Tria berlari kalap menyusuri lorong demi lorong, memeriksa ruang demi ruang di rumah sakit. Bersama seorang petugas keamanan dan beberapa perawat yang tampak kewalahan, ia belum juga menemukan keberadaan Duna. Wanita itu tiba-tiba menghilang dari ruangan tepat di saat Tria turun ke kantin untuk membeli makan siang.
Jantung Tria bertalu kencang, memompakan kepanikan yang merajai seluruh isi kepalanya. Ia dirundung ketakutan luar biasa; kondisi fisik Duna masih terlampau ringkih, apalagi wanita itu menolak keras menyentuh makanan atau seteguk air pun selama mendekam di rumah sakit.
Tria mendadak berhenti di tengah koridor, memejamkan mata sejenak demi memeras otaknya: Jika menjadi Duna yang sedang hancur lebur, ke mana ia akan pergi mencari pelarian?
Mata Tria mendadak berkelebat waspada. Logikanya langsung menuntun langkahnya berbelok cepat menuju pintu tangga darurat. Ia memacu tungkai kakinya, menaiki anak tangga demi anak tangga dengan kecepatan penuh hingga tiba di lantai lima, lantai tertinggi rumah sakit, dan mendapati pintu besi menuju area rooftop sedikit terbuka. Keringatnya bercucuran, napasnya terengah-engah memburu udara saat matanya menyapu sekeliling area atap beton yang gersang.
“DUNA!” teriak Tria parau.
Pandangannya terkunci pada sosok Duna yang sudah berdiri di tepian pembatas bangunan, menatap kosong ke arah jalanan di bawah sana. Tanpa membuang sedetik pun, Tria menghambur maju, menyambar pergelangan tangan Duna, lalu menarik tubuh ringkih itu ke dalam dekapan dadanya, memeluknya teramat erat seolah takut wanita itu akan menguap ditiup angin.
Telinga Duna yang tertekan di dada Tria bisa mendengar dengan sangat jelas betapa gilanya debaran jantung pria itu. Bukannya luluh, Duna justru mengumpulkan sisa tenaganya untuk mendorong dada Tria menjauh. Ia mundur selangkah, menatap Tria dengan mata yang menyala oleh amarah dan keputusasaan.
“Aku bilang jangan ikut campur urusan aku, Kak!” bentaknya dengan suara serak yang bergetar.
Tria menatap Duna dengan sorot mata yang sarat akan siksaan batin. “Duna, please... kasih aku kesempatan.”
“Buat apa, Kak Tria?!” seru Duna, suaranya melengking membelah keheningan rooftop. “Buat apa Kakak repot-repot mau bantu aku? Karena kasihan? Karena Kakak mau beramal baik? Atau karena kondisi aku sekarang kelihatan begitu menjijikkan dan menyedihkan di mata Kakak?!”
“Nggak, Duna!” Tria bergerak selangkah maju, mengikis jarak. “Aku...” Lidahnya mendadak kelu, kalimatnya menggantung di udara. “Aku...” Ia meremas rambutnya sendiri, menggaruk kepalanya dengan gestur frustasi yang memuncak. “Aku sayang sama kamu!” serunya lantang, membiarkan rahasia besarnya telanjang di udara.
“Hah!” Duna meloloskan satu hembusan tawa sinis. Detik berikutnya, tawa itu berubah menjadi tawa terbahak-bahak yang terdengar sumbang. Matanya menatap lurus ke arah Tria dengan kekosongan yang mengerikan.
Di hadapannya, Tria terpaku kebingungan. Tawa Duna sama sekali tidak mengandung unsur kebahagiaan; itu adalah bentuk tangisan terselubung dari jiwa yang terkoyak.
“Setelah bertahun-tahun lamanya... Kak Tria masih menganggap aku ini lelucon?” ucap Duna lirih setelah tawanya mereda.
Tria memejamkan mata, membuang napas frustasi sembari memaksa dirinya untuk tetap tenang menghadapi Duna yang sedang digulung trauma. “Aku nggak pernah menganggap kamu sebagai lelucon, Duna. Nggak sekarang, dan nggak juga dulu!” jelas Tria dengan intonasi yang melunak, penuh kelembutan yang menjalar. “Aku, beneran suka sama kamu!”
Alis Duna bertaut rapat. “Nggak lucu, Kak Tria,” geleng Duna, menolak percaya.
Kesabaran Tria menipis. Mengabaikan jarak aman, ia merangsek maju dan mencengkram kedua belah tangan Duna yang dingin. “Lihat mata aku!” tekannya, memaksa Duna menatap lurus ke dalam matanya. “Ada kelihatan aku lagi bercanda, hah?! Apa selama kamu kenal aku dari dulu, aku pernah jadiin kamu bahan bercandaan?”
