AS NIGHT FALL BY

Arisyifa Siregar
Chapter #35

35. Penilaian yang kabur

“Arrgh!” Duna mengerang parau, menancapkan sepuluh jarinya ke sela rambut yang mencuat berantakan.

Sudah satu jam ia meringkuk di pojok sofa. Kamar Tria yang gelap total dan berbau maskulin lembut seolah menjadi satu-satunya bunker pelindung tersisa. Tubuhnya terasa remuk redam; dua hari penuh ia terjebak di rumah sakit, terjaga di samping ranjang ibunya yang tak kunjung siuman pascaoperasi. Lambungnya perih mengkerut akibat sisa kopi hitam tanpa makanan padat yang ia minum beberapa jam lalu.

Ia lelah, benar-benar ingin beristirahat. Sialnya, dua butir obat tidur yang ia teguk paksa di dapur tadi justru tidak membawanya lelap. Alih-alih mengantuk, gelombang pusing malah menghantam dinding kepalanya, memicu denyut kaku di sekitar pelipis.

Lalu, bayangan wajah Tami di dapur beberapa menit lalu kembali berputar. Menyuntikkan rasa bersalah yang instan dan pekat.

Setelah berbulan-bulan saling melempar punggung, akhirnya tadi ada kalimat yang keluar lebih dari sekadar basa-basi dingin di antara mereka. Namun, atmosfernya jauh dari kata damai, dan Duna merutuki kebodohannya sendiri.

Tadi, saat Duna sedang menenggak pil di depan dispenser, pintu depan berderit terbuka. Tami melangkah masuk, langsung mematung dengan napas tertahan saat mendapati eksistensinya. Mengingat rentetan kalimat Raina di taman rumah sakit saat itu, Duna menguatkan jemarinya yang gemetar. Ia mencoba membuka mulut, bersiap menumpahkan seluruh rahasia tentang pernikahannya. Namun begitu pandangan mereka bertemu, mata Tami langsung menyipit sinis, memancarkan penolakan yang begitu pekat terhadap kontak mereka.

Alhasil, alih-alih mengurai benang kusut, lidah Duna malah tergelincir parah.

“Katanya lu ketemu Kavi?”

Kalimat itu meluncur begitu saja, dingin dan menghakimi.

Bukannya menjinakkan bom waktu di antara mereka, Duna justru menyeret nama pria yang sejak zaman SMA selalu ia larang untuk didekati sahabatnya itu. Mungkin karena otaknya sudah kepalang korsleting oleh rasa lelah, Duna malah berdiri di sana, menceramahi Tami dengan nada ketus yang mendikte. Tentu saja, Tami menyentak kasar, matanya menyalak dengan binar benci yang menyala sebelum akhirnya menghentakkan kaki masuk ke dalam kamar. (cerita lengkap di ASYEARSGOBY)

Kesempatan emas itu menguap, meninggalkan kerusakan yang jauh lebih parah daripada sebelum ia bertahan diam di hadapan sahabatnya itu. Sekarang, Tami pasti jauh-jauh lebih membencinya.

“Argggh!” Duna kembali mengerang, meremas kepalanya lebih kencang hingga kukunya memutih. Denyut di dahinya kian menyiksa.

“Sayang?”

Sebuah sentuhan mendarat di lengan bawahnya. Hangat dan lembut.

Duna sentak mengangkat wajah, napasnya tertahan. Matanya membelalak mendapati Tria sudah berlutut di hadapannya. Sejak kapan pria itu masuk? Kamar ini begitu sunyi, Duna bahkan tidak mendengar derit pintu atau langkah kaki.

Melihat Duna yang linglung dengan napas memburu, Tria langsung menangkup tangan dingin istrinya, meremasnya lembut. “Kamu kenapa?” tanya Tria, gurat tipis di keningnya mengisyaratkan kecemasan yang mendalam.

