Tria merasa ia telah kehilangan seluruh pegangan hidupnya.
Duna berhasil selamat dari maut. Namun, kalimat itu tidak benar-benar membawa kelegaan di dadanya. Dosis obat penenang yang ditenggak berlebihan berpadu dengan dinginnya air kolam renang kemarin malam, hampir saja merenggut napas wanita itu untuk selamanya.
Duna selamat, raganya ada di sana. Kelopak matanya sudah terbuka sejak subuh tadi, namun seakan hanya jasad kosong yang kini berbaring di atas ranjang rumah sakit. Istrinya itu tidak mengatakan apapun. Ia bahkan seakan enggan membalas tatapan Tria. Setiap kali Tria condong ke depan, wajah Duna akan bergerak lambat, berpaling ke arah lain, melempar pandangannya lurus ke jendela kaca di pojok ruangan yang menampilkan langit kelabu. Tatapannya kosong melompong, seolah menembus dinding bangunan.
Berkali-kali Tria mencoba mengajak bicara. Ia menangkup tangan dingin Duna, mengecup jemarinya, melakukan berbagai upaya kecil agar Duna mau merespons atau menceritakan apa yang terjadi kemarin malam. Namun, semuanya gagal total.
Duna seakan tak lagi berada di sana. Pikirannya seperti sedang mengembara di sebuah dunia yang berbeda, tempat kelam yang terisolasi. Dokter yang memeriksa tadi pagi menyatakan bahwa parameter fisiknya tidak terlalu bermasalah, cairan di paru-parunya sudah berhasil dikeluarkan. Namun, dokter itu juga menggeleng pelan, menyarankan agar masalah kejiwaannya mendapat pemeriksaan lebih lanjut. Karena itulah, siang ini Duna resmi dirujuk ke psikiater.
Setelah beberapa jam bertahan dalam siklus ketidaktahuan yang menyiksa batin, Tria akhirnya terpaksa kembali ke rumah. Langkah kakinya terasa berat saat memasuki kamar tidur mereka, berniat mengambil beberapa pasang baju ganti Duna, perlengkapan mandi, sekalian memungut ponselnya sendiri serta ponsel Duna yang tertinggal di halaman belakang yang basah.
Tepat saat ia sedang melipat sehelai sweater rajut milik Duna dan memasukkannya ke dalam tas jinjing, sebuah getaran memecah keheningan kamar. Ponsel Duna yang tergeletak di atas nakas berbunyi konstan.
Nama 'Raina' berkedip di atas layar.
Tria mematung, menatap benda itu dengan sisa keraguan yang menumpuk. Jemarinya melayang di atas layar, menimbang-nimbang selama beberapa saat, sebelum akhirnya ia menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
“Halo, Raina?” Tria menjatuhkan bobot tubuhnya di pinggir kasur, suaranya terdengar begitu parau dan lelah.
Mendengar suara laki-laki yang menyahut, Raina di seberang telepon sempat terdiam, “Kak Tria?” tanyanya bingung.
“Em, ini Tria... Duna sekarang lagi di rumah sakit,” jelas Tria pendek, menahan intonasi suaranya agar tidak pecah. Ia sengaja menjeda kalimatnya, mendengarkan desah napas terkejut Raina yang tertangkap speaker.
Ia meremas ujung seprai dengan tangan kirinya yang bebas. “Maaf, Raina... kalau aku nggak ngerepotin, boleh aku minta tolong?”
Tria tidak tahu apakah pilihannya kali ini tepat atau justru akan mengoyak keadaan menjadi lebih buruk. Namun, melihat bagaimana kosongnya kamar Tami dan bagaimana keadaan Duna, Tria yakin ada sesuatu yang terjadi di antara kedua sahabat itu kemarin malam.
Dan karena kebetulan Raina yang menghubungi lebih dulu, Tria merasa bisa jadi ini adalah salah satu jalan yang harus ia ambil. Menggunakan Raina sebagai jembatan. Agar Duna mau membuka mulutnya, agar istrinya mau membagi beban batinnya pada seseorang yang ia percayai. Dan mungkin...keadaan bisa jauh lebih baik dari sekarang.
***
“Duna?” sapa Raina lirih begitu mendorong pelan pintu kamar rawat inap.
Mendengar suara yang familier, Duna yang sejak subuh duduk membisu dengan punggung bersandar pada tumpukan bantal, perlahan memutar lehernya. Matanya yang sembab bergerak lambat, beralih dari bentangan jendela kaca ke Raina yang berdiri di ambang pintu. “Raina?”
Melihat respons itu, senyum getir terukir di sudut bibir Tria yang tersembunyi di balik pintu. Dugaan batinnya terbukti; Duna tidak kehilangan kemampuan bicaranya, wanita itu hanya sedang sengaja menghindari interaksi dengannya. Kini, meskipun ada sebongkah rasa bersalah karena telah merepotkan Raina yang sedang mengandung besar hingga harus tergesa-gesa mendatangi rumah sakit, Tria tahu pilihannya tidak keliru.
Meski egonya berteriak ingin segera tahu apa yang sebenarnya terjadi kemarin malam, meskipun rasa penasarannya sudah menumpuk hingga terasa mencekik leher, Tria menahan diri. Menyaksikan mata Duna yang mendadak berkaca-kaca menatap Raina dengan kedalaman kesedihan yang tak terukur, Tria sadar ini bukan tempat miliknya. Untuk saat ini, yang Duna butuhkan bukan tuntutan penjelasannya, melainkan ruang aman.
Tria memilih melangkah mundur, membiarkan derit pintu menutup rapat, meninggalkan kedua wanita itu di dalam ruangan. Hanya berdua. Berharap setelah beban batin Duna terurai di hadapan Raina.
“Lu kenapa, Dun?” Raina langsung memangkas jarak, duduk di tepi ranjang dan menyambar tangan Duna. Remasan jemarinya begitu hangat, kontras dengan kulit Duna yang sedingin es. Mata Raina berkaca-kaca.