancur lebur.

Beberapa menit kemudian, ia sudah berdiri memaku di atas jembatan penyeberangan orang yang terletak tak jauh dari area rumah sakit. Pikirannya kosong melompong, sementara rasa sakit di fisiknya terus menyiksanya tanpa jeda.

Padahal, sejak kecil Duna adalah seorang pengidap fobia ketinggian akut. Namun saat ini, tidak ada lagi rasa ngeri yang biasanya mencengkeram benaknya. Matanya menatap kosong ke arah jajaran mobil yang berlalu lalang dengan kecepatan tinggi di bawah jembatan. Di dalam kepalanya yang porak-poranda, deru mesin mobil-mobil itu seolah bertransformasi menjadi suara bisikan gaib yang memanggilnya untuk melompat ke bawah sana.

Mungkin, ini jalan keluar terbaik, pikirnya hampa.

Hidupnya sudah terlalu berantakan dan berada di fase tak tertolong lagi. Tidak akan ada satu orang pun yang peduli atau menangis jika dia tiba-tiba lenyap dari muka bumi ini. Duna menggeser kedua kaki telanjangnya mendekat ke tepian pagar pembatas jembatan, lalu memejamkan matanya lekat-lekat, bersiap menyerahkan diri pada gravitasi.

Bzzzt... Bzzzt...

Tepat di detik krusial itu, ponsel di genggaman tangannya bergetar hebat diiringi nada dering yang nyaring. Saat Duna terpaksa membuka mata, layar ponsel menampilkan satu nama: Raina.

Dorongan dalam diri Duna sangat kuat untuk mengabaikan panggilan tersebut dan melanjutkan niatnya. Namun, entah kekuatan dari mana, jemarinya justru menggeser layar ke arah ikon hijau. Ia mendekatkan ponsel itu ke telinga, mendengarkan suara Raina yang memanggil namanya di seberang sana.

Lihat selengkapnya