AS NIGHT FALL BY

Arisyifa Siregar
Chapter #26

26. Minta Restu

Tina membuka pintu apartemennya dan terpaku. Tria, anak laki-laki keduanya, benar-benar berdiri di ambang pintu tempat tinggalnya di Singapura. Kemarin lusa saat Tria menelepon dan bersikeras ingin terbang demi meminta izin akan sesuatu secara langsung, Tina tidak terlalu menganggapnya serius. Namun kini, melihat Tria duduk di hadapannya di ruang tamu yang sempit, ia bisa merasakan aura kesungguhan yang teramat pekat memancar dari sorot mata putranya.

“Kamu dari kantor langsung ke bandara?” tanya Tina, menyodorkan segelas teh hangat.

Tria mengangguk, menyesap tehnya perlahan demi meredam debaran jantung yang kian mengencang akibat rasa gugup. “Ma,” ucapnya hati-hati, menatap lurus sang Ibu. “Aku datang ke sini karena mau minta izin. Aku mau nikah,” lontarnya tanpa basa-basi.

Tina mengamati ekspresi Tria yang dipenuhi kewaspadaan defensif. “Melihat kamu datang mendadak dan seputus asa ini... bisa Mama tebak, perempuan itu bukan Kamila, kan?”

Mengerjap terkejut karena intuisi Ibunya begitu tajam, Tria tidak ingin membuang waktu untuk berkelit. Ia mengangguk. “Aku mau nikah sama Duna.”

“Duna?” Tina mengernyitkan dahi, mencoba mengingat sejenak sebelum akhirnya terperanjat, “DUNA? Sahabatnya Tami?” Matanya membelalak maksimal.

Tria mengangguk tegap. Tina seketika menganga, mengunci mulutnya rapat-rapat agar tidak menghakimi terlalu dini. Ia membaca ketenangan di wajah Tria yang kini bersumber dari keteguhan hati. Meski buta akan kronologi di balik keputusan ini, Tina paham anaknya tidak pernah bertindak impulsif tanpa alasan kuat. Sebagai ibu yang menghargai prinsip anak-anaknya, ia menarik napas dalam.

“Kapan pernikahan ini mau dilangsungkan?”

Tria tertegun. “Mama... nggak mau tanya alasannya dulu?” ia malah balik bertanya. Ia sudah menyiapkan puluhan skenario jawaban logis demi meyakinkan Ibunya, tak menyangka restu ini bergulir tanpa interogasi.

Melihat kebingungan Tria, Tina tersenyum teduh. “Tria, di antara tiga anak Mama, kamu itu yang paling sensitif. Dari luar kamu mungkin kelihatan cuek, tapi Mama tahu batinmu penuh pertimbangan yang terbaik. Jadi, Mama yakin kamu udah mikirin matang-matang sebelum nekat menikahi teman adikmu sendiri.”

Tersentuh oleh kebijaksanaan Ibunya, pelupuk mata Tria mendadak panas berkaca-kaca. “Aku nggak menyangka Mama bisa baca aku sejauh ini. Selama ini... aku selalu ngerasa paling nggak bisa diandalkan dibanding Kak Tian atau Tami.”

“Justru Mama tahu, kamu sengaja mengalah dan membiarkan kakak dan adikmu ambil panggung karena kamu terlalu takut mengecewakan ekspektasi mereka, kan?”

Pertahanan batin Tria runtuh. Ibunya yang terpaksa bekerja di luar negeri sejak ia remaja dan hanya pulang sesekali, ternyata memahaminya lebih dari ia memahami dirinya sendiri. Rasa resah yang mencekiknya sejak di pesawat seketika menguap, berganti kelegaan yang luar biasa.

“Aku akan buktiin, Ma. Aku pengen bisa diandalkan... aku mau melindungi dan merawat Duna seumur hidup aku,” ungkap Tria penuh penekanan emosional.

“Jadi, kapan?” ulang Tina. Jika anaknya datang seberantakan ini, mustahil pernikahan itu dijadwalkan beberapa bulan lagi.

“Akhir minggu ini, Ma.”

Tina kembali terperanjat. Meskipun sudah menduga situasinya darurat, ia tidak mengira tenggatnya sebrutal ini. Detik itu juga, tebersit kecemasan mendalam di benak Tina akan adanya masalah besar yang disembunyikan. Namun, ia memilih setia pada janjinya untuk percaya pada anak-anaknya.

“Oke,” Tina mengangguk, menghela napas panjang. “Mama pulang ke Jakarta Jumat ini.” Ia menjeda kalimatnya, menatap Tria dengan sorot mata protektif seorang ibu. “Tria... tapi semua baik-baik saja, kan? Nggak ada hal yang perlu kamu ceritain ke Mama?”

Tria memaksakan seulas senyum hangat demi menutupi fakta gelap tentang Duna. “Aman, Ma. Aku cuma mau buru-buru nikahin Duna. Nggak mau kehilangan dia.”

Lihat selengkapnya