AS NIGHT FALL BY

Arisyifa Siregar
Chapter #32

32. Tahan Diri Tria...

Setelah histeria Duna perlahan mereda menjadi isak lirih, Tria merenggangkan dekapannya. Ia menangkup kedua pipi Duna, menatap mata yang bengkak itu dengan kelembutan yang menyakitkan. “Aku ambilkan air minum, ya?” bisiknya, bersiap bangkit dari lantai dingin.

Namun, jemari lemah Duna bergerak cepat menahan lengannya. “Jangan pergi,” ucap Duna rapuh.

Tria kembali berlutut tanpa ragu. “Iya, aku nggak ke mana-mana. Kita tidur sekarang, ya.” Dengan hati-hati, Tria membantu menyangga tubuh Duna yang lemas, menuntunnya kembali ke ranjang, dan membaringkannya di atas kasur. Lalu ia duduk di tepian.

Melihat Duna terkapar tak berdaya seperti itu, hati Tria hancur berkeping-keping. Membayangkan monster macam apa yang telah merenggut paksa kewarasan Duna di masa lalu, hingga menyisakan trauma korosif itu, membuat dadanya bergemuruh hebat oleh amarah.

Tria ingin berteriak. Ia ingin mencari bajingan yang telah menghancurkan hidup istrinya, menghabisinya tanpa ampun, dan mengutuknya mendekam di neraka jahanam selamanya.

Tatapan penuh luka dan kekhawatiran yang Tria pancarkan perlahan mengetuk relung hati Duna. Detik ini, Duna sadar ia tidak akan sanggup lagi melarikan diri. Ia tidak bisa lagi mengeraskan hati atau membodohi logikanya sendiri. Cinta sepihak yang ia rawat belasan tahun lamanya, kini benar-benar telah menemukan dermaga balasan. Terlepas dari seluruh luka menganga dan cacat cela yang ia miliki, Tria merengkuh semuanya tanpa syarat, membungkus tubuh ringkihnya dengan kehangatan yang tulus.

“Kak Tria...” panggil Duna lirih.

“Ya?” Tria menggenggam erat jemari Duna.

“Apa aku... boleh bahagia kayak gini?” Air mata Duna kembali melosot membasahi bantal. “Apa aku boleh egois sekali aja?”

Mata Tria ikut menggenang. Ia meremas jemari Duna kian erat, menyalurkan seluruh kekuatannya. “Boleh, Duna. Aku justru memohon sama kamu... tolong egois untuk kebahagiaan kamu.”

“Kak Tria...” ucap Duna lagi, suaranya memelan.

“Em?” telinga Tria menangkap getar parau di suaranya sendiri.

“Aku suka banget sama Kak Tria. Suka banget... dari dulu, dari aku masih kecil.”

Duna tidak pernah menyangka kalimat terlarang itu akhirnya lolos dari bibirnya. Detik itu juga, memorinya seolah ditarik mundur ke belasan tahun silam. Kembali ke sosok dirinya yang remaja, yang mendadak jatuh cinta pada hari di mana hujan membasahi rambut Tria, lalu ke waktu saat dirinya mematung di kamar Tami sembari memutar rubik dengan kikuk.

Tria tersenyum getir, membiarkan air matanya jatuh menembus pipi. “Iya, aku tahu. Tapi sekarang, aku yang jauh lebih cinta sama kamu, Duna. Maafin aku... aku terlambat sadarnya.”

Duna mengangguk pelan, membalas remasan tangan Tria. Ia kehabisan kata-kata, terkunci dalam tangis yang melegakan. Seluruh tubuhnya terasa remuk, lemas, dan kepalanya berdenyut pening akibat hantaman kepanikan tadi. Namun, di dalam rongga dadanya, mengalir sebentuk rasa bahagia yang teramat luas, sesuatu yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Tria mengangkat tangan Duna dalam genggamannya, mengecupnya lembut. “Tidur, ya. Jangan mikirin apa-apa lagi.”

Ia bergerak bangkit dari kasur, berniat menuju sofa. Namun, genggaman tangan Duna di jemarinya tidak juga mengendur. Untuk beberapa saat, sepasang mereka saling mengunci di bawah temaram kamar, hingga Tria akhirnya mampu membaca sandi tersirat di mata istrinya.

“Aku... boleh tidur di kasur?” tanya Tria memastikan.

Duna mengangguk lurus.

Tria langsung mengambil posisi di sisi kasur yang kosong, berbaring menghadap Duna tanpa sedetik pun melepas kaitan jemari mereka. Ia terus memandangi wajah istrinya yang mulai memejamkan mata sembab; mengagumi bulu matanya yang lentik, bibirnya yang kering, dan pipinya yang kian tirus. Tria mencondongkan tubuh, mengecup dahi Duna, lalu menyandarkan keningnya di kening Duna.

Dalam kesunyian malam, Tria merapalkan sumpah di dalam hatinya. Ia akan menjadi obat bagi seluruh luka tak kasat mata milik Duna. Ia akan menjelma menjadi pria yang paling bisa diandalkan dan dibanggakan oleh istrinya itu.

Tria menghembuskan napas lega. Untung saja malam ini Tami tidak pulang ke rumah. Jika adiknya itu ada, Tria pasti akan kebingungan menjelaskan histeria yang baru saja terjadi. Bagaimanapun, ia tahu betul bahwa sampai detik ini, Duna masih menutup rapat seluruh rahasia kelam ini dari adiknya.

***


Malik melangkah mendekat. Sejak pintu salon dikunci dan seluruh area selesai dibersihkan, Duna hanya duduk terpaku di depan cermin besar. Awalnya Malik memilih abai, namun jarum jam sudah bergulir hampir setengah jam dan wanita itu belum juga beranjak seinci pun. Sudah waktunya Malik pulang, tetapi nuraninya tidak sampai hati meninggalkan Duna sendirian dalam kondisi sekaku itu.

Lihat selengkapnya