Mata Duna bergerak gelisah ke kanan dan ke kiri, menyelami ketulusan yang terpancar dari tatapan Tria yang begitu intens dan mengunci. Detik itu juga, Duna menyadari bahwa tidak ada setitik pun kebohongan dari kalimat pria itu. Tria benar-benar serius.
Seketika, sudut bibir Duna bergetar hebat, hidungnya memerah menahan sengatan perih. Ia menundukkan kepala sedalam-dalamnya, lalu tangisnya pecah seutuhnya. Ia merasa tersiksa oleh takdir yang seakan-akan sedang mempermainkan sisa hidupnya dengan cara yang paling kejam.
Kenyataannya, ia masih sangat menyukai Tria. Setelah belasan tahun berlalu sejak masa sekolah, rasa cintanya tidak pernah bergeser barang satu sentimeter pun. Berkali-kali ia mencoba menjalin hubungan dengan pria lain, namun semuanya selalu berujung pada kegagalan mutlak. Alam bawah sadarnya selalu bekerja otomatis, membandingkan setiap lelaki yang datang dengan sosok Tria di kepalanya.
Semestinya, detik ini ia berada di puncak kebahagiaan. Semestinya, ia sudah melompat kegirangan. Mendengar Tria mengungkapkan perasaan sayang secara tiba-tiba, menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri pria itu melindunginya dari amukan sang Ayah dan mengajaknya menikah, semua itu adalah skenario terindah yang bahkan tidak pernah berani Duna idam-idamkan di dalam mimpinya yang paling liar.
Semestinya ia bahagia.
Namun, realitas yang ia pijak justru menghadirkan ironi yang mencekik. Fakta bahwa Tria mengetahui semua rahasia terburuknya, berada di sisinya saat tubuhnya berlumuran darah akibat keguguran, dan tiba-tiba menyodorkan sebuah pernikahan serta pernyataan cinta... semua itu justru terasa seperti cemoohan takdir yang paling sarkas atas hidupnya yang sudah kotor.
Bagaimana bisa ia menerima cinta Tria di saat dirinya sendiri bahkan menolak keras keadaannya yang sekarang? Dari seluruh manusia di atas bumi, Duna adalah orang yang paling membenci dirinya sendiri saat ini. Bagaimana bisa ia berpikir jernih tentang semua ketulusan yang Tria tawarkan? Pikiran traumatisnya meyakinkan Duna bahwa Tria hanya digerakkan oleh rasa iba yang mendalam. Tria hanya mengasihaninya, dan karena pria itu telanjur basah mengetahui bencana yang menimpanya, Tria merasa bertanggung jawab untuk menciptakan jalan keluar yang heroik.
Tria kembali mengulurkan kedua tangannya, merengkuh tubuh Duna kedalam pelukan yang jauh lebih erat, sembari telapak tangannya bergerak lembut mengusap-usap bahu gadis itu yang berguncang. Ia sudah memantapkan tekad di dasar sukmanya untuk menikahi Duna. Ia tidak peduli lagi seberapa banyak badai tantangan, penolakan, atau makian dari Ayah Duna yang akan menghadangnya di masa depan. Ia sama sekali tidak peduli.
Untuk pertama kali dalam hampir tiga puluh tahun masa hidupnya, Tria menemukan ketertarikan emosional yang begitu kuat pada seorang wanita. Dan untuk pertama kali pula, ia merasakan insting yang begitu besar untuk melindungi seseorang dengan segenap jiwa raganya. Selama ini ia hidup hampa tanpa tujuan yang jelas, bertindak impulsif semau perutnya sendiri. Namun sore ini, di atas rooftop yang panas ini, Tria bertransformasi; ia ingin menjadi pria yang lebih baik, pria yang bertanggung jawab penuh atas masa depan Duna.
“Aku nggak akan memaksa kamu, Duna,” bisik Tria di dekat telinga Duna. “Aku akan ikuti apapun kemauan kamu nanti. Tapi tolong... kita bicarakan semuanya baik-baik dulu setelah kondisi kamu pulih. Jangan pernah berpikir kalau kamu nggak punya siapa-siapa di dunia ini. Ada aku disini. Ada Mama kamu yang sekarang lagi menunggu di kamar perawatan dengan rasa cemas yang luar biasa. Ada Tami, ada teman-teman kamu yang lain. Jadi tolong... pertimbangkan lagi ucapan aku. Tolong kasih aku kesempatan.”