AS NIGHT FALL BY

Arisyifa Siregar
Chapter #33

33. Malam Pertama

Sepanjang aspal yang mereka belah, Duna menolak melempar tatapan langsung pada Tria. Matanya terus menghadap kaca jendela mobil, memandangi siluet kota yang bergerak mundur. Ia masih belum sepenuhnya menapak bumi; tidak menyangka poros hidupnya akan berputar seekstrem ini. Jauh di lubuk hatinya, secercah keraguan masih berbisik, mempertanyakan apakah dirinya benar-benar layak mencecap semua perlakuan ini. Namun, benteng pertahanannya seketika runtuh setiap kali memorinya memutar ulang sebaris kalimat Tria malam itu, sebuah permohonan agar dia bersedia bertindak egois demi menjemput kebahagiaannya sendiri. Itu adalah untaian kata paling tulus sekaligus menggetarkan yang pernah mampir di dalam hidupnya.

Sebab selama hidupnya, Duna adalah komoditas yang selalu disetir oleh diktator sang ayah. Hidupnya dipadati rantai larangan dan paksaan bertubi-tubi. Ia bahkan buta total mengenai bagaimana sikap egois itu sendiri. Baginya, bertahan hidup berarti terus tunduk, terus mengalah, dan mati-matian memasung keinginan dirinya. Namun Tria, pria yang selalu menempati takhta tertinggi di hatinya, sosok yang teramat sempurna di matanya, justru memohon agar ia menjadi egois.

Detik ini, Duna membiarkan sebersit ketamakan merayap di dadanya. Ia ingin mengabadikan kebahagiaan ini untuk waktu yang jauh lebih lama. Ia ingin menampung seluruh cinta yang Tria tumpahkan, lalu membalasnya dengan seluruh daya yang ia miliki. Ia mendambakan sebuah kehidupan utuh yang selama ini dirampas darinya; berjalan tegak di atas takdir yang ia pilih dengan tangannya sendiri.

Saat lampu lalu lintas di persimpangan jalan berganti merah menyala, Tria menghentikan laju mobilnya. Pria itu menoleh lambat, menyapu pandangannya ke seluruh figur Duna dari ujung rambut hingga kaki.

Di dalam kepalanya, badai penyesalan mendadak berkecamuk hebat. Tria merutuki betapa bodoh dan bebalnya dirinya di masa lalu. Seharusnya ia mendekati Duna sejak awal. Seharusnya ia langsung menyeret Duna ke pelaminan begitu Duna menyelesaikan masa sekolah. Bodoh sekali dirinya karena terlambat menyadari bahwa ia telah tergila-gila pada wanita di sampingnya ini sejak lama. Ia mengutuk waktu yang terbuang sia-sia hanya untuk memelihara keraguan, membuang energi merajut hubungan tanpa rasa bersama Kamila dan sederet wanita lainnya. Tria menyesal karena baru bertindak nekat setelah badai trauma menghantam Duna hingga berkeping-keping, membuat istrinya itu terus-menerus meragukan keaslian perasaannya.

Sadar sorot mata Tria menelitinya tanpa jeda, Duna mengerlingkan matanya dan berbalik menatap. Di sana, ia menemukan mata Tria yang dipenuhi kilat kasih sayang dan kehangatan yang pekat. Ada sesuatu yang bergejolak hebat, menuntut dilepaskan dari balik belahan bibir pria itu yang masih terkatup rapat.

“Kenapa, Kak?” tanya Duna memecah kesunyian.

Bukannya memberi jawaban verbal, Tria justru meraih punggung tangan Duna, membawanya ke depan bilik bibirnya, lalu mendaratkan sebuah kecupan yang teramat dalam di sana. Duna terkesiap, refleks mengerjapkan matanya berulang kali seiring dengan detak jantungnya yang mendadak berdentum brutal menghantam rongga dada.

Tria menjauhkan tangannya, namun matanya tatapan Duna kian dalam. “Kamu nggak akan pernah tahu... se-tergila-gila apa aku sama kamu, Duna.”

Dada Duna serasa dihantam benda tak kasat mata. Rahangnya nyaris jatuh, mulutnya sedikit terbuka akibat hantaman syok yang luar biasa. Dari sekian juta diksi yang tersusun di dunia, ia tidak pernah memprediksi Tria akan meluncurkan kalimat sefrontal, sejujur, dan se-tak tahu malu itu. Kalimat itu melumpuhkan seluruh fungsi bahasanya; Duna membisu total, tidak mampu memproduksi satu baris sanggahan pun karena kata apa pun akan terdengar teramat remeh dibanding pengakuan Tria barusan.

