AS NIGHT FALL BY

Arisyifa Siregar
Chapter #36

36. Tenang Sebelum Badai

Duna berjalan pelan ke arah belakang rumah. Seluruh persendiannya mati rasa, bergerak hanya karena dorongan otomatis yang tak kasat mata. Telapak tangannya menempel pada permukaan pintu kaca yang dingin, mendorongnya pelan tanpa benar-benar menyadari fungsi dari gerakannya sendiri.

Srek. Pintu bergeser, meloloskan embusan udara malam yang langsung menyergap kulitnya dengan rasa dingin yang menggigit. Namun, tubuhnya tidak bereaksi dengan sensasi itu. Ia terus melangkah maju, membiarkan telapak kaki telanjangnya tenggelam di antara bilah-bilah rumput taman yang basah dan licin bekas hujan tadi sore. Setiap langkahnya terasa mengambang, mengabur di batas antara kesadaran yang terkoyak dan kehampaan yang perlahan mencekik jalan napasnya.

Sorot matanya kosong. Jauh lebih kosong dan kelam ketimbang langit malam di atas kepalanya yang menyajikan bentangan gulita tanpa bintang dan bulan. Pandangannya lurus menembus kegelapan, seolah matanya tidak lagi menangkap dimensi dunia ini, melainkan terkunci pada sesuatu yang tak bisa dilihat oleh orang lain. Wajahnya sepucat kain kafan yang mengering di bawah lampu taman yang temaram. Napasnya tersendat, pendek-pendek dan patah, serupa dada seseorang yang mendadak lupa bagaimana cara menghirup oksigen. Di dalam rongga dadanya, jantungnya berdenyut dalam aliran lamban. Begitu lamban dan berat hingga ia bisa bersumpah sempat berhenti bergolak.

Namun, berbanding terbalik dengan tubuhnya yang membeku, isi kepala Duna justru luar biasa bising. Riuh. Memekakkan. Seperti ada ribuan suara yang berteriak serempak dari segala penjuru batinnya, namun tak satupun kalimat yang bisa dimengerti.

Ia memejamkan mata sejenak, mencoba memutus paksa visual dunia luar. Namun, kegelapan di balik kelopak matanya sama sekali tidak menawarkan ketenangan; ruang itu justru menggemakan kembali seluruh luka, rahasia, dan trauma yang selama ini ia pasak sendirian di dasar memori. Kepalanya terasa memuat berton-ton besi, berat dan pening, hingga tubuhnya terasa bukan lagi miliknya. Dunia di sekitarnya seakan melarikan diri, menjauh, dan tidak lagi menyentuh keberadaannya.

Langkahnya terhenti tepat di tepi kolam renang.

Air di hadapannya berkilau tenang, memantulkan sisa cahaya lampu yang redup. Permukaan itu menyajikan gradasi warna biru tua yang sangat dalam, dingin, dan sunyi.

Ia menunduk, menatap ke bawah. Ia tidak menemukan bayangan wajahnya sendiri di sana. Air itu bersih dari pantulan dirinya. Yang ia lihat di bawah sana hanyalah sebuah ruang lapang yang menjanjikan ketenangan. Sebuah tempat di mana semua pekikan bising di otaknya bisa mati seketika. Tempat di mana tubuh berantakannya bisa melarung dan lenyap, seperti yang selama ini selalu ingin ia lakukan diam-diam, perlahan, tanpa perlu menyusahkan atau membebani siapapun lagi di dunia ini.

Kelopak matanya bergerak lambat. Berkedip sekali. Dua kali.

Kemudian, tanpa ada suara kecipak yang keras, tanpa jeritan histeris, bahkan tanpa ada gerakan yang tertangkap udara, seluruh tumpuan tubuh Duna meluruh begitu saja. Ia membiarkan dirinya jatuh lurus ke dalam kolam, seolah dekapan air yang dingin membeku itu adalah satu-satunya pelukan paling jujur dan pantas yang tersisa untuk dirinya.

***

Dua jam lalu, fondasi waras Duna dihantam kenyataan paling pedih dari arah yang tak pernah ia duga.

Tami, sahabat yang sejak hari pernikahanya dengan Tria selalu menunjukkan permusuhan dan kebencian secara terang-terangan, menunjukkan eskalasi kemarahan yang kian pekat beberapa waktu terakhir. Sejak insiden di dapur beberapa hari lalu, saat Duna menembakkan pertanyaan defensif mengenai Kavi dengan kepala yang pusing, Tami hampir tidak pernah menapakkan kaki di rumah.

