“Lu udah di mana, sih?” suara Julian berseru nyaring di seberang saluran telepon.
Tria tidak menyahut. Ia menginjak pedal rem perlahan hingga mobilnya berhenti sempurna di bahu jalan. Alih-alih menjawab Julian, matanya malah memicing tajam, lurus menghujam ke luar jendela. Ia sempat meragukan penglihatannya sendiri. Namun, setelah mengerjapkan mata demi mempertegas fokus, dadanya seketika dihantam ombak kenyataan yang menyakitkan: wanita yang sedang berjalan di atas trotoar itu adalah Duna. Dan dia tidak sendiri. Ada seorang pria berkacamata yang berjalan beriringan di sisinya.
Detik itu juga, dunia di sekitar Tria seolah bergerak melambat. Menyaksikan Duna tersenyum lepas kepada pria asing itu, sebuah senyuman tulus yang tidak pernah Tria lihat lagi selama hampir satu dekade ini, jantung Tria terasa seperti berhenti berdetak.
Otaknya mendadak bebal, lumpuh total tanpa mampu mengirimkan instruksi ke anggota tubuhnya. Pandangan Tria terkunci mati pada siluet Duna yang melangkah masuk ke dalam sebuah salon.
Perlahan, kewarasannya kembali berputar, memutar ulang ucapan Duna tadi pagi tentang pekerjaan di salon milik teman. Jadi, teman yang dimaksud bukan seorang wanita? Lantas, siapa? Siapa pria yang sanggup membuat Duna tersenyum begitu hangat seolah tidak pernah ada luka yang menganga di dalam hatinya?
Napas Tria mulai menderu pendek dan memburu. Tanpa pikir panjang, ia mematikan mesin mobil, melangkah keluar, dan membanting pintu. Langkah kakinya berdentum berat di atas permukaan aspal, memotong jarak dengan tergesa menuju salon tersebut.
Begitu Tria mendorong pintu kaca hingga berdenting, kehadirannya langsung menyita perhatian. Di dalam, Duna yang tengah memegang sapu terbelalak, terkejut luar biasa. Namun, setelah beberapa detik mata mereka bertabrakan, binar syok di mata Duna seketika padam, berganti raut tidak nyaman yang diselimuti amarah tertahan.
Tanpa membuang waktu, Duna menghempaskan sapunya ke lantai, lalu melangkah lebar menyambangi Tria. Ia mencengkram pergelangan tangan Tria erat-erat, menyeret tubuh pria itu keluar dari salon. Setelah menjauh beberapa meter ke sudut sepi, Duna baru melepaskan pegangannya dan menatap Tria dengan emosi yang kentara.
“Kak Tria ngapain di sini?” desis Duna, suaranya bergetar menahan ledakan amarah.
“Kamu sendiri lagi apa?” balas Tria agresif, matanya berkilat menuntut.
Alis Duna menukik tajam. “Aku kan udah bilang tadi pagi kalau aku kerja!” protesnya dengan nada menekan, frustasi menghadapi keposesifan Tria yang tiba-tiba.
“Temen yang kamu maksud itu siapa? Cowok?” Tria sama sekali tidak berniat menyembunyikan kecemburuan yang kini membakar habis akal sehatnya.
Duna menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan gemuruh di dadanya. Ia tidak pernah melihat Tria dengan mata berapi-api yang sekilas tampak begitu rapuh seperti ini.
“Malik,” sahut Duna ringkas.
Ia tidak punya alasan untuk mendistorsi kenyataan, meski ia tahu nama itu akan menyulut api yang lebih besar. Cepat atau lambat Tria pasti akan tahu, dan melihat bagaimana cara Tria mengkonfrontasi sekarang, pria ini jelas sudah mengintai mereka sejak tadi.
Tria terdiam, dahinya berkerut dalam mencoba menggali memori. Nama itu terdengar tidak asing di telinganya, namun otaknya terlampau bising untuk mengingat dengan jelas wajah pemilik nama tersebut.
Memanfaatkan keheningan Tria, Duna berbalik. “Aku balik kerja dulu,” ujarnya ketus sembari melangkah menjauh. Namun, gerakan Tria jauh lebih cepat; ia menyambar lengan Duna, menahannya paksa.
“Teman sekolah kamu dulu?” kejar Tria, ingatan masa lalu mendadak berputar. Cowok dari yang dulu tinggal di komplek yang sama, yang pernah mengajari Duna mengendarai sepeda.
“Ehm,” sahut Duna pendek. Ia mulai memasang benteng pertahanan, perasaannya mendadak tidak enak. Walau kejadian itu sudah bertahun-tahun berlalu, Duna ingat betul betapa sinisnya sikap Tria terhadap Malik dulu.
“Selama ini kamu terus berhubungan sama dia?” Tria tenggelam kian dalam di kubangan cemburu buta, melontarkan pertanyaan-pertanyaan posesif yang jika ia pikirkan dalam kondisi waras, akan terdengar teramat konyol di telinganya sendiri.
“Nggak. Baru kontak lagi baru-baru ini,” tukas Duna, matanya bergerak liar menghindari mata Tria.
Terlampau tersiksa oleh keresahan yang menggerogoti dadanya, Tria merangsek maju, mendekatkan wajahnya demi mengunci pandangan Duna. “Dia bener-bener cuma teman?”
Wajah Duna seketika mengeras. Pertanyaan Tria tidak lagi terdengar seperti kecemasan, melainkan sebuah penghinaan.
“Apa urusannya sama Kak Tria sih, Malik itu siapa?!” Duna menyentak kasar tangan Tria hingga terlepas. Di dalam lubuk hatinya, ia paham ke mana arah tuduhan Tria, pria itu mencurigainya menjalin hubungan romantis di balik statusnya sebagai istri sah.
“DUNA!” bentak Tria frustasi. Ia mengejar langkah kaki Duna yang kian lebar, lalu kembali mencengkram pergelangan tangannya. “Kamu beneran cuma temenan sama dia, kan?”
Dada Duna naik turun akibat amarah yang mencapai ubun-ubun. Pertanyaan Tria barusan menjadi bukti nyata bahwa pria ini tengah merendahkan martabatnya. “Dia mantan pacar aku! Terus kenapa? Masalah buat Kakak?!” tantang Duna berapi-api.
Tatapan mata Tria seketika melayu, kehilangan seluruh dayanya. “Mantan?” tanyanya lirih. “Kamu... pernah pacaran?” Ia tidak pernah menyangka hatinya akan sehancur ini akibat fakta yang baru saja lolos dari bibir istrinya.
Duna mengernyit, benar-benar tidak habis pikir dengan naik turun emosi pria di hadapannya. Semenit lalu Tria tampak siap membumihanguskan sekitar dengan amarahnya, namun detik ini ia justru terlihat lemas bagai bocah yang kehilangan arah. “Aku punya mantan atau nggak, kenapa Kak Tria harus tahu? Apa peduli Kakak?” cetus Duna sinis bercampur heran.
“Bentar, bentar!” tahan Tria panik saat Duna hendak berbalik lagi. Pria dewasa itu tampak kehilangan seluruh wibawanya. “Ayo kita pulang. Kamu nggak perlu kerja di tempat ini lagi. Biar aku aja yang kerja buat kita,” ucapnya impulsif, bergerak menarik tubuh Duna menuju mobilnya yang terparkir.