Duna bungkam. Suara Tria perlahan meredam gemuruh di kepalanya. Ia tenggelam dalam dua bola mata gelap di depannya, manik mata yang terlalu teduh untuk menampung sosok sekacau dirinya. Hingga detik ini, panggilan 'sayang' yang meluncur dari bibir Tria masih terdengar seperti mimpi.

Perlahan, Duna melepaskan satu tangannya dari cengkeraman Tria, mengangkatnya ragu, lalu mendaratkan telapak tangannya di rahang tegas Tria. Ibu jarinya mengusap kulit hangat di sana, bergerak perlahan hanya untuk memastikan bahwa pria ini nyata, bukan sekadar halusinasi dari efek samping obat tidur.

Jantung Tria berdenyut. Bukan debaran cepat yang panik, melainkan ketukan lambat yang terasa berat di rongga dadanya. Ada sensasi dingin, seperti lapisan kaca tipis yang mendadak merayap dari ulu hati hingga ke ujung jarinya, membuatnya mendadak kaku, takut bergerak dan memecahkan momen rapuh ini. Tatapan mata Duna, cara jemari itu bergetar di pipinya, semuanya sarat akan rasa sakit yang sengaja dikunci rapat.

Tria ingin sekali merengkuh seluruh kerapuhan itu, memindahkannya ke dalam dadanya sendiri agar Duna bisa bernapas lega. Namun, ia tahu ia masih belum punya kuasa penuh atas hati istrinya. Hari-hari di mana ia bisa melihat sudut bibir Duna terangkat, selalu lenyap dalam hitungan jam, berganti dengan topeng datar yang dingin.

Dua hari lalu, saat Tria melangkah masuk ke rumah dan mendapati kamar mereka kosong melompong, seluruh persendiannya sempat lemas. Begitu sambungan teleponnya diangkat dan suara parau Duna berbisik, “Di rumah sakit,” Tria langsung melesat membelah jalanan kota seperti orang gila. Ia mencengkeram kemudi hingga jarinya kaku, mengabaikan batas kecepatan, lalu berlari membelah selasar rumah sakit hingga napasnya tersendat di tenggorokan.

Saat melihat Duna duduk sendirian dengan tatapan kosong di deretan kursi tunggu, Tria melangkah mendekat dengan dada yang bergemuruh takut. Rumah sakit dan Duna tak pernah menjadi kombinasi kata yang menyenangkan untuk Tria.

Namun, begitu Duna mendongak dan berbisik bahwa ibunya sedang dioperasi akibat serangan jantung, Tria justru menghembuskan napas panjang. Ia langsung merengkuh tubuh Duna, mendekapnya erat-erat sembari membisikkan kata syukur di dalam hati karena Duna-nya baik-baik saja.

Tria tahu itu salah. Bagaimana bisa ia merasa lega di saat ibu mertuanya sedang bertaruh nyawa di bawah lampu operasi? Logikanya benar-benar telah lumpuh, dikalahkan oleh obsesi sepihak untuk menjaga Duna tetap utuh. Namun itulah dirinya, pria yang begitu putus asa hanya untuk mengharapkan istrinya baik-baik saja.


Selama dua hari menjaga bangsal, Tria menyaksikan segalanya; bagaimana Duna berulang kali gemetar menahan amarah setiap kali Bahrain datang memaki, bagaimana istrinya itu menolak menyentuh kotak nasi hingga makanannya mendingin, dan bagaimana wanita itu duduk membeku berjam-jam tanpa berpindah tempat. Itulah alasan Tria memaksanya pulang sore ini, agar Duna bisa tidur, agar dia bisa bertarung melawan ayah mertuanya sendirian di rumah sakit.

Namun, dugaannya meleset. Begitu menginjakkan kaki di rumah dan mendapati keberadaan Tami di rumah, firasat Tria langsung memburuk. Dan tadi, saat ia masuk ke kamar, ia mendapati Duna tengah meringkuk meremas kepala, tenggelam begitu dalam ke dalam dunianya sendiri hingga tidak menyadari kehadirannya yang sudah duduk di sisi sofa selama beberapa menit.

Lihat selengkapnya