Seolah kalimatnya tidak baru saja memicu gempa tektonik di dalam dada Duna, Tria kembali melempar pandangannya lurus ke arah jalanan. Ia menginjak pedal gas perlahan saat lampu berganti hijau, mengendalikan kemudi mobil hanya dengan tangan kanannya.

Sementara tangan kirinya? Tetap kokoh menggenggam jemari Duna di atas konsol tengah. Kehangatan yang menjalar dari telapak tangan Tria seketika menyapu bersih seluruh dingin dan ketakutan yang sempat bersarang di benak Duna. Ibu jari Tria bergerak konstan, mengusap punggung tangan Duna dengan ritme lambat yang seolah menyiratkan pesan yang jauh lebih besar dari sekadar kata-kata.

Dan Duna hanya bisa menyerah dalam kebisuan, membiarkan detak jantungnya yang berpacu liar menjadi jawaban mutlak atas segalanya. Dalam keheningan kabin mobil itu, Duna bersumpah di batinnya: ia akan menyerahkan seluruh hidupnya untuk Tria, jauh lebih banyak dari apa yang ia terima hari ini.

***

“Nggak pulang lagi tuh anak,” gumam Tria pelan begitu mereka melangkah masuk ke dalam rumah yang sepi dan gelap gulita.

Duna tahu persis siapa yang sedang Tria bicarakan. Tami. Makin hari, sahabatnya itu makin enggan menunjukkan keberadaannya di rumah ini. Kadang, dada Duna terasa sesak dan tersiksa oleh dugaan bahwa Tami teramat membencinya hingga enggan berada di bawah atap yang sama. Namun, lagi-lagi Duna memilih bungkam. Ia sadar diri. Ia menerima seluruh penolakan itu dengan lapang dada karena merasa dirinya memang pantas mendapatkannya.

Mereka melangkah masuk ke dalam kamar. Tria meletakkan seluruh kantong belanjaan berisi pakaian baru milik Duna di atas sofa.

“Kamu mau mandi duluan?” tawar Tria membuka suara.

Duna mengangguk samar. Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia segera menyambar piyama tidur serta handuknya, lalu melangkah keluar kamar. Di dalam kamar mandi, Duna kembali mematung di hadapan cermin, memandangi pantulan dirinya sendiri.

Penampilannya kini bertransformasi total. Berkat saran Malik, ia akhirnya bisa melihat versi dirinya yang jauh lebih hidup. Untuk pertama kalinya setelah hampir satu dekade berlalu, ia bisa memiliki rambut panjang bergelombang lagi, walau statusnya hanya hair extension. Ia akhirnya bisa mengecap bagaimana rasanya menjadi wanita bebas yang mewarnai rambut, sesuatu yang mustahil bisa ia lakukan jika hidupnya masih dicengkeram oleh kediktatoran sang ayah.

Dan seluruh kebebasan ini mewujud nyata berkat satu nama: Tria.

Duna memejamkan mata rapat-rapat. Memorinya kembali memutar ulang manifesto Tria di dalam mobil tadi. Tentang bagaimana pria itu mengaku tergila-gila padanya. Duna membatin, walau andai saja kalimat itu murni sebuah dusta, walau kelak Tria berbalik arah dan mengatakan ucapan itu hanya sebuah gurauan belaka, Duna bersumpah tidak akan pernah marah ataupun membencinya. Sebab, pengakuan frontal itu adalah untaian kata indah yang bahkan tidak pernah berani ia harapkan untuk didengar oleh telinganya sendiri seumur hidup.

Maka malam ini, di bawah guyuran air, Duna membulatkan tekadnya. Ia akan menjadi lebih egois. Ia akan menunjukkan kepada Tria bahwa dirinya pun telah tergila-gila pada pria itu sejak belasan tahun lalu. Ia akan menyerahkan dirinya jauh lebih dari apa yang telah ia terima selama pernikahan ini.

Duna membersihkan tubuhnya dengan teramat seksama, lalu menyemprotkan parfum beraroma manis ke permukaan kulit dan piyama tidurnya. Ia kembali ke dalam kamar dengan rambut panjang yang tergerai setengah basah.

Tria yang tengah duduk di atas sofa seketika mendongak begitu Duna melangkah masuk. Detik itu juga, indra penciumannya langsung disergap oleh keharuman semerbak yang menguar dari tubuh Duna. Sentuhan aroma itu memaksa Tria menelan ludah dengan susah payah, seiring dengan detak jantungnya yang mendadak berpacu brutal.

“A-aku mandi dulu,” ucap Tria gagap, mendadak kehilangan wibawa tenangnya. Ia buru-buru menyambar handuk dan melarikan diri keluar kamar bagai pencuri yang tertangkap basah.

Lihat selengkapnya