Tidak bisa begini terus. Duna membatin frustasi. Sudah sejam lebih ia terpaku melamun di ruang tamu yang sunyi. Sejak malam di tepi kolam di mana Tria memergokinya merokok, melantur lalu tertidur, berujung menginterogasi botol-botol penenangnya keesokan paginya, Duna memilih mogok minum obat. Ia terlampau malu. Membayangkan wajah kesal sekaligus terluka Tria saat melihat sisi terburuknya malam itu sukses membuat rongga dadanya berdenyut nyeri akibat rasa bersalah yang menggunung.
Satu bulan pun berlalu bagai neraka yang konsisten. Tria mendadak menjelma menjadi sosok yang teramat sibuk, atau mungkin sengaja menghindarinya dengan lebih sering menginap di kantor agensinya. Tami pun setali tiga uang; menganggap Duna tak lebih dari seonggok bayangan tak kasat mata setiap kali mereka berpapasan di rumah.
Duna terisolasi dalam sepi. Tubuhnya kian lemas karena otot-otot yang jarang bergerak. Tanpa obat tidur dan tanpa aktivitas, malam-malamnya berubah menjadi sesi terjaga yang menyiksa. Demi mengusir kegilaan, ia mulai berburu lowongan kerja di internet. Sialnya, jeruji batas usia dan minimnya pengalaman kerja langsung mematahkan harapannya. Di tengah keputusasaan yang memuncak, satu nama mendadak melintas di kepalanya: Malik.
Meskipun disergap ragu, Duna nekat menghubungi pria itu. Di luar dugaan, Malik mengangkat teleponnya dengan cepat, menyuarakan sapaan ramah yang hangat. Tanpa basa-basi, Duna meminta bertemu. Sempat menjeda karena terkejut, Malik akhirnya meminta Duna datang ke salon tempatnya bekerja.
Sesampainya di sana, Duna terperangah.
Salon itu memang tidak terlalu besar, namun dipadati pengunjung, dan Malik manajer di sana. Pria itu menyambutnya dengan senyuman tulus, lalu mengajaknya masuk ke ruang kerja pribadi.
“Gue benar-benar nggak menyangka lu bakal nikah sama kakaknya Tami,” ungkap Malik sembari menyuguhkan secangkir teh hangat. “Gue ingat betul, lu suka sama dia dari kita masih sekolah, kan?”
Mulut Duna terkatup rapat.
Malik yang jeli langsung menangkap gurat hampa di wajah sahabat lamanya sekaligus mantan pacarnya itu. “Lu minta ketemu karena ada yang mau lu ceritain kan?” tebak Malik lugas. Karakter Duna tidak pernah berubah di matanya.
“Boleh... gue cerita dan minta tolong sama lu?” tanya Duna sangsi. “Soalnya...dulu lu kan sempat kesal banget sama gue.”
Malik seketika menyemburkan tawa renyah. “Oh, lu khawatir soal itu? Nggak lah, gue bukan tipe pendendam. Lagian kita putus empat tahun lalu kan karena kesepakatan bersama.”
Duna menyunggingkan senyum tipis. Tak ada satu orang pun yang tahu, bahkan Tami atau Raina sekalipun, bahwa empat tahun lalu, ia dan Malik sempat merajut kasih secara kilat karena cowok itu datang bertemu dengannya di Yogyakarta. Hubungan jarak jauh yang hanya bertahan tiga bulan itu ditutup secara baik-baik. Namun, Malik selalu memiliki ruang khusus di hati Duna sebagai satu-satunya mantan kekasih yang teramat tulus dan pendengar yang baik.
Menarik napas sedalam mungkin, Duna akhirnya menumpahkan seluruh kebenaran kelam yang menimpanya hingga terjebak dalam pernikahan kontrak dengan Tria.
Mendengar penuturan itu, Malik seketika membeku di tempat.
“Kenapa lu nggak menghubungi gue saat itu?” protes Malik, nadanya sarat kekecewaan yang tak terprediksi oleh Duna.
“Kalau bisa, gue bahkan nggak mau melibatkan siapa pun. Gue memilih Tria murni karena udah terlanjur... dia yang pertama kali ngeliat gue ancur,” sahut Duna, menunduk lemas.
“Jadi, pernikahan kontrak ini bukan karena lu masih suka sama dia?” kejar Malik mengonfirmasi.
Duna mengangkat wajahnya dengan tatapan lirih yang rapuh. “Siapa, sih, yang mau nunjukin sisi diri paling menjijikkan ke orang yang paling dia suka?”
Malik mengerutkan dahi, bingung. “Bentar. Jadi lu sebenarnya masih suka sama dia? Tapi lu memilih nikah kontrak karena dia terlanjur tahu keburukan lu? Gue pusing.”