Bagai dicambuk kawat berduri, Duna merasakan rasa sakit yang teramat menjalar di sekujur tubuhnya. Dadanya sesak, memendam hasrat ingin berteriak sekencang-kencangnya saat menangkap sosok Eril sedang duduk angkuh di ruang tamu rumahnya. Pria tak tahu diri itu sedang mengobrol dan tersenyum bersama Ayahnya dengan begitu santai, bersikap seolah-olah tidak pernah ada tragedi mengerikan yang ia lakukan dan seakan seluruh peringatan keras Duna menjauh dari hidupnya hanyalah gertakan yang dipandang sebelah mata.
Gigi Duna gemeretak rapat, rahangnya mengeras hingga menyisakan rasa pening di kepala. Kedua tangannya mengepal begitu kencang, sampai telapak tangannya terasa perih, tertusuk oleh ujung kukunya sendiri.
Bahrain, menengok ke ujung tangga. Tanpa rasa bersalah, ia menyuruh Duna untuk segera mendekat dan duduk di sofa ruang tamu. Terlihat jelas pria berwatak keras itu sedang berakting lemah lembut; bersikap seolah keadaan mereka baik-baik saja dan ini adalah momentum yang paling tepat untuk membahas kelanjutan rencana pertunangan mereka.
Di seberang ruangan, Dahlia berdiri mengawasi dengan dada yang bergemuruh. Ia memperhatikan setiap perubahan ekspresi dan tanggapan defensif Duna terhadap kedatangan Eril serta titah sang suami. Naluri tajamnya sebagai seorang ibu seketika berteriak nyaring: Eril, laki-laki yang sedang tersenyum culas itulah sumber utama dari seluruh penderitaan dan hancurnya Duna.
Meskipun sebelumnya Dahlia sempat berpikir egois bahwa siapapun bajingan yang telah merusak hidup Duna harus bertanggung jawab, namun sore ini, menyaksikan anak semata wayangnya melemparkan sorot mata yang sarat akan kebencian, ketakutan, dan rasa jijik ke arah Eril, pertahanan Dahlia runtuh. Tanpa memperdulikan murka suaminya, Dahlia langsung menyeberangi ruangan dengan langkah lebar. Ia menyambar pergelangan tangan Duna, lalu menarik tubuh gemetar anaknya untuk kembali masuk ke dalam kamar, mengunci pintu rapat-rapat.
“Kamu yakin... sama sekali nggak mau menerima tawaran dari Tria?” desak Dahlia begitu mereka aman di balik pintu kamar.
Duna yang tengah terguncang dengan fakta bahwa Eril adalah orang yang lebih kurang ajar dan lebih keras kepala dari yang ia pikirkan, mulai goyah pendirian.
Sejak awal ini alasan dia tak mau melaporkan masalah pelecehan itu ke orang tuanya apalagi polisi seperti kata Tria, ia bisa menebak, kalau ia melakukan itu, hasilnya akan seperti ini. Gambaran hidupnya yang akan jauh lebih buruk dari sebelumnya, terbayang jelas di otaknya.
Sebagai militer, laporan Tria akan dialihkan ke polisi militer, dan tentu sebelum itu terjadi, semua akan sampai ke telinga ayahnya. Ayahnya yang gila kedudukan dan kehormatan, malah akan memanfaatkannya untuk punya menantu yang latar belakangnya ia sukai seperti Eril. Ia hanya akan memaafkan Eril, dan memaksa Duna menikah seperti yang sekarang ia lakukan, dan Duna ujung-ujungnya hanya akan menjadi wanita rendahan di keluarga Eril dan entah bagaimana perlakuan Eril dan keluarganya nanti. Tapi jauh dari itu, yang lebih penting, Duna sama sekali tak mau hidupnya disangkut paut dengan mahluk menjijikan seperti pria itu.
“Sekarang Mama akan coba usir laki-laki itu dari rumah kita,” sambung Dahlia, memutus lamunan Duna. “Tapi kamu tahu sendiri sekeras apa watak Papa kamu. Dia nggak akan pernah berhenti meneror hidup kamu sampai kalian benar-benar menikah.” Dahlia menggenggam kedua telapak tangan Duna yang sedingin es.
“Mama tahu ini semua bukan salah kamu, Duna. Mama juga tahu kamu nggak berhak didesak dan disiksa seperti ini. Tapi untuk kebaikan kamu sendiri... Mama harap kamu bisa mengambil keputusan sesegera mungkin. Apapun keputusan yang kamu ambil nanti, Mama bersumpah akan mendukung kamu seutuhnya, sekalipun Mama harus berpisah dengan Papa kamu dan mengangkat kaki meninggalkan rumah ini.” Dahlia menepuk-nepuk bahu Duna dengan sentuhan menguatkan, lalu berbalik dan melangkah tegap meninggalkan kamar.
