AS NIGHT FALL BY

Arisyifa Siregar
Chapter #34

34. Krisis Diri

“Sayang?” Tria menepuk lengan Duna pelan. “Sayang, bangun,” panggilnya lagi. Cahaya matahari yang terik sudah menembus celah gorden dan menyorot langsung ke atas ranjang, tapi istrinya itu belum juga bergerak.

Sebenarnya, dini hari tadi Tria sempat terbangun dan sadar saat Duna menyelinap kembali ke balik selimut. Saat itu, Tria mengira Duna hanya dari kamar mandi atau mengambil minum di dapur yang dingin. Tapi begitu bangun pagi ini dan mendekatkan wajahnya ke kepala Duna, ia mencium bau asap rokok yang pekat dan getir menempel di helaian rambut panjang istrinya. Tria langsung paham, semalam Duna pasti kembali menyendiri di halaman belakang yang berangin, menyesap rokoknya sambil memikirkan sesuatu yang tidak ia bagi.

Sudah cukup lama Tria tidak mencium aroma tembakau dari tubuh Duna. Kenyataan itu agak memukulnya. Tepat setelah momen intim yang mereka lewati semalam, di saat Tria merasa sangat bahagia hingga tertidur lelap di kasur yang hangat, Duna ternyata terjaga dalam tekanan batin yang nampak berbeda.

Meski begitu, Tria menahan diri untuk tidak langsung menginterogasi. Ia percaya Duna bisa mengatasi dirinya sendiri lebih dari yang ia duga. Keberanian wanita itu semalam sudah melampaui semua ekspektasinya. Jadi, Tria memilih bersabar. Ia percaya perlahan-lahan Duna akan membuka hati dan membagi beban pikirannya. Untuk saat ini, dia cukup menunjukkan kalau dia selalu ada dan sedia mendengarkan. 

“Sayang?” panggilnya sekali lagi, meraba pipi Duna yang terasa agak dingin.

“Emh?” Duna melenguh pendek, kelopak matanya terasa sangat berat dan lengket, digelayuti kantuk Duna sendiri lupa jam berapa tepatnya ia baru kembali ke kamar. Seingatnya, hawa dingin malam sempat membuat jarinya kaku sebelum ia menghabiskan lebih dari empat batang rokok. Setelah dadanya terasa sesak oleh asap, barulah rasa kantuk itu datang.

“Kamu nggak kerja?” tanya Tria lembut.

“Emh?” Duna menoleh sambil mencoba mengumpulkan kesadarannya yang masih buram. “Nggak,” sahutnya dengan suara parau, kembali terpejam. “Aku masih libur.”

“Oh, oke kalau gitu,” Tria mengangguk sambil tersenyum. “Aku berangkat kerja dulu ya, kamu tidur aja lagi.” Tria menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh Duna sampai ke leher, mengecup pipinya sekilas, lalu turun dari kasur dan melangkah keluar dari kamar yang sunyi.

Telinga Duna samar-samar mendengar suara deru mesin mobil Tria yang menyala di halaman depan, kemudian berangsur menjauh dari rumah. Tapi karena rasa kantuknya yang tak bisa ditahan, ia langsung tenggelam lagi ke dalam tidur yang lelap.

Sampai beberapa jam kemudian, getaran kuat disertai dering nyaring dari ponselnya memutus sepi kamar itu. Suaranya terdengar memekakkan telinga. Duna mengaduh, tangannya meraba-raba permukaan seprai yang acak-acakan, mencari keberadaan benda itu yang ternyata terselip di bawah bantal hangat bekas kepala Tria.

“Halo?” Duna menjawab panggilan itu tanpa membuka mata dengan suara serak.

“Neng Duna,” suara yang sangat ia kenal menyahut di seberang telepon, terdengar putus-putus dan gemetar hebat. “Neng... Bu Dahlia masuk rumah sakit.”

Ucapan Bi Marni itu seketika menghempas semua rasa kantuk Duna. Ia langsung menarik kepalanya dari bantal dengan mata membelalak lebar, napasnya tertahan. “Mama? Kenapa, Bi?”

“Serangan jantung, Neng,” sahut Bi Marni diiringi suara tangis yang pecah.

Duna langsung melompat dari kasur hingga selimutnya terlempar ke lantai. Jantungnya mendadak berdegup kencang, memompa adrenalin yang membuat seluruh tubuhnya gemetar karena panik. Tanpa memedulikan penampilannya yang kusut atau rambutnya yang berantakan, ia menyambar tas di atas meja dan berlari kencang keluar kamar. “Di rumah sakit mana, Bi?” tanyanya dengan suara meninggi, terburu-buru membuka pintu depan dan langsung pergi meninggalkan rumah yang mendadak terasa mencekam.

***

Dengan ujung jari yang bergetar hebat, Duna berlari membelah selasar rumah sakit yang dingin, berbaur dengan sayup-sayup bunyi erangan pelan dari bangsal lain. Begitu sampai di lorong tunggu ruang operasi yang temaram, langkahnya tertahan. Ia melihat ayahnya, Bahrain, sedang duduk tegak di kursi besi kelabu dengan kedua tangan terlipat kaku di depan perut.

“Mama kenapa, Pa?” tanya Duna, napasnya tersengal-sengal di bawah lampu neon yang berkedip suram.

Bahrain menoleh. Alih-alih menjawab, sepasang matanya langsung menyalang penuh amarah, memindai penampilan Duna dari atas ke bawah. “Apa-apaan penampilan kamu ini!” protesnya, suaranya menggelegar di lorong yang sunyi itu.

“Pa, yang aku tanya mama kenapa!” tekan Duna, suaranya meninggi, menahan gemuruh di dada.

Ayahnya justru bangkit berdiri dan bertolak pinggang, membuat bayangan tubuhnya menelan sosok Duna. “Benar-benar bikin malu keluarga kamu, ya!” serangnya lagi, mengabaikan raut panik putrinya. “Apa belum cukup bikin malu dengan kelakuanmu dulu? Sekarang berdandan murahan seperti itu. Mau ditaruh mana muka Papa kalau ada kolega yang lihat?”

Napas Duna menderu cepat, dadanya naik turun dengan kasar, dan rahangnya mengatup hingga giginya gemeretak. Kepalanya serasa mau pecah. Di saat ibunya berada di balik pintu logam ruang operasi, tengah mempertaruhkan nyawa di bawah pisau bedah, yang ada di otak pria ini hanya harga diri dan martabat. Sesuatu yang selalu ia junjung lebih tinggi dari apapun, bahkan lebih dari nyawa anak istrinya sendiri.

“Papa pikir karena siapa aku begini?” Duna ganti menyerang, tatapannya menghunjam lurus. “Kalau aja Papa nggak maksa aku buat selalu ikutin ambisi Papa, kalau aja Papa nggak selalu sombong dan keras kepala dengan jalan pikiran sendiri, aku nggak akan sekacau ini!”

Mendengar itu, wajah Bahrain memerah padam. Telapak tangan kekarnya melayang cepat di udara, mengarah ke wajah Duna. Namun sebelum tamparan itu mendarat dan mengulit pipinya, Duna bergerak kilat mencengkram pergelangan tangan ayahnya.

“Aku bukan anak Papa lagi! Sejak aku ninggalin rumah itu, Papa udah nggak punya hak atas diri aku!” Duna menancapkan kuku-kukunya kuat-kuat ke kulit tangan Bahrain, lalu menghempaskannya dengan kasar hingga berayun ke samping.

“Kurang ajar memang kamu, ya!” ujar Bahrain geram, napasnya memburu tua.

Lihat selengkapnya