AS NIGHT FALL BY

Arisyifa Siregar
Chapter #27

27. Mengamati untuk menangani

Setelah semua yang terjadi dan terlewati, diiringi keraguan yang tetap membelenggu erat, menumpuknya rasa benci akan diri sendiri dan pandangan orang lain yang penuh dengan tanda tanya, Duna memasuki aula pernikahan dengan gaun putih sederhana yang Ibunya pilihkan. Pandangan segelintir orang yang diundang ke acara pernikahan itu tertuju padanya: ada yang masih kaget, heran dan ada yang menatap penuh kebencian.

Sedangkan Tria, berdiri di ujung ruangan, menunggu Duna yang berjalan ke arahnya dengan mata berkilau penuh kebahagiaan.

Dalam hati Tria sadar kalau pilihannya ini mungkin akan berubah menjadi penyesalan, tindakannya ini mungkin bukan hal yang bisa dibenarkan, tapi ia tetap ingin melakukannya.

Ia merasa menemukan tujuan hidup.

Sebelumnya Tria tak pernah begitu semangat untuk mengawali hari dan melakukan sesuatu meskipun ia pikir itu hal yang paling ia suka. Akan tetapi untuk menyambut hari ini, ia bahkan tak bisa tidur nyenyak semalam. Berkali-kali melihat ke arah jam tak sabar ingin bertemu dengan Duna di aula pernikahan sederhana mereka.

Di bangku tamu undangan, di samping Tami yang sekuat tenaga sedang menahan amarah yang membakar dada, Julian tersenyum penuh haru. Tak menyangka akan melihat sosok Tria bisa memandang wanita dengan tatapan penuh kasih yang teduh. Meskipun sampai detik ini sahabatnya itu tak menceritakan sama sekali alasan dirinya tiba-tiba menikahi Duna dan baru mengabarkan beberapa hari sebelumnya, Julian tahu kalau rasa cinta Tria ke Duna lebih besar dari apa yang ia kira.

Ia pun melirik Tami, gadis yang disukainya ini sampai sekarang tampaknya belum sadar akan perasaannya tak peduli seberapa dirinya berusaha menunjukkan.

Tami bisa merasakan sorot mata Julian yang terus tertuju padanya. “Kak Julian... tahu alasan kenapa mereka tiba-tiba nikah?”

Julian sempat menggeleng, lalu mengangguk, sebelum kembali menggeleng dan berakhir mengangguk pasrah. “Kalau untuk urusan detail-nya... jujur, aku sama sekali gak tahu, Tam,” akunya. “Tapi sebagai sahabat dari remaja, aku bisa jamin Tria bener-bener cinta sama Duna.”

Tertegun mendengar kesaksian itu, Tami seketika merasa dadanya dihantam rasa bersalah. Mendadak, ia merasa dirinya begitu picik, egois, dan kekanak-kanakan. Kobaran kebencian di dalam matanya perlahan meleleh. Meskipun masih terlampau sulit untuk mengendalikan diri dari pusaran rasa kecewa dan kesal yang menenggelamkannya sejak sore itu, ucapan Julian barusan seakan menampar kesadarannya; bahwa di tengah badai ini, ada perasaan orang lain yang berhak dipertimbangkan. Perasaan Tria, yang selama ini justru paling jarang ia gubris eksistensinya.

Sejak masa SMA dulu, Tami tahu betul seberapa besar Duna mencintai Tria dalam diam. Sejak saat itu pula, ia selalu bertindak protektif, ikut campur menghalau segala jalur agar Duna tidak pernah terlibat hubungan asmara dengan kakaknya yang dicap sering gonta-ganti kekasih. Namun, ada satu kalkulasi penting yang luput dari logikanya: bagaimana dengan perasaan Tria? Hal krusial yang kini membuat kepalanya pening adalah: sejak kapan Tria berbalik jatuh cinta pada Duna? Dan sebrutal apa rasa cinta itu hingga kakaknya rela mengorbankan sisa hidupnya demi Duna?

Saat benang merah itu terurai, Tami sampai pada titik di mana ia harus memetakan kembali muara dari segala amarahnya. Ia sadar, ia tidak membenci pernikahan Tria dan Duna. Ia tidak membenci Duna yang mengabaikan peringatannya, tidak pula membenci Tria yang akhirnya melabuhkan hati pada sahabat adiknya sendiri.

Hal yang paling ia benci dan kutuk saat ini adalah cara mereka memperlakukan dirinya. Tami membenci bagaimana mereka sepakat menutupi akar masalah yang sebenarnya, dan bagaimana mereka dengan tega mengeliminasi eksistensinya dari lembaran hidup baru yang mereka bangun di atas fondasi rahasia itu.

Tami mengalihkan pandangannya ke arah pelaminan, menatap Tian dan Ibunya. Kakak sulungnya itu tampak tertawa lepas, sementara wajah sang Ibu dihiasi senyum merekah yang teramat bahagia. Mereka semua tampak begitu tulus merayakan pernikahan kilat yang penuh kejanggalan ini. Rasanya teramat berdosa dan egois jika ia harus mengacaukan momen sakral ini dengan menunjukkan gurat kekesalan secara terang-terangan.

Bagaimanapun ia membenci kenyataan bahwa ada konspirasi rahasia di antara Tria dan Duna, takdir telah mengikat keduanya untuk bersatu dan memilih saling bergantung di sisa umur mereka. Meski belum yakin kapabilitas hatinya mampu memaafkan dalam waktu dekat, Tami memutuskan untuk mengubur rapat-rapat rasa bencinya di dasar batin.

Sembari menatap Duna yang tampak anggun bersanding dengan kakaknya, Tami merapalkan harapan lirih; semoga Duna masih menganggapnya sebagai sahabat terbaik. Dan kelak, saat badai kehidupan ini sudah jauh lebih tenang, ia berharap Duna akan datang padanya untuk menceritakan yang sebenarnya. Tami berjanji, jika hari itu tiba, ia akan melupakan seluruh murkanya, membuka lengannya lebar-lebar, dan memaafkan mereka seutuhnya.

***

Canggung. Tak ada diksi yang lebih tepat untuk menggambarkan atmosfer malam itu. Tria sudah berusaha mengulur waktu selama mungkin di lantai bawah bersama keluarganya, namun pada akhirnya, jam tidur memaksa semua orang masuk ke kamar masing-masing. Dan tibalah saat yang paling ia takuti sekaligus ia luhurkan: melangkah masuk ke dalam kamarnya sendiri, bersama Duna.

Sesuai kesepakatan tertulis beberapa hari lalu, mereka memilih menetap di rumah keluarga Tria, mengabaikan sekencang apapun penolakan yang membayang di mata Tami. Bagi Duna dan Tria, tujuan mutlak pernikahan ini adalah menyelamatkan Duna dari neraka rumahnya secepatnya. Rumah ini adalah satu-satunya suaka legal yang paling aman. “Toh, ini cuma pernikahan pura-pura,” begitu cetus Duna dingin tempo hari, menolak mentah-mentah saat Tria menawarkan opsi menyewa rumah terpisah demi menjaga privasi.

Kini, di dalam kamar yang mendadak terasa menyempit, keduanya berdiri berdampingan dalam keheningan yang mencekik. Bingung menghadapi situasi, Duna bergerak taktis ke arah kopernya di sudut ruangan. Ia menarik selembar map dokumen tebal, lalu menyodorkannya tepat di depan dada Tria. “Ini draf kontraknya. Dibaca dulu. Kalau ada poin yang bikin Kakak keberatan, kita bisa diskusikan lagi.”

Lihat selengkapnya