AS NIGHT FALL BY

Arisyifa Siregar
Chapter #31

31. Malam Panas Memancing Luka

Duna berdiri ragu di depan pintu kamar. Setelah konfrontasi penuh emosi di depan salon sore tadi, perasaannya kini campur aduk; bersalah, menyesal, sekaligus cemas. Namun, ia tahu melarikan diri bukan pilihan. Ia yang memulai semua ini, dan ia harus bertanggung jawab atas konsekuensinya. Cepat atau lambat, ia harus menghadapi Tria dan memperjelas batasan mereka.

Setelah dua menit mematung mengumpulkan keberanian, Duna memutar kenop pintu. Kamar itu temaram. Tria tampak duduk di sofa, menatap layar televisi yang menyala.

“Udah pulang?” tegur Tria tanpa menoleh.

“Ehm,” sahut Duna pendek. Ia meletakkan tasnya di atas meja, lalu berdiri kaku di belakang sofa. Memandangi punggung Tria yang mendadak terasa dingin, membuat kerongkongannya kering akibat gugup.

Tria memutar tubuhnya, menatap Duna intens. “Bisa kita ngobrol sebentar?”

Duna menangkap ketenangan sekaligus keseriusan yang mutlak dari nada bicara Tria. Berbeda total dengan badai sore tadi. Jantung Duna berpacu liar. Ia was-was menebak isi kepala Tria. Ia melangkah mendekat, lalu duduk di ujung sofa, mengambil jarak aman seperti biasa.

“Pertama-tama, aku mau minta maaf soal kelakuanku sore tadi,” ucap Tria langsung.

Duna terkesiap, dadanya mendadak didera rasa tidak enak hati. “Nggak, Kak. Aku yang seharusnya minta maaf karena keterlaluan,” potong Duna cepat, menunduk malu.

“Oke.” Tria menghembuskan napas pendek. “Kedua, aku mau perjelas situasi kita.”

Duna mengangkat wajahnya sedikit, melirik Tria sangsi, masih belum berani kontak mata.

“Terlepas dari bagaimana hakikat pernikahan kita, kita udah sepakat jadi suami istri di mata publik. Jadi, bisa nggak kamu paling nggak menganggap aku sebagai teman?” tanya Tria lugas.

Duna mendelik, menatap langsung Tria selama beberapa detik. “Maksudnya?”

“Kontrak apa pun yang kamu junjung tinggi itu nggak akan ngubah fakta kalau kita adalah pasangan bagi orang luar. Jadi, minimal, kamu bisa kasih tahu aku tentang aktivitas kamu, kamu kerja dimana, dan sama siapa. Biar aku nggak kehilangan muka kalau-kalau ada kolega atau keluarga yang nanya.”

Duna mengangguk pelan. Logika Tria masuk akal. Ia mendadak merasa bodoh karena terlampau defensif dan selalu mengaitkan segala hal dengan perasaan, padahal bagi Tria hal itu mungkin murni urusan formalitas keluarga.

“Ehm,” Angguk Duna pasrah. “Maaf, selama ini aku berlebihan.”

Melihat gelagat Duna yang kembali mencicit dan menunduk dalam, Tria diam-diam menyunggingkan senyum kemenangan. Prediksi Malik seratus persen akurat. Wanita di hadapannya ini masih seperti Duna remaja; masih menyimpan rasa suka terlarang, masih canggung, dan sangsi dengan perasaannya sendiri. Tria tahu tugasnya sekarang bukan memaksa Duna mengakui pernikahan ini, melainkan cukup meyakinkan Duna bahwa mereka berada di frekuensi yang sama. Menjadi Tria, pria yang dicintainya sejak dulu.

“Kalau begitu, boleh aku kasih sesuatu?” Tria merogoh saku celana jeans hitamnya, mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil. “Buat kamu,” ia mengulurkannya. “Dari mamaku,” dustanya kilat, mengantisipasi penolakan.

Siasatnya berhasil. Duna menerima kotak itu tanpa protes, lalu membukanya. Wanita itu tertegun sesaat, memandangi gelang rantai perak dengan motif bunga-bunga kecil di sisinya.

“Makasih, Kak,” ucap Duna pelan.

Tria mati-matian menahan gemas. “Sini, aku pakein.”

Tanpa menunggu persetujuan, Tria menyambar gelang itu dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya menarik lembut pergelangan tangan Duna.

Jantung Duna berdegup kencang hingga terasa menyakitkan. Sentuhan tangan Tria teramat hangat dan hati-hati. Dari jarak sedekat ini, Duna bahkan bisa menghirup arona sampo dari rambut Tria yang masih setengah basah.

“Cantik,” bisik Tria mendalam, lalu melempar senyuman mautnya.

Seketika Duna membelalak. Wajahnya memanas hebat. “Ah, iya... gelangnya emang cantik,” timpal Duna gugup setengah mati. “Aku... aku mandi dulu!”

Ia langsung bangkit berdiri dengan canggung, menyambar baju ganti di lemari dan handuk di balik pintu, lalu setengah berlari keluar kamar demi menyelamatkan jantungnya yang nyaris copot.

Begitu siluet Duna menghilang di balik pintu, Tria langsung meledakkan senyum lebarnya. “Sial, dia imut banget!” gumamnya tertahan, meremas bantal sofa.

Mulai detik ini, ia akan melancarkan siasatnya secara berkala namun mematikan. Seumur hidup, Tria tidak pernah repot-repot menggunakan taktik untuk memikat wanita; semua datang sendiri karena salah paham atas keramahannya.

Lihat selengkapnya