Kembali terkurung seorang diri di dalam kamar yang sunyi, Duna berjalan mendekati jendela. Ia merasa posisinya saat ini benar-benar sedang berdiri di ambang jurang yang curam. Ia menolak keras untuk kembali berdinas sebagai tentara, namun disisi lain, ia tidak bisa langsung mencari pekerjaan baru di dunia korporat tanpa persiapan matang karena sama sekali tidak mengantongi pengalaman kerja sipil.
Ia tidak memiliki cukup uang untuk nekat kabur dari rumah dan bertahan hidup mandiri selama beberapa bulan kedepan; tabungannya menipis karena selama bertahun-tahun bekerja, ia diwajibkan menyetorkan sebagian besar pendapatannya ke rekening sang Ayah dengan dalih agar dia tidak hidup foya-foya.
Ia tidak bisa terus berdiam diri dalam kepasifan seperti ini. Dengan karakter Bahrain yang diktator, pria itu bahkan bisa menyeretnya ke pelaminan secara paksa atau membuangnya ke jalanan kapan saja.
Ucapan sang Ibu barusan justru kian menambah beban berat yang menghantam kepalanya. Duna tidak ingin mengacaukan sisa hidup Ibunya di masa tua yang sudah mulai digerogoti penyakit. Jika Ibunya benar-benar nekat melindunginya hingga memilih bercerai, bagaimana nasib mereka berdua ke depannya? Bagaimana jika finansial mereka makin sulit dan kondisi fisik Ibunya kian memburuk akibat stres? Keadaan ini benar-benar meremukkan seluruh sel sarafnya. Namun, seperti yang Ibunya katakan: dia harus membuat keputusan segera. Demi kebaikan dirinya sendiri.
Bzzzt...
Ponsel di genggaman Duna bergetar. Sebuah notifikasi pesan singkat muncul di layar.
Eril: “Aku udah tahu apa yang terjadi di rumah sakit kemarin. Aku bener-bener minta maaf, Duna. Aku akan tanggung jawab penuh dan menebus semua kesalahan aku malam itu. Orang tua aku udah setuju buat datang melamar kamu secara resmi.”
Membaca barisan teks itu, perut Duna seketika bergejolak hebat menahan rasa mual yang mendadak naik ke kerongkongan. Rasa jijik yang luar biasa mengubur sisa kesabarannya. Dengan jemari yang bergetar menahan amarah, ia mengetik balasan singkat namun penuh penekanan:
Duna: “Lebih baik gue mati!”
Setelah menekan tombol kirim, Duna melangkah lebar ke arah jendela kamarnya yang terbuka, melemparkan pandangan kosongnya ke seberang jalanan aspal.
Namun, detik itu juga tubuh Duna tersentak kaku.
Pandangannya langsung berbenturan dengan sosok Tria yang sedang berdiri di balik jendela kamarnya yang juga terbuka lebar di seberang sana. Pria itu sedang menatap lurus ke arahnya dengan sorot mata yang intens dan tidak berkedip.
Napas Duna terasa tersumbat di dada, sementara jantungnya berdetak dengan ritme yang melambat, memompakan keputusan akhir yang mendadak mengkristal di dalam benaknya. Selama beberapa detik ruang waktu itu membeku, Duna akhirnya memantapkan pilihan.
Ia mengangkat ponsel di tangannya, lalu mencari nama Tria dan menekan tombol panggil.
Dari balik bingkai jendela di seberang jalan, Duna menyaksikan dengan matanya sendiri bagaimana Tria langsung menyambar ponselnya pada getaran pertama, mendekatkan benda itu ke telinga tanpa sedetikpun mengalihkan pandangan dari wajah Duna.
“Kak Tria,” ucap Duna, suaranya datar namun terdengar begitu final.
“Em?” sahut Tria di seberang saluran, suaranya mengalun teramat lembut, kontras dengan gemuruh di dada mereka.
“Tawaran Kakak waktu di rumah sakit... apa masih berlaku?” tanya Duna, tanpa basa-basi.
Tria tampak mengernyitkan dahi dari kejauhan, bahunya menegang. “Tawaran?” tanyanya memastikan.
“Kalau aku terima tawaran itu... tapi aku punya beberapa persyaratan, gimana?” lanjut Duna.
“Maksud kamu... lamaran aku?” Suara Tria terdengar bergetar di antara rasa harap-harap cemas yang membubung tinggi.