Tami baru saja melangkah keluar dari kamarnya dengan selembar handuk yang masih tersampir di bahu. Dahinya berkerut dalam begitu mendapati pintu depan rumahnya terbuka lebar. Ia menyapu pandangan ke seluruh penjuru ruang tamu, melangkah ke ruang keluarga, hingga melongok ke arah dapur.
Tami sempat menyerukan nama Tria berkali-kali, mengira kakaknya itu berada di dalam kamar mandi. Namun, Tria tidak ada di mana pun, padahal laptopnya masih menyala mementaskan dokumen kerja di atas meja ruang tamu.
Sembari menggelengkan kepala, jengkel dengan kelakuan aneh kakaknya akhir-akhir ini, Tami berjalan mendekati pintu depan untuk menutupnya. Tepat di ambang pintu, pandangannya secara refleks terlempar ke arah rumah Duna. Matanya seketika menyipit saat menangkap siluet seorang pria yang sangat mirip dengan Tria sedang tergesa-gesa menggendong tubuh seorang wanita, memasukkannya ke dalam mobil hitam milik Ayah Duna.
Tami mengucek matanya berulang kali. Tidak mungkin itu Tria. Tapi... siluet wanita itu jelas-jelas adalah Duna.
Mengingat betapa pucat dan mengerikannya kondisi fisik Duna sore tadi, firasat buruk seketika mencengkeram dada Tami. Ia melempar begitu saja handuk di bahunya ke atas sofa dan langsung berlari keluar rumah sambil memakai sandalnya. Ia menyeberangi jalanan aspal dengan terburu-buru, menuju halaman rumah Duna tepat di saat mobil hitam itu melesat pergi meninggalkan kepulan asap.
Tami menaiki undakan tangga teras dengan jantung yang berdegup abnormal. Namun, sesaat sebelum jemarinya sempat mengetuk pintu kayu yang setengah terbuka, ia dikejutkan oleh gelombang suara Ayah Duna yang sedang berbicara dengan intonasi yang sangat tinggi.
Lebih dari itu, hal yang membuat Tami benar-benar membeku di tempat adalah ketika ia mendengar suara Ibu Duna yang balik membentak suaminya dengan kekuatan yang tak kalah hebat.
Belasan tahun mengenal Dahlia, wanita paruh baya itu selalu dikenal sebagai sosok yang penurut, lembut, dan tidak pernah sekalipun meninggikan suara dihadapan sang suami. Tami terkesiap di balik dinding teras. Sesuatu yang teramat besar dan mengerikan sedang terjadi di dalam sana.
Enggan memperkeruh suasana di ruang depan, Tami memutar langkahnya menuju bagian belakang rumah. Ia menyelinap masuk melalui pintu dapur yang tidak terkunci, dan langsung mendapati Bi Marni sedang terduduk di sudut ruangan, menangis sesenggukan dengan seluruh tubuh yang gemetar hebat.
Tami mendekat dengan langkah sangat hati-hati. Bi Marni adalah sosok yang teramat menyayangi Duna melampaui apapun; wanita tua itu menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk merawat Duna ketimbang membesarkan anak kandungnya sendiri di kampung halaman. Begitu telapak tangan Tami menyentuh punggung Bi Marni, ia bisa merasakan guncangan yang hebat dari tubuh wanita tua itu. Bi Marni menangis tersedu-sedu, namun berusaha keras meredam suaranya agar tidak terdengar sampai ke ruang depan.
Begitu menyadari kehadiran Tami, Bi Marni secepat kilat menggenggam erat jemari gadis itu, berjuang mati-matian menghentikan isak tangisnya.
“Neng... Neng Duna keguguran,” ucap Bi Marni terbata-bata di antara napasnya yang tercekat.
Tami seketika membeku. Seluruh otot di wajahnya mendadak kehilangan ekspresi. Kepalanya mendadak kosong, lumpuh oleh gelombang informasi yang baru saja menghantam indra pendengarannya. Ia bahkan tidak yakin apakah sepasang telinganya masih berfungsi dengan benar.
Keguguran? Bagaimana mungkin hal sekolosal itu menimpa Duna? Bagaimana bisa Duna hamil?
Dunia di sekitar Tami mendadak berputar lambat, menjebaknya dalam rasa linglung yang hebat hingga ia tidak bisa berhenti mengedipkan matanya yang membelalak.
“Neng, tolong liatin Neng Duna...” Cengkeraman tangan Bi Marni di lengan Tami mengencang, menyentak kesadaran Tami kembali dari labirin pikirannya yang tersesat. “Dia dibawa ke rumah sakit sama Mas Tria.”
“Tria?!” Tami refleks mengkonfirmasi dengan suara naik satu oktaf. “Tria kakak aku?!” tekannya, memastikan ia tidak salah tangkap.
Bi Marni mengangguk cepat dengan sisa air mata yang berlinang.
Sementara itu, dari arah ruang tamu, lamat-lamat terdengar suara Dahlia yang menyatakan dengan tegas bahwa ia sudah muak dengan segala keangkuhan suaminya dan memilih pergi detik ini juga untuk menyusul sang anak ke rumah sakit. Di detik yang sama, suara Bahrain terdengar langsung melayangkan kutukan kepada nama Tria, menuduh dan mencurigai pria itu sebagai bajingan brengsek yang telah merusak masa depan putrinya dan menyebabkan seluruh kekacauan ini.
Sontak, Tami didera kebingungan yang kian meremukkan logikanya. Pasokan oksigen di sekitarnya seolah menipis hingga ia terpaksa bernapas menggunakan mulut demi menenangkan debaran jantungnya yang kian liar.
Bencana apalagi ini? Jadi pria yang ia lihat tadi memang benar-benar Tria? Apa sebenarnya hubungan kakaknya itu dengan semua penderitaan Duna? Mengapa Tria bisa terlibat sejauh ini ke dalam pusaran badai yang sama sekali tidak bisa Tami pahami ujung pangkalnya?
Meskipun Tria memiliki reputasi sebagai seorang playboy yang kerap berganti kekasih, Tami sangat tahu bahwa kakaknya tidak akan pernah melangkah sejauh dan semenyeramkan itu. Lagipula, setahu Tami, Tria dan Duna tidak pernah sekalipun bertemu selama delapan tahun terakhir.
Atau... apakah telah terjadi sebuah rahasia besar di antara mereka berdua saat Julian mengatakan Duna sempat kembali ke Jakarta dua bulan yang lalu? Namun tetap saja, nalar sehat Tami menolak keras kemungkinan itu.
Enggan menjebak diri dalam asumsi-asumsi yang kian liar dan menyiksa, Tami langsung berbalik arah. Ia berlari keluar dari dalam rumah Duna melalui pintu dapur, melintasi halaman dengan langkah seribu menuju gerbang depan kompleks. Ia langsung mengangkat tangan, memberhentikan taksi pertama yang melintas di jalan raya.