Gadis itu menghilang berhari-hari, yang belakangan Duna ketahui dari unggahan media sosial bahwa Tami memilih pergi berlibur ke luar kota.

Sekembalinya dari liburan, Tami tampak lebih tenang. Dalam banyak kesempatan dia kelihatan banyak menghabiskan waktu luangnya bersama Julian. Bahkan mendatangi acara baby shower Raina pun, ia didampingi teman kakaknya itu.

Namun rupanya semua itu hanya tenang sebelum badai.

Malam ini, tepat setelah mereka menginjakkan kaki kembali ke rumah selepas acara Raina, bom waktu itu meledak. Tami mengamuk hebat di ruang tengah, menumpahkan seluruh lahar kemarahannya di depan Tria dan dirinya. Rahasia besar yang selama ini dikunci rapat oleh Tria dan Julian, sebuah kebenaran kelam mengenai kronologi hancurnya hubungan Tami dan Kavi lima tahun lalu, akhirnya bocor ke permukaan. Sebuah rahasia yang bahkan Duna sendiri tidak pernah tahu detail rincinya, meski di lubuk hati terdalam, ia selalu sadar bahwa ada campur tangannya dalam benang kusut yang terbakar itu.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah kedekatan mereka, Tami membentak Tria dan Duna dengan suara yang melengking kaku. Seluruh rasa muak dan benci yang ia pendam berbulan-bulan tumpah ruah tanpa saringan. Puncaknya, dengan napas memburu memerah, Tami menyatakan akan angkat kaki dari rumah itu. Ia menolak berada di bawah satu atap yang sama dengan Duna dan Tria karena merasa mual hanya dengan melihat wajah mereka berdua. Ia kemudian menghilang lagi selama beberapa hari.

 (cerita lengkap di ASYEARSGOBY)

Hingga tiga jam lalu, Tami mendadak kembali. Begitu masuk rumah, gadis itu langsung mengunci diri di dalam kamarnya. Dari luar pintu, Duna bisa mendengar bunyi bising geseran lemari dan suara benda-benda yang dimasukkan secara kasar dan terburu-buru.

Duna langsung mematung di depan pintu kayu kamar Tami, berdiri membatu di sana selama hampir satu jam penuh. Dan ketika pintu itu akhirnya berderit terbuka, menampilkan sosok Tami yang menyeret dua koper besar di tangannya, jantung Duna rasanya seperti diremas hingga hancur.

“Lu bener-bener pergi, Tam?” tanya Duna, suaranya bergetar parau, matanya menatap nanar pada sudut koper hitam yang bergesekan dengan lantai.

“Lu kira gue cuma gertak doang?” balas Tami telak. Tatapannya menghujam penuh kebencian yang pekat, sebelum kembali menghentakkan langkah menyeberangi ruang tamu.

Duna buru-buru mengejar dari belakang langkah panik. “Bisa diomongin baik-baik kan, Tam? Nggak usah harus sampai kabur kayak gini, gimanapun juga kita ini keluarga!” Suara Duna meninggi karena panik yang luar biasa. Ia tidak pernah mengira bahwa skenario terburuk hilangnya sang sahabat akan terjadi senyata ini di depan matanya.

Tami mendadak menghentikan langkah di ruang tengah, memutar tubuhnya cepat hingga roda kopernya mencicit keras. Matanya berkilat marah. “Ngomong baik-baik? Emang lu sama Tria pernah ngomong baik-baik dan terbuka sama gue?”

Duna tersentak mundur satu langkah, kalimat Tami menghantam tepat di ulu hatinya seperti pukulan fisik yang telak. Ia memejamkan mata, menahan napas sekejap demi meredam linu yang menjalar di dada. Ia memaksakan dirinya untuk tidak merespons bagian itu. Saat ini, memperbaiki retakan hubungan Tami dan Tria adalah prioritas tertingginya.

Please, nggak usah bahas hal itu dulu, Tam. Sekarang kita lagi bahas masalah lu,” mohon Duna.

Namun Tami justru meloloskan tawa sinis yang terdengar begitu menyakitkan. “Masalah lu nggak perlu dibahas, tapi masalah gue harus?” serangnya dengan emosi yang kian meluap. “Lu bisa nyimpen semuanya dari gue bertahun-tahun tanpa ngerasa perlu jelasin apa-apa tapi gue harus terus terang soal hidup gue ke lu?” Matanya mulai memerah. “Lu pikir lu siapa?”

Lihat selengkapnya